9 Fakta IHSG Anjlok 11,57 Persen, dari Trading Halt ke Ancaman MSCI

CNN Indonesia
Sabtu, 17 Okt 2026 07:54 WIB
Suasana perdaganagan saham di lantai Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa, 12 April 2016. CNN Indonesia/Adhi Wicaksono.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 11,57 persen ke level 5.185 pada penutupan perdagangan Jumat (16/10). Ilustrasi. (Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 11,57 persen ke level 5.185 pada penutupan perdagangan Jumat (16/10).

Indeks merosot 678,67 poin dibandingkan penutupan sebelumnya. Bahkan, Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat menghentikan sementara perdagangan saham (trading halt) pada awal sesi.

Tekanan terjadi setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) memulai konsultasi atas usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari kategori pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengutip data RTI Infokom, nilai transaksi saham sepanjang perdagangan mencapai Rp31,92 triliun dengan volume 68,56 miliar saham. Sebanyak 775 saham melemah, hanya 10 saham menguat, dan 10 saham stagnan.

Seluruh indeks sektoral berakhir di zona merah, dengan sektor barang baku mencatat pelemahan terdalam sebesar 13,26 persen.

Berikut sejumlah fakta terkait anjloknya IHSG pada Jumat (16/10):

1. IHSG anjlok 11,57 persen

IHSG ditutup di level 5.185, turun 678,67 poin atau 11,57 persen dari penutupan perdagangan sebelumnya.

Tekanan jual terlihat pada mayoritas saham. Berdasarkan data RTI Infokom, sebanyak 775 saham melemah, 10 saham menguat, dan 10 saham stagnan.

Nilai transaksi mencapai Rp31,92 triliun dengan volume perdagangan 68,56 miliar saham.

Seluruh indeks sektoral melemah. Sektor barang baku mencatat penurunan terdalam, yakni 13,26 persen.

2. Perdagangan sempat dihentikan selama 30 menit

BEI memberlakukan penghentian sementara perdagangan saham atau trading halt pada pukul 08.58 WIB setelah IHSG anjlok 8,01 persen ke level 5.393,92 pada pembukaan perdagangan.

P H Sekretaris Perusahaan BEI Valentina Simon mengatakan penghentian perdagangan dilakukan selama 30 menit dan dijadwalkan berakhir pada pukul 09.28 WIB.

"Tindakan ini dilakukan karena terdapat penurunan IHSG yang mencapai 8 persen," ujar Valentina dalam keterangan resmi, Jumat (16/10).

Perdagangan kembali dibuka setelah jeda. Namun, IHSG masih melemah 10,76 persen ke level 5.233 pada penutupan sesi I.

3. MSCI mengusulkan perubahan status pasar modal Indonesia

MSCI memulai konsultasi dengan pelaku pasar mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.

Dalam pengumumannya, MSCI menyebut pelaku pasar menyampaikan kekhawatiran terkait kelayakan investasi saham Indonesia. Persoalan yang disorot mencakup ketidakjelasan struktur kepemilikan saham dan dugaan perilaku perdagangan yang terkoordinasi.

MSCI juga menilai reformasi pasar saham Indonesia belum menunjukkan kemajuan yang konsisten. Investor institusi, menurut lembaga tersebut, membutuhkan penerapan kebijakan yang konsisten serta bukti bahwa reformasi memberikan dampak signifikan dan berkelanjutan.

Keputusan final mengenai status pasar modal Indonesia dijadwalkan diumumkan paling lambat akhir Juni 2027.

4. BEI mengaku terkejut dengan pengumuman MSCI

Direktur Pengembangan BEI Iding Pardi mengatakan pengumuman konsultasi MSCI muncul lebih cepat dari perkiraan bursa dan pelaku pasar.

Menurut Iding, pengumuman tersebut biasanya muncul sekitar satu hingga dua pekan sebelum pengumuman final yang dijadwalkan pada awal November. Kali ini, konsultasi diumumkan hampir sebulan lebih awal.

"Kami juga terus terang surprise, banyak pihak surprise, ya pelaku pasar juga surprise. Kok bisa jauh lebih awal ya?" ujar Iding di Gedung BEI, Jakarta Selatan, Jumat (16/10).

BEI menyatakan akan meminta klarifikasi teknis kepada MSCI dan memperkuat bukti efektivitas kebijakan untuk menjawab kekhawatiran investor global.

Iding juga menjelaskan bahwa standalone market bukan tingkatan terbawah dalam klasifikasi MSCI, melainkan kategori khusus di luar tiga kelompok utama, yaitu developed market, emerging market, dan frontier market.

5. Perubahan status berpotensi memengaruhi saham Indonesia di indeks global

Jika perubahan klasifikasi diterapkan, Indonesia akan keluar dari kelompok emerging market MSCI dan masuk kategori standalone market.

Konsekuensinya, saham Indonesia tidak lagi masuk dalam perhitungan indeks utama MSCI untuk pasar berkembang. Indeks tersebut digunakan sebagai acuan oleh manajer investasi dan dana pensiun internasional.

MSCI menyebut peninjauan dilakukan dengan mempertimbangkan sejumlah aspek, termasuk keterbukaan pasar, likuiditas, risiko operasional, tata kelola, dan regulasi.

Meski demikian, status Indonesia belum berubah karena MSCI masih menjalankan proses konsultasi dengan pelaku pasar hingga keputusan final diumumkan.

Bersambung ke halaman berikutnya...

Dugaan Tindak Pidana hingga Rupiah Melemah BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2