Profil Astera Primanto Bhakti, Sekjen Baru Kemenkeu di Era Suahasil

CNN Indonesia
Jumat, 23 Okt 2026 13:09 WIB
Menkeu Suahasil Nazara menunjuk Astera Primanto Bhakti sebagai Sekretaris Jenderal Kemenkeu, menggantikan Robert Leonard Marbun. Berikut profil Astera. (PPPKlip).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara menunjuk Astera Primanto Bhakti sebagai Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan (Kemenkeu) baru pada Jumat (23/10).

Sebelumnya, pria yang akrab disapa Prima ini menjabat sebagai Direktur Jenderal Perbendaharaan sejak November 2022.

Prima menggantikan Robert Leonard Marbun, yang menduduki posisi Sekjen Kemenkeu sejak dilantik oleh menkeu saat itu, Purbaya Yudhi Sadewa, pada 27 Maret 2026.

Pelantikan Prima didasarkan pada Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 141/TPA Tahun 2026.

Selain dirinya, Suahasil juga melantik sejumlah pejabat lain, termasuk Tri Budhianto sebagai direktur jenderal perbendaharaan dan Nufransa Wira Sakti sebagai direktur jenderal perimbangan keuangan.

Lantas, siapa Astera Primanto Bhakti dan bagaimana perjalanan kariernya hingga dipercaya menjadi sekjen Kemenkeu?

Astera Primanto Bhakti lahir di Jakarta pada 20 Januari 1968. Ia menempuh pendidikan sarjana ekonomi jurusan manajemen di Universitas Jenderal Soedirman dan lulus pada 1990.

Setelah itu, Prima melanjutkan pendidikan ke University of Denver, Amerika Serikat (AS), untuk mengambil gelar magister di bidang perpajakan (Master of Taxation) yang diselesaikannya pada 1997.

Berdasarkan profil kariernya di situs resmi Kementerian Keuangan, Prima memulai tugas sebagai penata muda pada 1992. Ia kemudian menempati sejumlah posisi di Direktorat Jenderal Pajak (DJP), terutama yang berkaitan dengan administrasi, peraturan perpajakan, dan kerja sama perpajakan internasional.

Pada 2004, Prima menjabat Kepala Bidang Administrasi dan Kerja Sama Perpajakan DJP. Dua tahun kemudian, ia dipercaya menjadi Kepala Subdirektorat Peraturan Pajak Penghasilan.

Pada 2007, ia menjabat Kepala Subdirektorat Peraturan PPh Badan, sebelum berpindah ke posisi Kepala Subdirektorat Perjanjian dan Kerja Sama Perpajakan Internasional pada 2009.

Perjalanan kariernya berlanjut ke Badan Kebijakan Fiskal. Pada 2012, Prima menjabat Kepala Pusat Kebijakan Pendapatan Negara.

Ia kemudian dilantik sebagai Staf Ahli Bidang Penerimaan Negara pada Februari 2015 dan menjadi Staf Ahli Kebijakan Penerimaan Negara pada September tahun yang sama, seiring perubahan nomenklatur jabatan di lingkungan Kemenkeu.

Pada Januari 2017, Prima dipercaya memimpin Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK). Ia juga pernah menjadi pelaksana tugas Direktur Utama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) pada Desember 2017 hingga Juni 2018.

Kariernya berlanjut ke Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK). Ia dilantik sebagai Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan pada Juni 2018, sebelum kemudian beralih memimpin Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb).

Prima mulai menjabat Direktur Jenderal Perbendaharaan pada 1 November 2022. Ia kembali dikukuhkan dalam posisi tersebut pada 23 Mei 2025 dan mendudukinya hingga ditunjuk sebagai Sekretaris Jenderal Kemenkeu pada Oktober 2026.

Di luar jabatan struktural di Kemenkeu, profil LinkedIn Prima mencatat sejumlah pengalaman lain. Ia pernah menjadi komisaris PT Semen Indonesia pada Maret 2017 hingga Februari 2023, komisaris Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) pada Juli 2015 hingga November 2020, serta komisaris Indosat Ooredoo pada Juni 2015 hingga Mei 2017.

Ia juga tercatat sebagai komisaris PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID. Selain itu, Prima pernah menjadi pakar di bidang kebijakan pajak dan pengelolaan belanja publik untuk pembangunan berkelanjutan di Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia dan Pasifik (UN ESCAP) pada 2016-2018.

Selain pendidikan formal, profil LinkedIn Prima mencantumkan sejumlah program pendidikan eksekutif di luar negeri.

Ia mengikuti program Comparative Tax Policy and Administration di Harvard Kennedy School pada Juni 2013 serta program kepemimpinan dan pembentukan tim berkinerja tinggi di Wharton Executive Education pada September 2012.

Pada November 2018, ia juga mengikuti program di The London School of Economics and Political Science (LSE) yang berfokus pada aspek strategis, antarpribadi, dan psikologis dalam negosiasi.

[Gambas:Video CNN]

(del/sfr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK