Menko Pangan Ajak Jaga Ketahanan Pangan Lewat Sungai dan Mangrove
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas) mengajak pemerintah, komunitas, akademisi, dunia usaha, dan mitra pembangunan bekerja bersama mencegah sampah dari hulu agar tidak mencemari pesisir dan laut.
Ajakan itu disampaikan Zulhas dalam Aksi Bersih Mangrove dan Kick-off Program Sungai Lestari di Bali, Jumat (16/10). Kegiatan ini menghubungkan pemulihan kawasan mangrove dengan pencegahan kebocoran sampah dari daratan, termasuk sampah plastik yang terbawa aliran sungai menuju laut.
"Mangrove adalah aset strategis nasional. Ekosistem ini melindungi pesisir dan keanekaragaman hayati, menopang ekonomi masyarakat, serta menyerap dan menyimpan karbon untuk mitigasi perubahan iklim. Karena itu, aksi hari ini harus melampaui kegiatan bersih-bersih. Kita perlu mencegah kebocoran sampah sejak dari sumbernya, termasuk sampah yang terbawa melalui sungai menuju laut," tutur Zulhas.
Zulhas menjelaskan, upaya menjaga mangrove tidak dapat berdiri sendiri. Pencegahan sampah di darat dan sungai perlu berjalan seiring dengan perlindungan ekosistem pesisir.
Pendekatan dari hulu hingga hilir juga membantu menjaga sumber daya alam yang menopang perikanan, ekonomi masyarakat pesisir, dan ketahanan pangan.
Untuk itu, Kemenko Pangan bersama United Nations Development Programme (UNDP) meluncurkan Program Sungai Lestari di Denpasar dan Badung. Program yang dijalankan di lima lokasi kabupaten/kota di Indonesia ini bertujuan mengurangi kebocoran sampah dari sungai menuju laut, serta mendorong peningkatan kesadaran dan perubahan perilaku masyarakat.
Zulhas pun menyampaikan apresiasi kepada UNDP Indonesia atas dukungan dalam penanganan sampah sungai. Ia juga mengapresiasi Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia (ISOI), khususnya Ketua Umum ISOI Nani Hendiarti, yang menyelenggarakan aksi bersih tersebut dalam rangka Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) XXII ISOI di Bali.
Menurutnya, keberlanjutan program membutuhkan keterlibatan pemerintah pusat dan daerah, komunitas, akademisi, dunia usaha, serta mitra pembangunan. Sebagai destinasi wisata dunia, Bali dapat menjadi contoh pengelolaan sampah yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Pembangunan infrastruktur pengolahan sampah, termasuk Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL), menjadi bagian dari upaya tersebut. Zulhas mengingatkan, infrastruktur perlu didukung kedisiplinan, perubahan perilaku, dan partisipasi aktif masyarakat agar sampah dapat dicegah dan dikelola secara berkelanjutan.
"Menjaga mangrove berarti menjaga pesisir, ekonomi masyarakat, dan iklim. Melalui Program Sungai Lestari, kita mendorong perubahan dari sekadar membersihkan sampah menjadi mencegah sampah sejak dari sumbernya," katanya.
Sebelumnya, Zulhas menyampaikan pesan serupa pada Gala Dinner PIT XXII ISOI di Bali, Kamis (15/10). Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa kesehatan laut berkaitan erat dengan masa depan pangan Indonesia.
"Laut yang sehat adalah lumbung pangan masa depan Indonesia, dan ilmu pengetahuan adalah kompas agar kita mengelolanya dengan bijak, adil, dan berkelanjutan," ujarnya.
Setelah mencapai target swasembada beras, pemerintah kini menempatkan pemenuhan kebutuhan protein, terutama dari sumber daya laut seperti ikan, udang, dan rumput laut, sebagai salah satu fokus penguatan ketahanan pangan nasional.
Terlebih, Indonesia merupakan produsen rumput laut terbesar di dunia. Potensi ini perlu dikembangkan melalui hilirisasi, antara lain untuk pupuk organik, pangan sehat atau superfood, bioetanol, dan biodiesel.
Penelitian dan pengembangan (research and development/R&D) yang terintegrasi, termasuk bersama ISOI, juga diperlukan agar potensi tersebut dapat memberi nilai tambah.
Kemudian, masih ada potensi karbon biru yang besar, dengan 3,46 juta hektare mangrove dan 660 ribu hektare padang lamun. Pelestarian mangrove, lamun, dan terumbu karang penting untuk menjaga ekosistem laut sekaligus mendukung ketersediaan pangan bagi generasi mendatang.
"Menjaga mangrove, lamun, dan terumbu karang pada hakikatnya adalah menjaga dapur bangsa. Masa depan pangan Indonesia tidak hanya ditanam di sawah dan ladang, tetapi juga dibudidayakan, dipanen, dan dijaga di laut kita," tambah Zulhas.
Menko Pangan menegaskan, pengembangan ekonomi biru perlu tercermin pada peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir, termasuk nelayan.
Dalam hal ini, pemerintah membangun Kampung Nelayan Merah Putih dengan target 1.269 kampung pada 2026, menuju 5.000 kampung pada 2029. Sementara, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih diharapkan menjadi simpul ekonomi masyarakat dari hulu hingga hilir.
Ilmu pengetahuan dan inovasi kelautan turut didorong mendukung peningkatan mutu hasil perikanan, penciptaan nilai tambah, dan penguatan ekonomi masyarakat dengan tetap menjaga kesehatan ekosistem laut.
Pada kesempatan yang sama, Zulhas juga menyampaikan selamat kepada para penerima penghargaan Peneliti Kelautan Terbaik dalam rangkaian PIT XXII ISOI. Ia berharap hasil penelitian semakin mudah dipahami dan diterapkan, serta membuka peluang investasi yang mendukung pembangunan berkelanjutan.
Melalui Aksi Bersih Mangrove, Program Sungai Lestari, dan PIT XXII ISOI, pemerintah mendorong kolaborasi untuk menjaga lingkungan dari hulu hingga hilir dan mengoptimalkan potensi sumber daya kelautan.
Upaya tersebut bertujuan mendukung Bali yang lebih bersih dan asri, memperkuat ekonomi biru, serta menjaga fondasi ketahanan pangan bagi masyarakat dan generasi mendatang.
(rea/rir)