BGN Ancam Putus Kerja Sama Yayasan MBG yang Cuma Minta Setoran
Badan Gizi Nasional (BGN) mengancam akan memutus kerja sama dengan yayasan yang dinilai hanya meminta setoran kepada mitra tanpa memiliki andil dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala BGN Sudaryono menjelaskan pihaknya menemukan sejumlah persoalan dalam hubungan antara mitra dan yayasan di beberapa titik.
Salah satunya, terdapat yayasan yang meminta setoran atau potongan kepada mitra meski tidak terlibat dalam penyelenggaraan program MBG
"Pokoknya orang-orang yang tidak ada andil, tidak membina, tidak ikut repot, tidak modal, tidak membina, tidak ikut sibuk, tidak mengawasi, tidak ada andil apapun hanya minta kejar setoran, itu semua akan kita cut off namanya, akan kita amputasi semua," tegas Sudaryono dalam Peresmian SPPG Wilayah 3T dan Prevalensi Stunting Tinggi di 16 Provinsi Indonesia Timur melalui keterangan resmi tertulis, Jumat (2/10).
Sudaryono menjelaskan pihaknya menerima laporan adanya mitra yang diminta memberikan setoran sebesar Rp1.500 hingga Rp2.000 per porsi kepada yayasan.
Dengan demikian, kondisi tersebut dapat berdampak terhadap pelaksanaan MBG, termasuk kualitas menu yang disajikan kepada penerima manfaat.
"Ada mitra, dia dipotong 1.500, ada yang dipotong 2.000, bayangkan! yang terjadi adalah karena dipotong, dia makan menunya itu dikurangi kualitasnya. Ini tidak boleh lagi terjadi," jelasnya.
Ia menerangkan BGN tengah melakukan pembenahan tata kelola program, termasuk memperbarui Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan mitra dan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Pembaruan tersebut dilakukan untuk menghilangkan potongan yang tidak diperlukan serta mencegah adanya yayasan yang merugikan mitra dalam pelaksanaan MBG.
"Pada praktiknya ini kami menemukan satu fakta bahwa mitra sama yayasan ini ada yang kemudian berkonflik. Mitra itu adalah orang yang punya modal, dia membangun dapurnya, keluar biaya. Yayasan itu kemudian tidak nyambung sama mitranya," kata Sudaryono.
Selain itu, BGN juga melakukan sejumlah perbaikan lainnya, yakni mengatur ulang skema insentif yang sebelumnya Rp6 juta per hari menjadi Rp2.000 per porsi.
Kemudian, BGN juga memperjelas jam kerja kepala dapur, menyediakan sejumlah kanal aduan dan laporan, serta melakukan sejumlah perbaikan lainnya.
Sudaryono menegaskan bahwa pembaruan tata kelola tersebut merupakan bagian dari proses perbaikan yang terus dilakukan BGN untuk memperbaiki mekanisme yang dinilai belum optimal sekaligus memperkuat hal-hal yang telah berjalan dengan baik.
"Yang baik kita tambah baik, yang jelek kita perbaiki jadi tambah baik, dan kita terus kita perbaiki, insya Allah," terangnya.
Ia juga mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama mendukung proses pembenahan tersebut. Menurut Sudaryono, perbaikan tata kelola diperlukan agar sumber daya yang tersedia dapat digunakan secara optimal untuk mendukung tujuan utama program.
"Saya mohon dukungan Bapak, Ibu semua, kita menuju MBG yang jauh lebih baik daripada yang sebelumnya," ungkap Sudaryono.
(del/sfr)