ANALISIS

Stimulus Rp31 T: Sekadar Bantalan Daya Beli atau Mesin Pertumbuhan?

Laurent Nabila ZT | CNN Indonesia
Selasa, 06 Okt 2026 07:50 WIB
Para pekerja kantoran di kawasan Thamrin-Sudirman, Jakarta, Kamis, 12 Desember 2024. Pemerintah mengumumkan kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta tahun 2025 sebesar 6,5 persen. Dengan kenaikan ini, UMP Jakarta diproyeksikan naik dari Rp5.0
Bakal Jadi Beban Rutin Jika Tanpa Perbaikan Produktivitas. (Foto: CNN INDONESIA/Safir Makki)

Syafruddin menilai komposisi stimulus menunjukkan tujuan utamanya lebih dekat dengan menjaga daya beli dan mencegah perlambatan ekonomi ketimbang menciptakan lonjakan pertumbuhan baru.

"Komposisi paket menunjukkan tujuan utamanya lebih dekat pada menjaga daya beli dan mencegah perlambatan daripada menciptakan lonjakan pertumbuhan baru," katanya.

Ia menjelaskan efek pertumbuhan tetap dapat muncul, tetapi lebih merupakan dampak lanjutan. Mekanismenya dimulai dari pendapatan bersih masyarakat yang meningkat atau terlindungi, sehingga konsumsi tidak terlalu melemah. Kondisi tersebut kemudian menjaga omzet usaha dan mengurangi tekanan perlambatan ekonomi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara itu, program magang dan vokasi memiliki horizon yang lebih panjang karena dampaknya terhadap produktivitas baru akan terasa apabila berujung pada pekerjaan dan upah yang lebih baik.

Syafruddin menilai besarnya dampak stimulus terhadap perekonomian juga sangat bergantung pada kelompok penerima. Rumah tangga berpendapatan lebih rendah, menurutnya, cenderung membelanjakan porsi stimulus yang lebih besar sehingga ketepatan sasaran akan menentukan besarnya efek pengganda atau multiplier terhadap ekonomi.

Meski demikian, ia menegaskan paket Rp31 triliun tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan struktural seperti rendahnya produktivitas, dominasi pekerjaan informal, dan lemahnya upah riil.

"Paket Rp31 triliun dapat menjawab sebagian masalah masyarakat, terutama tekanan pendapatan, risiko kehilangan pekerjaan, keterampilan, dan keterjangkauan rumah, tetapi skalanya tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan struktural seperti produktivitas rendah, dominasi pekerjaan informal, dan upah riil yang lemah," jelasnya.

Dampak jangka pendek, lanjut Syafruddin, paling mungkin terlihat pada konsumsi pekerja serta sektor yang berkaitan langsung dengan aktivitas masyarakat, seperti ritel, makanan dan minuman, transportasi, jasa lokal, konstruksi, bahan bangunan, hingga pembiayaan perumahan.

Namun, efek tersebut dapat mengecil apabila tambahan pendapatan lebih banyak ditabung, digunakan untuk membayar utang, atau dibelanjakan untuk barang impor.

Karena itu, pemerintah perlu mengukur dampak stimulus melalui indikator seperti tambahan konsumsi, penyerapan peserta magang ke lapangan kerja, peningkatan pekerjaan formal, kenaikan transaksi rumah, hingga biaya fiskal per pekerjaan yang tercipta.

"Stimulus yang sehat harus berfungsi sebagai jembatan menuju pendapatan yang lebih permanen; jika terus diperpanjang tanpa perbaikan produktivitas, ia berubah menjadi beban fiskal rutin," ujarnya.

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P. Sasmita menilai stimulus Rp31 triliun masih diperlukan karena perekonomian menghadapi dua kebutuhan sekaligus, yakni menjaga daya beli masyarakat dan mempertahankan momentum pertumbuhan.

Namun, ia menekankan efektivitas stimulus tidak dapat hanya dilihat dari besarnya anggaran yang dikeluarkan pemerintah.

"Menurut saya stimulus ini masih diperlukan, terutama karena perekonomian kita menghadapi dua kebutuhan sekaligus, yakni menjaga daya beli masyarakat dan mempertahankan momentum pertumbuhan. Tetapi yang penting bukan hanya berapa besar Rp31 triliun dikeluarkan, tapi seberapa tepat sasaran dan seberapa besar multiplier effect-nya terhadap ekonomi," kata Ronny.

Ronny menilai desain paket tersebut lebih kuat sebagai bantalan untuk menjaga daya beli dalam jangka pendek. Namun, pada saat yang sama, stimulus dapat menjadi jembatan menuju pertumbuhan ekonomi pada 2027.

"Kalau melihat desainnya, saya menilai stimulus ini lebih kuat sebagai bantalan untuk menjaga daya beli dalam jangka pendek, tetapi sekaligus diarahkan menjadi jembatan menuju pertumbuhan 2027," ujarnya.

Menurut Ronny, stimulus tersebut dapat membantu masyarakat menghadapi tekanan biaya hidup dan menjaga konsumsi, tetapi belum dapat dianggap sebagai solusi atas persoalan struktural seperti rendahnya produktivitas, penciptaan pekerjaan berkualitas, upah riil, dan daya saing sebagian sektor usaha.

Ia menilai dampak stimulus terhadap perekonomian akan positif apabila dana yang dikeluarkan pemerintah cepat berputar ke konsumsi, produksi, investasi, dan penciptaan lapangan kerja.

Sebaliknya, jika stimulus hanya berhenti sebagai bantuan konsumtif, dampaknya terhadap perekonomian akan cenderung pendek.

"Karena itu, perkaranya bukan berapa triliun yang dibelanjakan, tetapi berapa besar aktivitas ekonomi baru yang berhasil diciptakannya. Stimulus seharusnya membeli waktu sekaligus membangun momentum, bukan hanya menunda masalah," pungkas Ronny.

[Gambas:Youtube]

(pta)

HALAMAN:
1 2