Bikin Data Center AI Butuh banyak Air, Seberapa Siap Infrastruktur RI?
CNN Indonesia
Minggu, 11 Okt 2026 07:57 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Pengembangan pusat data kecerdasan buatan membutuhkan kesiapan infrastruktur pendukung, termasuk ketersediaan air. Ilustrasi. (REUTERS/Eric Cox).
Jakarta, CNN Indonesia --
Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mendorong kebutuhan pusat data (data center) di berbagai negara.
Namun, di balik peluang ekonomi digital tersebut, terdapat beberapa tantangan yang perlu diperhitungkan Indonesia.
Pasalnya, operasional data center membutuhkan air dan listrik dalam jumlah yang besar, terutama untuk fasilitas yang menggunakan sistem pendingin berbasis penguapan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika tidak dikelola dengan baik, kebutuhan tersebut dapat berpotensi menambah tekanan terhadap sumber daya air yang juga digunakan masyarakat.
Salah satu persoalan ini juga terlihat dalam proyek data center berbasis AI milik BDx Data Centers senilai Rp3,5 triliun di kawasan Jati Luhut, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Proyek tersebut dihentikan sementara di tengah persoalan perizinan dan sorotan terhadap potensi dampak lingkungannya.
Ahli teknologi pengelolaan lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung (FTSL ITB) Mariana Marselina mengatakan pembangunan data center perlu memperhitungkan dampaknya terhadap lingkungan, mengingat kebutuhan sumber daya yang besar.
"Potensi dampak ekologis yang perlu dikaji antara lain tentu saja terkait penggunaan air untuk sistem pendinginan, kebutuhan energi yang besar, karakteristik air limbah, perubahan tata guna lahan dan limpasan permukaan, kebisingan, panas buangan, serta dampak tidak langsung terhadap masyarakat yang juga bergantung pada sumber daya air yang sama," ujar Marselina kepada CNNIndonesia.com, Kamis (1/10).
Menurut Marselina persoalan air perlu mendapat perhatian khusus karena Waduk Jatiluhur memiliki banyak fungsi, mulai dari penyediaan air baku hingga irigasi. Karena itu, perlu kajian untuk memastikan kebutuhan air data center dapat dipenuhi tanpa mengurangi alokasi bagi masyarakat dan sektor lain, termasuk ketika musim kemarau.
"Kekhawatiran yang timbul (terkait data center) tersebut saya rasa wajar ya dan justru perlu dijawab dengan data. Jangan sampai masyarakat hanya mendapatkan informasi bahwa airnya cukup," tuturnya.
Kekhawatiran mengenai konsumsi air data center tersebut tidak hanya ada di Indonesia, namun juga muncul di tingkat global. Studi dari Environmental and Energy Study Institute (EESI) yang diterbitkan pada 2025 menyebut sebuah data center dapat menggunakan hingga 5 juta galon air per hari, atau sekitar 18,9 juta liter.
Peneliti tersebut, Miguel Yanez-Barnuevo, mengatakan jumlah itu setara dengan kebutuhan air sekitar 10 ribu hingga 50 ribu orang.
Dalam penelitiannya, ia juga mengutip laporan yang memperkirakan data center di Amerika Serikat menggunakan 449 juta galon air per hari atau 163,7 miliar galon per tahun pada 2021.
Namun, konsumsi air setiap fasilitas berbeda-beda, bergantung pada beberapa faktor seperti ukuran, lokasi, iklim, suhu ruangan, kepadatan chip, serta teknologi pendingin yang digunakan.
Air untuk operasional data center juga dapat berasal dari air permukaan, air tanah, jaringan perpipaan kota, maupun air daur ulang. Dalam sistem pendingin evaporatif, sebagian air menguap untuk membuang panas dari perangkat.
Yanez-Barnuevo juga menyebut sekitar 80 persen air yang diambil data center umumnya akan menguap, sementara sisanya dibuang ke fasilitas pengolahan air limbah kota.
Meningkatnya penggunaan AI juga turut menjadi perhatian karena prosesan komputasi yang lebih intensif dapat meningkatkan kepadatan chip dan panas yang dihasilkan server.
Kondisi tersebut juga dapat membuat kebutuhan pendinginan perlu diperhitungkan sejak tahap perencanaan fasilitas.
Meski demikian, besarnya konsumsi air tidak dapat disamaratakan untuk seluruh data center. CEO Amazon Web Services Matt Garman, misalnya, membantah anggapan bahwa semua fasilitas menggunakan hingga 5 juta galon air per hari.
Garman menyebut rata-rata data center menggunakan sekitar 170 ribu galon air per hari, sedangkan fasilitas Amazon rata-rata menggunakan kurang dari 13 ribu galon per hari.
Ia juga mengatakan penggunaan air langsung data center hanya sekitar 0,5 persen dari total penggunaan air industri langsung di Amerika Serikat.
Perbedaan angka tersebut menunjukkan pentingnya melihat jenis fasilitas dan metode pendinginan yang digunakan sebelum menarik kesimpulan mengenai dampak konsumsi air data center.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Tantangan Infrastruktur
Di Indonesia, pemerintah melihat pengembangan data center sebagai bagian penting dari perkembangan industri digital dan AI. Namun, ekspansi tersebut juga membutuhkan kesiapan infrastruktur pendukung.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan ada tiga syarat utama agar Indonesia dapat menjadi basis industri data center, yakni ketersediaan lahan, listrik, dan air.
"Kuncinya adalah ketersediaan lahan, ketersediaan listrik, dan ketersediaan air," kata Airlangga dalam keynote speech pada acara BIG Downstream Insights 2026 di Jakarta, Selasa (6/10).
Menurut Airlangga, kebutuhan data center meningkat seiring persaingan negara-negara dalam mengembangkan industri AI. Indonesia dinilai memiliki peluang untuk menangkap pertumbuhan tersebut melalui pengembangan kawasan khusus dan penguatan infrastruktur.
Salah satu kawasan yang disiapkan adalah kawasan ekonomi khusus (KEK) digital di Bintan, Kepulauan Riau. Airlangga mengatakan kawasan tersebut telah penuh atau sold out, sehingga pemerintah menyiapkan ekspansi untuk menampung kebutuhan investasi.
Selain Bintan, pemerintah juga menyiapkan pengembangan kawasan data center di Karawang, Jawa Barat. Pemerintah turut memperkuat kapasitas listrik nasional, dengan tambahan kapasitas yang disebut dapat mencapai sekitar 500 megawatt dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
Namun, kesiapan listrik dan lahan saja tidak cukup. Ketersediaan air perlu dihitung berdasarkan kebutuhan operasional data center serta kebutuhan masyarakat dan sektor lain di wilayah yang sama.
Ketua Dewan Direktur Indonesia Economic Forum Dradjad Wibowo juga menilai Indonesia tidak bisa mengabaikan perkembangan AI karena teknologi tersebut akan semakin menentukan daya saing ekonomi dan teknologi suatu negara.
"Seperti yang saya sampaikan tadi, teknologi baru itu selalu ada tantangan, ada dua sisi. Salah satu sisinya itu memang masalah air, masalah energi. Butuh energi banyak, butuh air banyak," ujarnya.
Meski melihat AI merupakan sebagai bagian dari perkembangan teknologi masa depan, Dradjad belum memerinci solusi yang tengah disiapkan pemerintah untuk mengatasi kebutuhan air dan energi. Ia mengatakan akan membahas lebih lanjut persoalan tersebut setelah mulai menjalankan tugasnya.
Pengkampanye Isu Perkotaan dan Kebijakan Tata Ruang WALHI Wahyu Eka Setyawan menilai pengembangan data center perlu diiringi aturan yang memastikan kepatuhan terhadap ketentuan lingkungan dan pengawasan yang lebih ketat.
"Proyek data center ini kebutuhan juga ancaman, makanya harus diregulasi. Dilematis memang. Makanya jangan buru-buru membuka investasi. Harus dicek daya tampung dan daya dukung. Harus dicek kesiapan sistem dan teknologi. Itu yang perlu diatur," ujar Wahyu kepada CNNIndonesia.com, Rabu (30/9).
Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai proyek data center, misalnya di Jatiluhur, perlu disertai analisis neraca air dan simulasi operasi waduk dengan memasukkan kebutuhan fasilitas tersebut sebagai pengguna air baru.
Kajian itu perlu menghitung jumlah air yang diambil, air yang menguap selama operasional, volume air buangan dari sistem pendingin, serta potensi penggunaan kembali air tersebut.
Selain kuantitas, kualitas air yang akan digunakan dan air buangan juga perlu diperiksa agar operasional data center tidak menimbulkan dampak terhadap lingkungan perairan.
Dari sisi regulasi, Mariana juga menegaskan pembangunan data center harus memenuhi ketentuan perlindungan lingkungan dan tata ruang yang berlaku.
Di antaranya, Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup serta Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang.
Ia juga mendorong penggunaan teknologi yang lebih efisien, seperti sistem pendinginan tertutup (closed-loop), pendinginan imersi, pendinginan udara, dan pemanfaatan air daur ulang.
Menurut Mariana, pembangunan fasilitas tersebut perlu dilakukan secara bertahap berdasarkan dari hasil evaluasi daya dukung dan daya tampung lingkungan.
Dengan begitu, kapasitas data center tidak hanya ditentukan oleh kebutuhan bisnis dan listrik, tetapi juga kemampuan sumber daya air di wilayah tersebut.
"Jadi bukan hanya menentukan kapasitas maksimum data center dari sisi bisnis dan listrik, tetapi juga menentukan apakah kapasitas tersebut masih dapat ditopang oleh sumber daya air dan lingkungan setempat," tegasnya.
Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mendorong kebutuhan pusat data (data center) di berbagai negara.
Namun, di balik peluang ekonomi digital tersebut, terdapat beberapa tantangan yang perlu diperhitungkan Indonesia.
Pasalnya, operasional data center membutuhkan air dan listrik dalam jumlah yang besar, terutama untuk fasilitas yang menggunakan sistem pendingin berbasis penguapan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika tidak dikelola dengan baik, kebutuhan tersebut dapat berpotensi menambah tekanan terhadap sumber daya air yang juga digunakan masyarakat.
Salah satu persoalan ini juga terlihat dalam proyek data center berbasis AI milik BDx Data Centers senilai Rp3,5 triliun di kawasan Jati Luhut, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Proyek tersebut dihentikan sementara di tengah persoalan perizinan dan sorotan terhadap potensi dampak lingkungannya.
Ahli teknologi pengelolaan lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung (FTSL ITB) Mariana Marselina mengatakan pembangunan data center perlu memperhitungkan dampaknya terhadap lingkungan, mengingat kebutuhan sumber daya yang besar.
"Potensi dampak ekologis yang perlu dikaji antara lain tentu saja terkait penggunaan air untuk sistem pendinginan, kebutuhan energi yang besar, karakteristik air limbah, perubahan tata guna lahan dan limpasan permukaan, kebisingan, panas buangan, serta dampak tidak langsung terhadap masyarakat yang juga bergantung pada sumber daya air yang sama," ujar Marselina kepada CNNIndonesia.com, Kamis (1/10).
Menurut Marselina persoalan air perlu mendapat perhatian khusus karena Waduk Jatiluhur memiliki banyak fungsi, mulai dari penyediaan air baku hingga irigasi. Karena itu, perlu kajian untuk memastikan kebutuhan air data center dapat dipenuhi tanpa mengurangi alokasi bagi masyarakat dan sektor lain, termasuk ketika musim kemarau.
"Kekhawatiran yang timbul (terkait data center) tersebut saya rasa wajar ya dan justru perlu dijawab dengan data. Jangan sampai masyarakat hanya mendapatkan informasi bahwa airnya cukup," tuturnya.
Kekhawatiran mengenai konsumsi air data center tersebut tidak hanya ada di Indonesia, namun juga muncul di tingkat global. Studi dari Environmental and Energy Study Institute (EESI) yang diterbitkan pada 2025 menyebut sebuah data center dapat menggunakan hingga 5 juta galon air per hari, atau sekitar 18,9 juta liter.
Peneliti tersebut, Miguel Yanez-Barnuevo, mengatakan jumlah itu setara dengan kebutuhan air sekitar 10 ribu hingga 50 ribu orang.
Dalam penelitiannya, ia juga mengutip laporan yang memperkirakan data center di Amerika Serikat menggunakan 449 juta galon air per hari atau 163,7 miliar galon per tahun pada 2021.
Namun, konsumsi air setiap fasilitas berbeda-beda, bergantung pada beberapa faktor seperti ukuran, lokasi, iklim, suhu ruangan, kepadatan chip, serta teknologi pendingin yang digunakan.
Air untuk operasional data center juga dapat berasal dari air permukaan, air tanah, jaringan perpipaan kota, maupun air daur ulang. Dalam sistem pendingin evaporatif, sebagian air menguap untuk membuang panas dari perangkat.
Yanez-Barnuevo juga menyebut sekitar 80 persen air yang diambil data center umumnya akan menguap, sementara sisanya dibuang ke fasilitas pengolahan air limbah kota.
Meningkatnya penggunaan AI juga turut menjadi perhatian karena prosesan komputasi yang lebih intensif dapat meningkatkan kepadatan chip dan panas yang dihasilkan server.
Kondisi tersebut juga dapat membuat kebutuhan pendinginan perlu diperhitungkan sejak tahap perencanaan fasilitas.
Meski demikian, besarnya konsumsi air tidak dapat disamaratakan untuk seluruh data center. CEO Amazon Web Services Matt Garman, misalnya, membantah anggapan bahwa semua fasilitas menggunakan hingga 5 juta galon air per hari.
Garman menyebut rata-rata data center menggunakan sekitar 170 ribu galon air per hari, sedangkan fasilitas Amazon rata-rata menggunakan kurang dari 13 ribu galon per hari.
Ia juga mengatakan penggunaan air langsung data center hanya sekitar 0,5 persen dari total penggunaan air industri langsung di Amerika Serikat.
Perbedaan angka tersebut menunjukkan pentingnya melihat jenis fasilitas dan metode pendinginan yang digunakan sebelum menarik kesimpulan mengenai dampak konsumsi air data center.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Tantangan Infrastruktur hingga Kesiapan Aturan
Pengembangan pusat data kecerdasan buatan membutuhkan kesiapan infrastruktur pendukung, termasuk ketersediaan air. Ilustrasi. (istockphoto/Wasan Longthara).
Tantangan Infrastruktur
Di Indonesia, pemerintah melihat pengembangan data center sebagai bagian penting dari perkembangan industri digital dan AI. Namun, ekspansi tersebut juga membutuhkan kesiapan infrastruktur pendukung.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan ada tiga syarat utama agar Indonesia dapat menjadi basis industri data center, yakni ketersediaan lahan, listrik, dan air.
"Kuncinya adalah ketersediaan lahan, ketersediaan listrik, dan ketersediaan air," kata Airlangga dalam keynote speech pada acara BIG Downstream Insights 2026 di Jakarta, Selasa (6/10).
Menurut Airlangga, kebutuhan data center meningkat seiring persaingan negara-negara dalam mengembangkan industri AI. Indonesia dinilai memiliki peluang untuk menangkap pertumbuhan tersebut melalui pengembangan kawasan khusus dan penguatan infrastruktur.
Salah satu kawasan yang disiapkan adalah kawasan ekonomi khusus (KEK) digital di Bintan, Kepulauan Riau. Airlangga mengatakan kawasan tersebut telah penuh atau sold out, sehingga pemerintah menyiapkan ekspansi untuk menampung kebutuhan investasi.
Selain Bintan, pemerintah juga menyiapkan pengembangan kawasan data center di Karawang, Jawa Barat. Pemerintah turut memperkuat kapasitas listrik nasional, dengan tambahan kapasitas yang disebut dapat mencapai sekitar 500 megawatt dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
Namun, kesiapan listrik dan lahan saja tidak cukup. Ketersediaan air perlu dihitung berdasarkan kebutuhan operasional data center serta kebutuhan masyarakat dan sektor lain di wilayah yang sama.
Ketua Dewan Direktur Indonesia Economic Forum Dradjad Wibowo juga menilai Indonesia tidak bisa mengabaikan perkembangan AI karena teknologi tersebut akan semakin menentukan daya saing ekonomi dan teknologi suatu negara.
"Seperti yang saya sampaikan tadi, teknologi baru itu selalu ada tantangan, ada dua sisi. Salah satu sisinya itu memang masalah air, masalah energi. Butuh energi banyak, butuh air banyak," ujarnya.
Meski melihat AI merupakan sebagai bagian dari perkembangan teknologi masa depan, Dradjad belum memerinci solusi yang tengah disiapkan pemerintah untuk mengatasi kebutuhan air dan energi. Ia mengatakan akan membahas lebih lanjut persoalan tersebut setelah mulai menjalankan tugasnya.
Pengkampanye Isu Perkotaan dan Kebijakan Tata Ruang WALHI Wahyu Eka Setyawan menilai pengembangan data center perlu diiringi aturan yang memastikan kepatuhan terhadap ketentuan lingkungan dan pengawasan yang lebih ketat.
"Proyek data center ini kebutuhan juga ancaman, makanya harus diregulasi. Dilematis memang. Makanya jangan buru-buru membuka investasi. Harus dicek daya tampung dan daya dukung. Harus dicek kesiapan sistem dan teknologi. Itu yang perlu diatur," ujar Wahyu kepada CNNIndonesia.com, Rabu (30/9).
Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai proyek data center, misalnya di Jatiluhur, perlu disertai analisis neraca air dan simulasi operasi waduk dengan memasukkan kebutuhan fasilitas tersebut sebagai pengguna air baru.
Kajian itu perlu menghitung jumlah air yang diambil, air yang menguap selama operasional, volume air buangan dari sistem pendingin, serta potensi penggunaan kembali air tersebut.
Selain kuantitas, kualitas air yang akan digunakan dan air buangan juga perlu diperiksa agar operasional data center tidak menimbulkan dampak terhadap lingkungan perairan.
Dari sisi regulasi, Mariana juga menegaskan pembangunan data center harus memenuhi ketentuan perlindungan lingkungan dan tata ruang yang berlaku.
Di antaranya, Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup serta Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang.
Ia juga mendorong penggunaan teknologi yang lebih efisien, seperti sistem pendinginan tertutup (closed-loop), pendinginan imersi, pendinginan udara, dan pemanfaatan air daur ulang.
Menurut Mariana, pembangunan fasilitas tersebut perlu dilakukan secara bertahap berdasarkan dari hasil evaluasi daya dukung dan daya tampung lingkungan.
Dengan begitu, kapasitas data center tidak hanya ditentukan oleh kebutuhan bisnis dan listrik, tetapi juga kemampuan sumber daya air di wilayah tersebut.
"Jadi bukan hanya menentukan kapasitas maksimum data center dari sisi bisnis dan listrik, tetapi juga menentukan apakah kapasitas tersebut masih dapat ditopang oleh sumber daya air dan lingkungan setempat," tegasnya.