EDUKASI KEUANGAN

Pangan Kian Mahal, Bagaimana Cara Atur Belanja agar Dompet Tak Jebol?

CNN Indonesia
Sabtu, 10 Okt 2026 09:02 WIB
Perencana keuangan membagikan tips berbelanja agar keuangan tetap terjadi di tengah kenaikan harga barang. Ilustrasi. (iStock/Jaka Suryanta).
Jakarta, CNN Indonesia --

Kenaikan harga pangan membuat rumah tangga harus semakin cermat mengatur pengeluaran, terutama untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

Saat harga bahan pokok menanjak, menjaga anggaran belanja tetap terkendali menjadi tantangan tersendiri, apalagi jika kenaikan pengeluaran tidak diimbangi dengan bertambahnya pendapatan.

Tanpa perencanaan yang tepat, pengeluaran untuk makanan bisa membengkak, mulai dari kebiasaan berbelanja setiap hari hingga membeli bahan pangan dalam jumlah besar yang justru berakhir terbuang.

Maka dari itu, saat harga naik tapi gaji tidak ikut naik, kita tidak bisa hanya mengandalkan penghematan saja. Perlu ada strategi belanja, pengelolaan arus kas yang baik, dan menentukan skala prioritas.

Lantas, bagaimana cara mengatur anggaran belanja pangan agar tetap hemat, kebutuhan gizi keluarga terpenuhi, dan pengeluaran tidak jebol di tengah lonjakan harga?

Buat Skala Prioritas

Perencana Keuangan Andy Nugroho menilai pengaturan anggaran sebelum berbelanja diperlukan agar kebutuhan rumah tangga tetap terpenuhi tanpa mengganggu pengeluaran lainnya.

Dengan membuat skala prioritas, seseorang juga dapat mengetahui kebutuhan mana yang harus didahulukan dan berapa dana yang masih bisa dialokasikan untuk membeli bahan pangan.

"Seseorang harus memprioritaskan pengeluaran yang bersifat penting dan wajib seperti bayak cicilan, beli token, biaya SPP anak, dan yang lainnya. Kedua, pengeluaran yang penting namun masih bisa di atur pengeluarannya seperti makan sehari-hari dan transportasi," ujar Andy kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (9/10).

Ia mengingatkan jika tujuan awal adalah belanja pangan maka sebaiknya dana disisihkan sejak awal.

Dengan memisahkan anggaran belanja pangan sejak awal, pengeluaran untuk kebutuhan makan sehari-hari lebih terkontrol. Dana juga sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan keuangan rumah tangga setelah kebutuhan wajib di prioritaskan.

Dengan begitu, belanja pangan tidak menghabiskan anggaran yang seharusnya digunakan untuk membayar cicilan, tagihan listrik, biaya pendidikan anak, maupun kebutuhan penting lainnya.

Jangan Langsung Belanja dalam Jumlah Banyak

Pembelian bahan pangan dalam jumlah besar tidak selalu membuat pengeluaran lebih hemat.

Menurut Andy, pembelian dalam jumlah banyak justru berpotensi merugikan jika seseorang tidak terbiasa memasak, membeli bahan makanan yang cepat busuk atau kedaluwarsa, maupun tidak memiliki tempat penyimpanan yang memadai.

"Kita membeli bahan makanan dalam jumlah banyak, padahal sebenarnya kita males masak," ujar Andy

Selain itu, pembelian dalam jumlah besar yang hanya didasari rasa penasaran untuk mencoba suatu produk juga berisiko membuat pengeluaran membengkak.

Oleh karena itu, jumlah bahan pangan yang dibeli perlu disesuaikan dengan kebutuhan konsumsi keluarga dan kemampuan menyimpan bahan makanan agar tidak terbuang.

Jangan FOMO Ikut Tren dan Promo

Kebiasaan mengikuti tren atau fear of missing out (FOMO) juga dapat membuat uang belanja cepat habis.

Andy menyoroti kebiasaan masyarakat yang membeli makanan dan minuman viral melalui layanan pesan antar, mengikuti tren makanan, hingga tergoda promo diskon sebagai pengeluaran yang sering tidak disadari.

Padahal, pembelian tersebut belum tentu menjadi kebutuhan pokok.

Jika dilakukan berulang kali, pengeluaran kecil untuk jajan dan makanan pesan antar, terutama dengan tambahan ongkos kirim, dapat menumpuk dan mengurangi anggaran untuk kebutuhan pangan sehari-hari.

Bersambung ke halaman berikutnya...

Jangan Asal Beli hingga Buat Daftar Belanja


BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :