ANALISIS

Ekonomi Vietnam Terus Meroket, Mengapa Indonesia Bisa Tertinggal?

Laurent Nabila ZT | CNN Indonesia
Selasa, 13 Okt 2026 07:35 WIB
Karyawan menuju kantor saat pagi di kawasan Sudirman, Jakarta, Senin, 8 April 2019. CNNIndonesia/Safir Makki
Peluang RI Kejar Ketertinggalan. (Foto: CNNIndonesia/Safir Makki)

Meski demikian, Syafruddin menilai Indonesia tetap memiliki keunggulan, yakni pasar domestik yang besar dan kekayaan sumber daya alam. Keunggulan tersebut dapat dikembangkan untuk menarik investasi di sektor baterai, energi hijau, pangan, ekonomi digital, jasa keuangan, dan pariwisata.

Namun, keunggulan tersebut perlu diterjemahkan menjadi peningkatan produktivitas dan kapasitas industri agar memberikan dampak lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi.

"Jika tidak, keunggulan besar hanya menjadi bantalan, bukan mesin akselerasi," katanya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P. Sasmita menilai Vietnam mampu memosisikan diri sebagai basis manufaktur global, khususnya untuk produk elektronik dan teknologi, di tengah pergeseran rantai pasok internasional.

"Vietnam lebih konsisten membangun diri sebagai basis manufaktur global, terutama elektronik dan produk teknologi, dengan memanfaatkan relokasi rantai pasok internasional," ujar Ronny.

Pada 2025, ekonomi Vietnam tumbuh sekitar 8 persen, ekspornya meningkat 16,7 persen, dan realisasi investasi asing langsung (FDI) mencapai US$27,6 miliar. Perdagangan barang dan jasa negara tersebut juga setara hampir 190 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Meski demikian, Ronny mengingatkan tingginya ekspor tidak otomatis berarti seluruh nilai tambah dihasilkan di dalam negeri. Vietnam tetap perlu memperkuat pemasok lokal, penguasaan teknologi, dan keterkaitan investasi dengan industri domestik.

Menurutnya, Indonesia perlu memperbaiki kepastian regulasi, efisiensi logistik, produktivitas tenaga kerja, serta kemampuan pemasok lokal agar lebih kompetitif dalam menarik investasi manufaktur.

"Karena itu, pekerjaan rumah Indonesia adalah menghubungkan pasar domestik, sumber daya alam, tenaga kerja, teknologi, dan akses pasar internasional ke dalam satu strategi industrialisasi yang konsisten," terangnya.

Ia juga menilai hilirisasi nikel belum otomatis membuat Indonesia menguasai industri bernilai tambah tinggi, seperti elektronik, mesin, dan komponen.

Karena itu, kebijakan hilirisasi perlu disertai pengembangan industri lanjutan, pendidikan vokasi, riset dan pengembangan, serta transfer teknologi.

Ronny menekankan keberhasilan investasi tidak cukup diukur dari besarnya modal yang masuk. Pemerintah juga perlu memperhatikan kontribusinya terhadap ekspor, nilai tambah domestik, produktivitas, dan penciptaan lapangan kerja formal.

"Daya saing investasi Indonesia harus dibangun dari keseluruhan ekosistem usaha, bukan hanya melalui pemberian insentif atau promosi proyek," jelas Ronny.

Indonesia, lanjutnya, tetap memiliki modal berupa pasar domestik yang besar, sumber daya alam, potensi energi terbarukan, serta posisi strategis di kawasan ASEAN. Namun, keunggulan tersebut perlu didukung strategi industrialisasi yang konsisten.

"Indonesia tidak perlu menyalin Vietnam secara mentah. Kita perlu belajar dari konsistensi mereka membangun manufaktur ekspor, mempercepat integrasi dengan rantai pasok global, dan menjaga daya tarik investasi," pungkas Ronny.

[Gambas:Youtube]

(pta)

HALAMAN:
1 2