Suahasil: Kalau Minyak Dunia Naik, Harga BBM di RI Juga Meningkat

CNN Indonesia
Kamis, 01 Okt 2026 13:23 WIB
Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara dalam acara Memorial Lecture Edisi Khusus 100 Tahun Frans Seda di Universitas Atma Jaya, Jakarta Selatan, Kamis (1/10).
Menkeu Suahasil menjelaskan gangguan rantai pasok di Selat Hormuz tersebut secara otomatis memengaruhi harga BBM di Tanah Air. (Foto: CNN Indonesia/Endrapta Ibrahim Pramudhiaz)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara menyoroti dampak lonjakan harga minyak mentah dunia terhadap penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di Indonesia.

Menurut dia, perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di kawasan Selat Hormuz menjadi pemicu meroketnya harga minyak mentah di pasar global. Ketegangan tersebut melumpuhkan jalur pelayaran logistik energi dunia.

"Kapal tanker enggak bisa lewat, minyak dunia suplainya menurun, harganya meningkat," ujar Suahasil dalam acara Memorial Lecture Edisi Khusus 100 Tahun Frans Seda di Universitas Atma Jaya, Jakarta Selatan, Kamis (1/10).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Suahasil menjelaskan gangguan rantai pasok di Selat Hormuz tersebut secara otomatis memengaruhi harga BBM di Tanah Air.

"Kita masuk ke dalam negeri, kalau harga minyak dunia meningkat, yang pasti adalah seyogyanya harga komoditas BBM di dalam negeri, juga meningkat," ujarnya.

Namun, ia menegaskan kenaikan harga BBM tersebut hanya akan menyasar jenis nonsubsidi. Sementara itu, harga BBM bersubsidi dipastikan tetap ditahan.

"Namun, pemerintah Indonesia punya cara yang berbeda.
Kita mengatakan bahwa kita kelola kebutuhan energi dalam negeri. Kita bukan hanya sekedar setiap hari mengikuti harga internasional, tapi kita menjaga beberapa jenis energi dengan harga yang tetap," ujar Suahasil.

Suahasil pun mempersilakan harga BBM nonsubsidi, yang umumnya dikonsumsi oleh kelompok masyarakat berpenghasilan menengah ke atas, dinaikkan karena mengikuti pergerakan harga minyak mentah dunia.

"Beberapa jenis energi yang lain, silakan (naik), terutama jenis-jenis energi yang dikonsumsi oleh kelompok masyarakat yang lebih memiliki penghasilan lebih tinggi," ujar Suahasil.

Ia menilai pemerintah tidak bisa mengelak akan dinamika global yang sekarang sedang terjadi. Langkah menahan harga komoditas bersubsidi tersebut dinilai krusial.

"Enggak bisa ngeles, gejolak global itu kita enggak bisa mengelak. Tapi, kita bisa bersiap dan berjaga-jaga. Berjaga-jaga adalah satu tindakan yang sangat diperlukan," ujar Suahasil.

Harga minyak dunia cenderung stagnan pada perdagangan Kamis (1/10) pagi. Mengutip Reuters, harga minyak Brent naik 12 sen atau 0,1 persen menjadi US$98,15 per barel pada 00.45 GMT. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 7 sen atau 0,1 persen menjadi US$90,35 per barel.

Sementara itu, per 1 Oktober ini, Pertamina Patra Niaga tidak mengubah harga BBM, salah satunya Pertamax di Jakarta yang dibanderol Rp15.950 per liter.

VP Corporate Communication PT Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora mengatakan harga BBM per 1 Oktober ini masih sama seperti bulan sebelumnya.

"Per 1 Oktober harga BBM baik Subsidi dan Non Subsidi masih tetap sama dengan harga per bulan September," ujar Kitty dalam keterangannya.

Kitty menegaskan harga BBM subsidi seperti Pertalite akan sesuai kebijakan pemerintah, yaitu tak akan berubah sampai dengan akhir 2026.

"Adapun untuk BBM Non Subsidi, dengan mempertimbangkan berbagai faktor dan kondisi masyarakat maka sampai saat ini masih diterapkan harga yang sama dengan periode sebelumnya," ujar Kitty.

[Gambas:Youtube]

 

(pta/pta)