Truk Listrik-BBM Hijau Bukti Nyata Transisi Energi RI Bukan Cuma Mimpi

CNN Indonesia
Rabu, 21 Okt 2026 13:16 WIB
Pengemudi mengisi bahan bakar Biosolar B50 di Rest Area KM 57 Tol JakartaCikampek, Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026). Program B50 yang mewajibkan pencampuran biodiesel sebesar 50 persen ke dalam bahan bakar minyak (BBM) jenis solar bertujuan men
Upaya transisi energi sejalan dengan arahan Presiden Prabowo yang ingin mewujudkan kemandirian energi. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A).

Wujudkan Kemandirian Energi

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Eniya Listiani Dewi mengungkapkan upaya transisi energi sejalan dengan arahan Presiden Prabowo yang ingin mewujudkan kemandirian energi.

Kepala Negara ingin Indonesia dapat menciptakan nilai tambah dari sumber daya energi yang diproduksi di dalam negeri.

"Semua mengarah kepada pengurangan impor bahan bakar minyak dan nilai tambah untuk sumber energi yang bisa dibuat sendiri," ujar Eniya kepada CNNIndonesia.com, Kamis (15/10).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai salah satu langkah nyata untuk merealisasikan hal tersebut, pemerintah meluncurkan program mandatori biodiesel B50, di mana solar dicampur dengan 50 persen bahan bakar nabati berbasis kelapa sawit.

Program ini diproyeksikan mampu melesatkan penghematan devisa dari Rp133,3 triliun pada B40 menjadi Rp170 triliun, serta menaikkan nilai tambah industri CPO dari Rp20,92 triliun menjadi Rp23,49 triliun.

"Arahnya adalah kemandirian energi. Dengan B50, maka (Indonesia) tidak impor solar CN48," ujar Eniya.

Tidak hanya mengandalkan komoditas sawit, langkah diversifikasi energi juga dilakukan dengan menyiapkan peta jalan penerapan campuran bioetanol secara bertahap hingga menyentuh level E50.

Saat ini, pemanfaatan bioetanol masih bersifat sukarela melalui produk Pertamax Green 95 (E5) sembari menunggu kesiapan infrastrukturnya.

Eniya menyebutkan bahan baku untuk E50 akan difokuskan sepenuhnya pada potensi lokal seperti tetes tebu (molase), tongkol jagung, dan ubi pahit.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan B50 merupakan salah satu kemajuan yang paling nyata karena telah memasuki tahap pelaksanaan nasional sejak Juli 2026.

"Dari perspektif makroekonomi, peningkatan campuran biodiesel berbasis minyak sawit menjadi 50 persen berpotensi mengurangi kebutuhan impor minyak solar," ujar Josua kepada CNNIndonesia.com. 

B50 dinilai juga dapat menghemat devisa, meningkatkan nilai tambah industri kelapa sawit, dan mengurangi kerentanan ekonomi terhadap lonjakan harga minyak dunia. 

Menanggapi rencana tersebut, Josua Pardede mengingatkan pentingnya menjaga kepastian pasokan bahan bakunya.

Ia menegaskan produksi bioetanol tidak boleh sampai bersinggungan atau mengganggu stabilitas pasokan pangan nasional.

"Pengembangan bioetanol memerlukan kepastian pasokan bahan baku yang tidak mengganggu kebutuhan pangan," ujar Josua.

(dhz/sfr)

HALAMAN:
1 2