Eks Wamenlu SBY Minta RI Dekati AS dan China Demi Raup Manfaat Ekonomi

CNN Indonesia
Kamis, 22 Okt 2026 14:50 WIB
Eks Wamenlu Dino Patti Djalal mendorong Indonesia mempererat hubungan dengan negara-negara besar, termasuk Amerika Serikat (AS) dan China. (CNN Indonesia/Natalia Santi).
Jakarta, CNN Indonesia --

Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Dino Patti Djalal mendorong Indonesia mempererat hubungan dengan negara-negara besar, termasuk Amerika Serikat (AS) dan China, untuk meraup manfaat ekonomi di tengah rivalitas geopolitik global.

Menurut Dino, kedekatan tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperoleh akses pasar, teknologi, pendidikan, hingga memperkuat kerja sama diplomatik.

"Kita harus sedekat-dekatnya dengan negara-negara besar dan negara lain tentu ya yang sekarang dunia multipolar. Karena kita seharusnya bisa memanfaatkan kedekatan itu untuk extract benefit bagi kita. Apakah itu pasar, teknologi, pendidikan, kerja sama diplomatik dan lain sebagainya," kata Dino dalam acara Permata Bank Wealth Wisdom 2026 di Jakarta, Kamis (22/10).

Indonesia, sambung Dino, perlu menjalin hubungan erat dengan berbagai negara, mulai dari Amerika Serikat, China, Malaysia, hingga negara-negara Eropa.

Saat ini, Indonesia berada dalam posisi strategis karena tidak dianggap sebagai musuh oleh negara-negara lain. Posisi tersebut, menurutnya, menjadi peluang yang perlu dimanfaatkan untuk memperluas kerja sama dan mendapatkan keuntungan konkret bagi kepentingan nasional.

"Sekarang ini kita berada dalam suatu sweet spot di mana tidak ada satu pun negara dari 193 negara dunia yang menganggap Indonesia sebagai musuh atau kita anggap sebagai musuh," kata Dino.

Ia menilai kondisi tersebut menjadi modal penting bagi Indonesia untuk menghadapi rivalitas dan konflik global tanpa harus menjadikan salah satu kekuatan besar sebagai lawan.

"I don't fear bahwa sekarang ini ada dunia yang sedang penuh rivalitas dan konflik. I don't fear it. Kenapa? Karena enggak ada yang konflik itu yang mengarah untuk menjadikan Indonesia sebagai target. Jadi kita berada di posisi yang unik, bukan target," tuturnya.

Dino mengatakan pendekatan Indonesia terhadap negara-negara besar juga perlu berkembang. Jika sebelumnya dikenal konsep equidistance, yakni menjaga jarak yang relatif sama dari kekuatan-kekuatan besar, ia menilai Indonesia kini justru perlu membangun hubungan sedekat mungkin dengan berbagai negara.

Menurutnya, kedekatan tersebut dapat membuka akses terhadap pasar, teknologi, pendidikan, dan kerja sama diplomatik yang dibutuhkan Indonesia.

Dino mengakui upaya mendekatkan diri kepada berbagai negara memiliki tantangan tersendiri, terutama ketika suatu negara memberikan tekanan atau meminta Indonesia mengambil kebijakan yang menguntungkan kepentingannya.

Ia mencontohkan tekanan AS melalui kebijakan tarif dan kepentingannya terhadap mineral kritis Indonesia.

Namun, menurut Dino, posisi Indonesia saat ini berbeda dibandingkan masa lalu karena memiliki lebih banyak alternatif untuk menjalin kerja sama dengan negara lain.

"Dulu, sejujurnya Tiongkok, Malaysia, waktu saya di pemerintah sebagai diplomat junior, banyak sekali mendapat tekanan. Terutama dari barat ya, mengenai demokrasi, hak-hak manusia," ujar Dino.

Ia mengatakan keterbatasan pilihan pada masa lalu membuat Indonesia lebih sulit merespons tekanan dari negara lain. Sementara itu, kondisi dunia yang semakin multipolar membuka peluang bagi Indonesia untuk memperluas pilihan mitra.

"Dunia itu multipolar. Saya bilang dunia itu multiopsi," ujarnya.

Oleh karena itu, Dino menilai Indonesia perlu memainkan hubungan diplomatik secara strategis dengan memanfaatkan berbagai alternatif kerja sama yang tersedia.

[Gambas:Video CNN]

(lau/sfr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK