Bikin Data Center AI Butuh banyak Air, Seberapa Siap Infrastruktur RI?

CNN Indonesia
Minggu, 11 Okt 2026 07:57 WIB
A drone view shows construction underway on Meta's new data center in Middleton Township, Ohio, U.S., May 13, 2026. REUTERS/Eric Cox/File Photo
Pengembangan pusat data kecerdasan buatan membutuhkan kesiapan infrastruktur pendukung, termasuk ketersediaan air. Ilustrasi. (REUTERS/Eric Cox).
Jakarta, CNN Indonesia --

Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mendorong kebutuhan pusat data (data center) di berbagai negara.

Namun, di balik peluang ekonomi digital tersebut, terdapat beberapa tantangan yang perlu diperhitungkan Indonesia. 

Pasalnya, operasional data center membutuhkan air dan listrik dalam jumlah yang besar, terutama untuk fasilitas yang menggunakan sistem pendingin berbasis penguapan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jika tidak dikelola dengan baik, kebutuhan tersebut dapat berpotensi menambah tekanan terhadap sumber daya air yang juga digunakan masyarakat.

Salah satu persoalan ini juga terlihat dalam proyek data center berbasis AI milik BDx Data Centers senilai Rp3,5 triliun di kawasan Jati Luhut, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Proyek tersebut dihentikan sementara di tengah persoalan perizinan dan sorotan terhadap potensi dampak lingkungannya.

Ahli teknologi pengelolaan lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung (FTSL ITB) Mariana Marselina mengatakan pembangunan data center perlu memperhitungkan dampaknya terhadap lingkungan, mengingat kebutuhan sumber daya yang besar.

"Potensi dampak ekologis yang perlu dikaji antara lain tentu saja terkait penggunaan air untuk sistem pendinginan, kebutuhan energi yang besar, karakteristik air limbah, perubahan tata guna lahan dan limpasan permukaan, kebisingan, panas buangan, serta dampak tidak langsung terhadap masyarakat yang juga bergantung pada sumber daya air yang sama," ujar Marselina kepada CNNIndonesia.com, Kamis (1/10).

Menurut Marselina persoalan air perlu mendapat perhatian khusus karena Waduk Jatiluhur memiliki banyak fungsi, mulai dari penyediaan air baku hingga irigasi. Karena itu, perlu kajian untuk memastikan kebutuhan air data center dapat dipenuhi tanpa mengurangi alokasi bagi masyarakat dan sektor lain, termasuk ketika musim kemarau.

"Kekhawatiran yang timbul (terkait data center) tersebut saya rasa wajar ya dan justru perlu dijawab dengan data. Jangan sampai masyarakat hanya mendapatkan informasi bahwa airnya cukup," tuturnya.

Kebutuhan Air Data Center

Kekhawatiran mengenai konsumsi air data center tersebut tidak hanya ada di Indonesia, namun juga muncul di tingkat global. Studi dari Environmental and Energy Study Institute (EESI) yang diterbitkan pada 2025 menyebut sebuah data center dapat menggunakan hingga 5 juta galon air per hari, atau sekitar 18,9 juta liter.

Peneliti tersebut, Miguel Yanez-Barnuevo, mengatakan jumlah itu setara dengan kebutuhan air sekitar 10 ribu hingga 50 ribu orang.

Dalam penelitiannya, ia juga mengutip laporan yang memperkirakan data center di Amerika Serikat menggunakan 449 juta galon air per hari atau 163,7 miliar galon per tahun pada 2021.

Namun, konsumsi air setiap fasilitas berbeda-beda, bergantung pada beberapa faktor seperti ukuran, lokasi, iklim, suhu ruangan, kepadatan chip, serta teknologi pendingin yang digunakan.

Air untuk operasional data center juga dapat berasal dari air permukaan, air tanah, jaringan perpipaan kota, maupun air daur ulang. Dalam sistem pendingin evaporatif, sebagian air menguap untuk membuang panas dari perangkat.

Yanez-Barnuevo juga menyebut sekitar 80 persen air yang diambil data center umumnya akan menguap, sementara sisanya dibuang ke fasilitas pengolahan air limbah kota.

Meningkatnya penggunaan AI juga turut menjadi perhatian karena prosesan komputasi yang lebih intensif dapat meningkatkan kepadatan chip dan panas yang dihasilkan server.

Kondisi tersebut juga dapat membuat kebutuhan pendinginan perlu diperhitungkan sejak tahap perencanaan fasilitas.

Meski demikian, besarnya konsumsi air tidak dapat disamaratakan untuk seluruh data center. CEO Amazon Web Services Matt Garman, misalnya, membantah anggapan bahwa semua fasilitas menggunakan hingga 5 juta galon air per hari.

Garman menyebut rata-rata data center menggunakan sekitar 170 ribu galon air per hari, sedangkan fasilitas Amazon rata-rata menggunakan kurang dari 13 ribu galon per hari.

Ia juga mengatakan penggunaan air langsung data center hanya sekitar 0,5 persen dari total penggunaan air industri langsung di Amerika Serikat.

Perbedaan angka tersebut menunjukkan pentingnya melihat jenis fasilitas dan metode pendinginan yang digunakan sebelum menarik kesimpulan mengenai dampak konsumsi air data center.

Bersambung ke halaman berikutnya...

Tantangan Infrastruktur hingga Kesiapan Aturan BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2