Denera Beber Kendala Proyek Olah Sampah Jadi Listrik di Jakarta

CNN Indonesia
Selasa, 20 Okt 2026 04:45 WIB
PT Daya Energi Bersih Nusantara membeberkan kendala utama yang membuat proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik di Jakarta belum bisa dieksekusi. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar).
Jakarta, CNN Indonesia --

PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) membeberkan sejumlah kendala utama yang membuat proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Jakarta belum bisa cepat dieksekusi.

Padahal, Jakarta menjadi salah satu wilayah dengan tingkat produksi sampah terbesar di Indonesia.

CEO Denera Fadli Rahman mengungkapkan bahwa terbatasnya ketersediaan lahan menjadi tantangan terberat dalam merealisasikan fasilitas pengolahan sampah modern di wilayah ibu kota.

"Permasalahan di Jakarta adalah lahan. Lahannya itu susah carinya, gitu, karena sudah sangat padat," ujar Fadli saat merinci kendala proyek PSEL di Jakarta dalam media briefing di kantor Denera, Jakarta Selatan, Senin (19/10).

Selain itu, Fadli menjelaskan bahwa proses administrasi di tingkat pemerintah daerah juga turut memengaruhi durasi persiapan proyek.

Saat ini, pihak Denera masih menunggu penetapan lokasi resmi serta pemenuhan kelengkapan administrasi dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

"Jakarta pasti akan dibangun. Pertanyaannya kapan? Dan ini yang kita juga masih menunggu proses administrasi dari Pemprov Jakarta. Rekan-rekan dari Pemprov DKI sekarang sedang memfinalisasi lokasi lahan yang terakhir dipilih," terangnya.

Meski begitu, Denera berkomitmen untuk terus mendorong percepatan proyek. Adapun pihaknya telah memulai studi kelayakan lebih awal agar pembangunan fisik dapat langsung berputar setelah seluruh perizinan dan penetapan lahan rampung.

"Dari kami, kami berkomitmen untuk terlepas dari memang masih berproses administrasi tersebut, kita sudah memulai kajian kelayakan di awal lebih dahulu. Jadi prinsip atau spirit dari percepatan itu tetap bisa terjaga," tegas Fadli.

Fadli mengungkapkan Jakarta saat ini memproduksi sampah hingga 9.000 ton per hari. Karena itu, Denera menilai kehadiran PSEL di Jakarta sangat krusial mengingat program pemilahan sampah saja tidak cukup untuk menghabiskan seluruh tumpukan sampah tanpa adanya teknologi pengolahan berskala besar.

"Memang Jakarta sekarang memproduksi 9.000 ton per hari dan adanya pemilahan sepertinya dampak dari pemilahan itu cukup baik, gitu. Tetapi sisa dari pemilahan sendiri pun perlu diolah," pungkasnya.

(fln/sfr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK