Hashim Buka Potensi Mikroalga Jadi Bahan Bakar Pesawat

tim | CNN Indonesia
Sabtu, 10 Okt 2026 03:45 WIB
Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo mengungkap potensi mikroalga untuk dikembangkan menjadi bahan bakar pesawat. (Foto: REUTERS/Martin Cossarini)
Jakarta, CNN Indonesia --

Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo mengungkap potensi mikroalga (microalgae) untuk dikembangkan menjadi bahan bakar pesawat atau avtur (aviation fuel).

Hashim mengatakan microalgae menarik dikembangkan karena Indonesia memiliki sejumlah unsur yang dibutuhkan untuk produksinya, mulai dari cahaya matahari, lahan, tenaga kerja, hingga karbon dioksida (CO2).

"Saya kira pada saat ini saya masih optimis. Ada beberapa perkembangan lain. Ini ada namanya microalgae. Ini saya pelajarin," ujar Hashim dalam Investor Daily Summit 2026 di Jakarta, Rabu (7/10).

Menurut Hashim, microalgae dapat menjadi sumber aviation fuel. Namun, Hashim memilih menyebutnya sebagai green fuel atau blue fuel dan belum tentu sebagai sustainable aviation fuel (SAF).

"Microalgae ini rupanya bisa menjadi sumber dari avtur. Ya, orang bilang sustainable aviation fuel. Saya berbeda, saya anggap ini green fuel atau blue fuel. Tapi belum tentu sustainable," katanya.

Hashim menjelaskan produksi mikroalga membutuhkan beberapa unsur. Salah satunya adalah cahaya matahari, yang menurutnya cukup melimpah di Indonesia.

"Microalgae ini perlu beberapa unsur. Satu, cahaya matahari. Indonesia punya, banyak negara tidak punya cahaya matahari yang cukup," ujarnya.

Selain itu, produksi microalgae membutuhkan lahan untuk kolam atau tambak serta tenaga kerja.

"Perlu tanah. Karena tanah untuk apa? Ini untuk kolam-kolam, tambak-tambak. Perlu banyak pekerja. Indonesia banyak, banyak negara kaya tidak punya pekerja," ujar Hashim.

Unsur lainnya adalah karbon dioksida. Hashim mengatakan sejumlah ladang minyak dan gas di Indonesia memiliki kandungan CO2 yang dapat dimanfaatkan dalam proses pengembangan microalgae.

"Tapi juga perlu karbon dioksida. Dan ternyata banyak ladang-ladang minyak dan gas di Indonesia mengandung karbon dioksida," tuturnya.

Hashim menjelaskan CO2 tersebut dapat dimasukkan ke kolam yang berisi microalgae dan dipadukan dengan paparan cahaya matahari.

"Nah, ternyata karbon dioksida kalau diinjeksi, diisi ke dalam kolam-kolam di mana ada microalgae, disertai dengan cahaya matahari yang banyak Indonesia punya, dikerjakan, banyak pekerja Indonesia banyak, ini bisa berhasil," katanya.

Selain menghasilkan bahan bakar penerbangan, Hashim mengatakan pengembangan microalgae juga berpotensi menghasilkan produk sampingan berupa pakan ternak dan sumber protein.

Ia juga menyinggung spirulina dan chlorella yang menurutnya dapat dimanfaatkan sebagai suplemen protein.

"Yang ketiga yang namanya spirulina. Spirulina dan chlorella. Saya baru tahu ini enam bulan lalu. Saya baca, masuk Google. Itu apa? Ini adalah additive supplements protein," kata Hashim.

Hashim menilai produk tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan protein dalam negeri sehingga Indonesia tidak perlu bergantung pada impor.

(lau/sfr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK