Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) mengusulkan skema pembiayaan alternatif melalui pemanfaatan kredit karbon hasil perdagangan karbon untuk mendanai pembelian bus listrik di Indonesia.
Southeast Asia Director ITDP Gonggomtua Sitanggang mengatakan contoh keberhasilan pemanfaatan kredit karbon untuk pengadaan bus listrik tersebut sudah diterapkan oleh Thailand.
"Karbon kredit ini bisa kita manfaatkan. Di Thailand ini mereka kerja sama dengan Pemerintah Swiss untuk jual beli karbon, di mana dari hasil trading atau karbon kredit tersebut mereka belikan 1.000 bus listrik kalau tidak salah," ujar Gonggomtua dalam acara Evolution Indonesia Forum 2026, Rabu (30/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk merealisasikan hal tersebut, ia menilai harus ada intervensi dan regulasi yang jelas dari pemerintah pusat.
Lihat Juga : |
"Kebijakan dari pemerintah pusat apakah mungkin supaya teman-teman di daerah (dan pelaku) industri bisa tahu arahnya ke mana bisa merencanakan dengan baik dan bisa mengimplementasikan," ujar Gonggomtua.
Selain itu, bentuk intervensi lain yang diperlukan dari pemerintah pusat agar Indonesia memiliki lebih banyak armada bus listrik adalah ketersediaan peta jalan (roadmap) pengadaan yang terukur.
Gonggomtua mencontohkan apabila pemerintah memproyeksikan Indonesia membutuhkan 6 ribu unit bus listrik secara nasional pada 2030, angka kebutuhan agregat tersebut dapat dijadikan daya tawar (leverage) saat bernegosiasi dengan pihak industri.
"Saya butuh 6.000 bus, tolong kasih harga terbaik. Ini bisa dikorelasikan di pemerintahan pusat, misalnya di Jakarta 1.000, di Medan 500, di Bandung berapa, ini bisa jadi salah satu intervensi," ujarnya.
CNN Indonesia menggelar Evolution Forum hari ini, Rabu (30/9) di Studio II di Gedung Transmedia, Jakarta. Mengambil tema Powering Indonesia's Future: Green Cars. Blue Skies, forum dibuka oleh Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza.
Evolution Forum bisa disaksikan di laman Youtube CNN Indonesia dan live streaming di CNNIndonesia.com. Forum terdiri dari dua sesi.
Sesi pertama akan membahas pengembangan energi baru dan terbarukan, teknologi rendah emisi serta peran industri dalam menciptakan kualitas udara yang lebih baik di Indonesia dan mendukung transisi energi Indonesia.
Sesi akan diisi oleh sejumlah narasumber. Mereka adalah;
1. Patia J Monangdo - Pembina Industri Ahli Muda / Ketua Tim Kerja Industri Kendaraan Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) pada Direktorat Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan (IMATAP) Kementerian Perindustrian
2. Handojo K. Setyadi - President Direktor PT Pollux Hotels Group Tbk
3. Suzanty Sitorus - Executive Director ViriyaENB
4. Sim Budiman Setiawan - Chairman Pusat Keterampilan Energi Terbarukan (PKET)
Sementara, sesi kedua membahas perkembangan kendaraan listrik, biofuel, kendaraan komersial rendah emisi, serta kebijakan pemerintah dalam mempercepat transformasi transportasi hijau di Indonesia.
Pembicara sesi kedua adalah:
1. Iman Kartolaksono Reksowardojo - Guru Besar Universitas Pertamina
2. Gonggomtua Sitanggang - Southeast Asia Director Institute for Transportation and Development Policy (ITDP)
3. Achmad Rofiqi - Wakil Ketua Umum Periklindo dan Senior Manager Marketing Communications MA
Diskusi akan mengeksplorasi bagaimana pengembangan sumber energi, inovasi teknologi kendaraan, kesiapan industri, infrastruktur, dan kebijakan dapat saling terhubung dalam membangun ekosistem mobilitas rendah emisi yang semakin luas.