FEKDI x IFSE 2026 Dorong Konektivitas Ekosistem Digital
Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia dan Indonesia Fintech Summit & Expo (FEKDI x IFSE) 2026 resmi berakhir setelah berlangsung selama tiga hari di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Sabtu (26/9).
Gelaran yang digagas Bank Indonesia (BI) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI), dan Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) diikuti sekitar 30.000 pengunjung, baik secara daring maupun luring.
Mengusung tema Mempererat Sinergi, Memacu Inovasi, Mencetak Talenta Unggul Berdaya Saing Global untuk Kemajuan Ekonomi Keuangan Digital Nasional, FEKDI x IFSE 2026 menghadirkan lebih dari 30 seminar dan talkshow, melibatkan lebih dari 40 institusi serta 50 ahli dan praktisi ekonomi dan keuangan digital.
Selain forum diskusi, penyelenggara juga mencatat lebih dari 340 agenda business and talent matching. Rangkaian kegiatan itu memperlihatkan bahwa pengembangan ekosistem digital tidak hanya berfokus pada pemanfaatan teknologi, tetapi juga mempertemukan pelaku usaha, pemerintah, industri, dan talenta.
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta, mengatakan rangkaian kegiatan FEKDI x IFSE 2026 menunjukkan transformasi ekonomi dan keuangan digital membutuhkan dukungan yang lebih luas daripada sekadar pembangunan infrastruktur dan inovasi teknologi.
Menurut dia, pengembangan talenta menjadi salah satu faktor penting agar transformasi digital dapat terus berjalan dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
"Sinergi yang terbangun selama Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia dan Indonesia Fintech Summit & Expo 2026 menunjukkan bahwa transformasi ekonomi dan keuangan digital tidak hanya membutuhkan infrastruktur dan inovasi teknologi, tetapi juga membutuhkan talenta-talenta unggul yang mampu menjadi motor penggerak perubahan," ujarnya saat menutup FEKDI x IFSE 2026.
Penguatan sinergi tersebut telah terlihat sejak pembukaan. FEKDI x IFSE 2026 diselenggarakan bersamaan dengan Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Inflasi serta Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD).
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan integrasi agenda tersebut menjadi momentum untuk memperkuat koordinasi pemerintah pusat dan daerah, baik dalam menjaga stabilitas harga maupun mempercepat transformasi digital.
"Ini adalah momentum untuk memperkuat sinergi dan koordinasi antara pusat daerah untuk menjaga stabilitas harga dan mempercepat transformasi digital ke depan," imbuh dia.
Di tengah penguatan koordinasi tersebut, Airlangga menyebut potensi ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai US$100 miliar pada 2025 dan diproyeksikan tumbuh hingga US$300 miliar pada 2030.
Perkembangan ekonomi digital juga mendapat dorongan dari integrasi kawasan. Rencana penandatanganan Digital Economy Framework Agreement tingkat ASEAN pada November mendatang di Manila diharapkan turut memperkuat perkembangan ekonomi digital di kawasan.
Transformasi digital juga tercermin dari perkembangan sistem pembayaran. Gubernur BI, Destry Damayanti, menegaskan komitmen bank sentral untuk terus memodernisasi sistem pembayaran digital, termasuk melalui perluasan akseptasi QRIS dan BI-FAST.
Saat ini, QRIS Antarnegara telah terhubung dengan Malaysia, Thailand, Singapura, Korea Selatan, Jepang, dan Tiongkok. India, Uni Emirat Arab, serta Timor-Leste juga tengah menjajaki kerja sama serupa.
Jumlah pengguna QRIS per Agustus 2026 telah mencapai sekitar 69,32 juta dengan 47,11 juta merchant. Sebanyak 96 persen di antaranya merupakan pelaku UMKM.
Destry menekankan perluasan infrastruktur dan inovasi pembayaran digital harus menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat dan perekonomian.
"Ini adalah dia harus impactful, dia bukan hanya sekadar satu alat kecanggihan tapi harus dampaknya nyata," ujar Destry.
Upaya memperluas konektivitas tersebut kemudian kembali ditunjukkan pada FEKDI x IFSE 2026 melalui penandatanganan nota kesepahaman/Memorandum of Understanding (MoU) antara Bank Indonesia-Banco Central de Timor-Leste (BCTL).
MoU ini bertujuan memperkuat kerja sama di bidang sistem pembayaran dan inovasi keuangan digital. Inisiatif itu diarahkan untuk memperluas ekosistem pembayaran digital regional dan global agar semakin terhubung sekaligus inklusif.
BI juga memperkuat inisiasi Indonesia Travel Pack untuk menjawab kebutuhan transaksi wisatawan mancanegara dari negara-negara yang belum masuk dalam cakupan QRIS Antarnegara untuk memudahkan wisatawan melakukan transaksi selama berada di Indonesia.
Di sektor jasa keuangan, digitalisasi juga terus berkembang dan berperan dalam mendukung aktivitas ekonomi. Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengatakan digitalisasi semakin berperan dalam mendorong produktivitas ekonomi nasional.
Menurutnya, sektor jasa keuangan menjadi penghubung antara inovasi teknologi dan sektor riil. Peran tersebut antara lain terlihat dari upaya memperluas pembiayaan untuk UMKM, perumahan, hilirisasi, dan infrastruktur.
Per Juli 2026, kredit perbankan tercatat tumbuh 13,58 persen secara tahunan menjadi Rp9.135 triliun dengan rasio kecukupan modal sebesar 23,84 persen. Pada periode yang sama, outstanding pinjaman daring mencapai Rp105,63 triliun. Sementara jumlah akun konsumen aset kripto telah melampaui 22,93 juta.
Rangkaian FEKDI x IFSE 2026 juga memberikan ruang bagi generasi muda untuk terlibat dalam penguatan ekosistem pembayaran digital. Pada penutupan acara, BI memberikan penghargaan kepada para pemenang QRIS Jelajah Kuliner Indonesia (QJI) 2026.
Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas kontribusi generasi muda dalam memperluas literasi dan akseptasi pembayaran digital. Di saat yang sama, program tersebut mendorong promosi kekayaan kuliner Nusantara melalui konten digital kreatif.
Dengan demikian, FEKDI x IFSE 2026 tidak hanya menjadi ruang kolaborasi antara BI dengan Kementerian/Lembaga terkait, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan bersama untuk memperkuat ekosistem ekonomi dan keuangan digital melalui inovasi, pengembangan talenta, dan konektivitas.
(rir)