DEN Ungkap Mayoritas Penerima MBG Siswa Kaya Ketimbang yang Miskin
Dewan Ekonomi Nasional (DEN) mengungkap penerima Makan Bergizi Gratis (MBG) lebih banyak siswa dari keluarga kaya yang dibandingkan siswa dari keluarga miskin.
Selain itu, distribusi penerima program MBG masih lebih banyak terkonsentrasi di perkotaan dibandingkan pedesaan. Temuan tersebut disampaikan anggota DEN Mochamad Firman Hidayat berdasarkan data distribusi penerima MBG per September.
DEN menilai pemerintah perlu memperbaiki prioritas penerima agar program tersebut lebih menjangkau masyarakat miskin, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) serta pedesaan.
"Kami juga melihat data per September, memang sebaran distribusi penerima MBG itu masih terkonsentrasi, masih lebih tinggi di perkotaan dibandingkan dengan pedesaan. Dan masih banyak, lebih banyak siswa kaya yang menerima dibandingkan siswa miskin," kata Firman dalam keterangan pers di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Selasa (20/10).
Lihat Juga : |
Menurut Firman, perbaikan sasaran diperlukan karena hasil studi DEN menunjukkan MBG berpotensi mengurangi ketidakhadiran siswa di sekolah, meningkatkan semangat belajar, serta mengurangi rasa lapar selama kegiatan belajar.
DEN menyusun kajian tersebut bersama Badan Pusat Statistik (BPS) dan sejumlah lembaga lain melalui modul khusus dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), yang mulai diterapkan sejak September 2025.
Survei tersebut mencakup seluruh wilayah Indonesia dan mengukur dampak MBG terhadap kehadiran siswa, semangat belajar, serta rasa lapar di sekolah.
Firman mengatakan siswa penerima MBG cenderung lebih jarang absen dibandingkan siswa yang tidak menerima program tersebut.
Perbedaan itu bahkan terlihat cukup besar pada kelompok masyarakat paling miskin atau desil 1. Ia juga menyebut penurunan ketidakhadiran siswa semakin besar seiring dengan meningkatnya intensitas penerimaan MBG di sekolah.
"Jadi ketika dia nonpenerima MBG, dia akan sering absen, sementara kalau penerima MBG dia akan relatif tidak absen ke sekolah," ujarnya.
Selain kehadiran, kualitas makanan juga berkaitan dengan semangat belajar siswa. Berdasarkan hasil studi DEN, sebanyak 95 persen siswa penerima MBG menyatakan semangat belajar mereka meningkat ketika kualitas menu yang diterima dinilai sangat baik. Namun, angka tersebut turun ketika kualitas menu dinilai buruk.
"Artinya memang salah satu rekomendasi kami ke Bapak Presiden (Prabowo Subianto) yang tadi kami sampaikan, perlu diperhatikan kualitas menu MBG, karena ini berkorelasi dengan rasa lapar dan semangat belajar anak di sekolah," kata Firman.
DEN pun merekomendasikan agar pemerintah memperbaiki kualitas menu sekaligus memprioritaskan distribusi MBG bagi siswa dari keluarga miskin, terutama di wilayah pedesaan dan daerah 3T.
Menurut Firman, langkah tersebut diperlukan agar manfaat program lebih merata dan menjangkau kelompok yang membutuhkan.
(del/mnf)