Jakarta, CNN Indonesia -- Kenaikan harga pangan membuat rumah tangga harus semakin cermat mengatur pengeluaran, terutama untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
Saat harga bahan pokok menanjak, menjaga anggaran belanja tetap terkendali menjadi tantangan tersendiri, apalagi jika kenaikan pengeluaran tidak diimbangi dengan bertambahnya pendapatan.
Tanpa perencanaan yang tepat, pengeluaran untuk makanan bisa membengkak, mulai dari kebiasaan berbelanja setiap hari hingga membeli bahan pangan dalam jumlah besar yang justru berakhir terbuang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maka dari itu, saat harga naik tapi gaji tidak ikut naik, kita tidak bisa hanya mengandalkan penghematan saja. Perlu ada strategi belanja, pengelolaan arus kas yang baik, dan menentukan skala prioritas.
Lantas, bagaimana cara mengatur anggaran belanja pangan agar tetap hemat, kebutuhan gizi keluarga terpenuhi, dan pengeluaran tidak jebol di tengah lonjakan harga?
Buat Skala Prioritas
Perencana Keuangan Andy Nugroho menilai pengaturan anggaran sebelum berbelanja diperlukan agar kebutuhan rumah tangga tetap terpenuhi tanpa mengganggu pengeluaran lainnya.
Dengan membuat skala prioritas, seseorang juga dapat mengetahui kebutuhan mana yang harus didahulukan dan berapa dana yang masih bisa dialokasikan untuk membeli bahan pangan.
"Seseorang harus memprioritaskan pengeluaran yang bersifat penting dan wajib seperti bayak cicilan, beli token, biaya SPP anak, dan yang lainnya. Kedua, pengeluaran yang penting namun masih bisa di atur pengeluarannya seperti makan sehari-hari dan transportasi," ujar Andy kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (9/10).
Ia mengingatkan jika tujuan awal adalah belanja pangan maka sebaiknya dana disisihkan sejak awal.
Dengan memisahkan anggaran belanja pangan sejak awal, pengeluaran untuk kebutuhan makan sehari-hari lebih terkontrol. Dana juga sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan keuangan rumah tangga setelah kebutuhan wajib di prioritaskan.
Dengan begitu, belanja pangan tidak menghabiskan anggaran yang seharusnya digunakan untuk membayar cicilan, tagihan listrik, biaya pendidikan anak, maupun kebutuhan penting lainnya.
Jangan Langsung Belanja dalam Jumlah Banyak
Pembelian bahan pangan dalam jumlah besar tidak selalu membuat pengeluaran lebih hemat.
Menurut Andy, pembelian dalam jumlah banyak justru berpotensi merugikan jika seseorang tidak terbiasa memasak, membeli bahan makanan yang cepat busuk atau kedaluwarsa, maupun tidak memiliki tempat penyimpanan yang memadai.
"Kita membeli bahan makanan dalam jumlah banyak, padahal sebenarnya kita males masak," ujar Andy
Selain itu, pembelian dalam jumlah besar yang hanya didasari rasa penasaran untuk mencoba suatu produk juga berisiko membuat pengeluaran membengkak.
Oleh karena itu, jumlah bahan pangan yang dibeli perlu disesuaikan dengan kebutuhan konsumsi keluarga dan kemampuan menyimpan bahan makanan agar tidak terbuang.
[Gambas:Youtube]
Jangan FOMO Ikut Tren dan Promo
Kebiasaan mengikuti tren atau fear of missing out (FOMO) juga dapat membuat uang belanja cepat habis.
Andy menyoroti kebiasaan masyarakat yang membeli makanan dan minuman viral melalui layanan pesan antar, mengikuti tren makanan, hingga tergoda promo diskon sebagai pengeluaran yang sering tidak disadari.
Padahal, pembelian tersebut belum tentu menjadi kebutuhan pokok.
Jika dilakukan berulang kali, pengeluaran kecil untuk jajan dan makanan pesan antar, terutama dengan tambahan ongkos kirim, dapat menumpuk dan mengurangi anggaran untuk kebutuhan pangan sehari-hari.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Jangan Asal Beli hingga Buat Daftar Belanja
Pencatatan pengeluaran menjadi salah satu cara untuk mengetahui ke mana uang belanja digunakan. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jangan Asal Beli, Sesuaikan dengan Kebutuhan
Sebelum berbelanja, masyarakat sebaiknya merencanakan bahan pangan apa saja yang akan dibeli sesuai menu dan kebutuhan keluarga.
Strategi ini membantu menghindari pembelian berulang, bahan makanan yang tidak terpakai, serta makanan yang akhirnya terbuang karena rusak.
Selain itu, Andy mengingatkan bahan pangan bergizi juga tidak selalu harus mahal.
"Untuk memenuhi kebutuhan gizi sebenarnya tidak semahal itu juga, karena ada banyak bahan makanan yang gizinya tinggi namun harganya terjangkau," ujar Andy
Andy mencontohkan tahu, tempe, sayuran, dan telur ayam sebagai pilihan bahan makanan yang relatif terjangkau untuk dipadukan dalam menu sehari-hari.
Karena itu, strategi berhemat sebaiknya tidak hanya berfokus pada pengurangan jumlah makanan, tetapi juga pada pengaturan komposisi menu dan pemilihan bahan pangan yang sesuai dengan anggaran.
Perencana Keuangan Aidil Akbar menyarankan masyarakat membandingkan harga bahan pangan dengan biaya per porsi, bukan sekadar melihat harga jualnya.
Dengan cara tersebut, konsumen dapat mempertimbangkan bahan makanan yang lebih ekonomis tanpa mengabaikan kebutuhan gizi keluarga.
Catat Pengeluaran
Aidil mengingatkan pengeluaran kecil yang tidak dicatat dapat terakumulasi tanpa disadari, mulai dari membeli camilan, kopi, makanan pesan antar, whingga makan di luar rumah.
Pencatatan pengeluaran menjadi salah satu cara untuk mengetahui ke mana uang belanja digunakan.
Menurut Aidil, pencatatan sebaiknya mencakup seluruh pengeluaran terkait pangan, bukan hanya belanja bahan mentah di pasar atau supermarket.
Dengan begitu, keluarga dapat mengetahui pengeluaran mana yang paling banyak menyerap anggaran dan menentukan bagian yang perlu dikendalikan.
Aidil menyarankan masyarakat mencatat seluruh pengeluaran pangan selama 30 hari, kemudian membandingkannya dengan penghasilan bersih dan kewajiban rutin.
Hasil evaluasi tersebut dapat digunakan untuk menetapkan anggaran bulanan yang realistis dan membaginya ke dalam periode belanja mingguan.
"Catat seluruh pengeluaran pangan selama 30 hari, termasuk jajan, pesan antar, kopi, dan makan di luar," ujar Aidil.
Buat Daftar Belanja
Selain mencatat pengeluaran, membuat daftar belanja sebelum pergi ke pasar atau supermarket dapat membantu keluarga berbelanja lebih terarah.
[Gambas:Photo CNN]
Daftar tersebut bisa disusun berdasarkan menu harian, persediaan bahan pangan yang masih tersedia, serta kebutuhan anggota keluarga.
Dengan mengetahui bahan makanan yang dibutuhkan, konsumen dapat mengurangi risiko membeli barang secara spontan atau membeli bahan yang sebenarnya masih tersedia di rumah.
"Dari sisi pengendalian keuangan, saya lebih menyarankan anggaran mingguan dengan pembelian bahan segar sesuai kebutuhan. Dengan cara ini, keluarga mempunyai batas pengeluaran yang jelas tanpa harus membeli semua bahan sekaligus," ujar Aidil.
Aidil juga mengingatkan masyarakat agar mempertimbangkan biaya transportasi ketika membandingkan harga di beberapa tempat. Pasalnya, belanja sedikit demi sedikit belum tentu lebih hemat jika membutuhkan ongkos perjalanan tambahan.