Harga Minyak Dunia Mendidih ke US$110,11 Imbas Serangan Houthi ke Arab

CNN Indonesia
Kamis, 22 Okt 2026 10:19 WIB
Sementara itu, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 1 persen ke level US$98,12 per barel. (FOTO:ANTARA/Joko Sulistyo).
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak dunia kembali mendidih pada perdagangan Kamis (22/10). Lonjakan harga dipicu meningkatnya serangan kelompok Houthi di Arab Saudi yang mendorong Pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk mengevakuasi sejumlah diplomat dan keluarga mereka dari Arab Saudi.

Melansir Reuters, harga minyak mentah jenis Brent naik sebesar US$1,29 atau 1,2 persen menjadi US$110,11 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 97 sen atau 1 persen ke level US$98,12 per barel. Kondisi tersebut berbalik dari posisi perdagangan Rabu (21/10), saat minyak Brent ditutup relatif stabil dan WTI sempat melemah 67 sen.

Sejumlah pejabat AS mengonfirmasi kepada Reuters bahwa Departemen Luar Negeri AS berencana menarik anggota keluarga staf dari beberapa kedutaan dan konsulat AS lainnya di kawasan Timur Tengah seiring meningkatnya risiko keamanan.

Kenaikan harga minyak juga merespons langsung gelombang serangan dari kelompok Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran. Pada Rabu (21/10), serangan Houthi menghantam sejumlah target vital di Arab Saudi. Beberapa diantaranya Bandara Sipil Dammam yang menewaskan satu orang tewas dan delapan lainnya luka-luka. Selain itu, ladang minyak Saudi juga menjadi incaran dan dua orang dilaporkan tewas akibat serangan drone.

Di sisi lain, media lokal Iran melaporkan terdengarnya ledakan di kota Sirik, Iran selatan, pada Rabu (21/10). Hingga saat ini, sifat dan asal-usul ledakan tersebut masih belum diketahui secara pasti.

Menanggapi ketegangan yang memuncak, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan kepada Financial Times bahwa Iran sepenuhnya siap membela diri. Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga menyatakan kepada media pemerintah bahwa AS tidak bisa berharap pada dialog, selama masih melakukan blokade dan ancaman terhadap negaranya.

Ancaman terhadap jalur distribusi minyak juga masih berlangsung. Data dari Kpler mencatat setidaknya ada 18 serangan terhadap kapal tanker dalam dua pekan terakhir. Analis LSEG memperingatkan bahwa jangkauan serangan Iran kini meluas hingga ke Teluk Oman-melampaui Selat Hormuz-yang mengancam proses pemuatan minyak mentah serta aktivitas transfer antar-kapal (ship-to-ship) di wilayah tersebut.

Sementara itu, dinamika politik global juga tengah diwarnai perkembangan diplomasi konflik Eropa. Presiden Rusia Vladimir Putin menerima kunjungan Utusan Khusus AS Steve Witkoff di St. Petersburg kemarin untuk membahas penghentian perang di Ukraina.

Pihak Kremlin mengonfirmasi bahwa Putin telah menyetujui untuk melanjutkan perundingan damai dengan Ukraina dengan dimediasi AS bulan depan. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyambut baik keputusan tersebut dan berharap negosiasi segera dimulai.

Adapun dari sisi fundamental pasokan AS, pada Rabu (21/10) Badan Informasi Energi (EIA) melaporkan stok minyak mentah AS menyusut sebesar 3,06 juta barel menjadi 412,5 juta barel pada pekan lalu. Penurunan ini lebih dalam dari perkiraan analis dalam survei Reuters yang memproyeksikan penurunan 820 ribu barel.

(ins)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK