Emiten Haji Isam, PACK Rights Issue Rp8,2 T demi Caplok 2 Bisnis Nikel

CNN Indonesia
Jumat, 23 Okt 2026 15:50 WIB
Emiten terafiliasi Haji Isam, PT Abadi Nusantara Hijau Investama (PACK) rencanakan rights issue hingga US$463 juta untuk akuisisi dua perusahaan nikel. (FOTO:Sekretariat Kabinet).
Jakarta, CNN Indonesia --

PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK), emiten yang terafiliasi dengan pengusaha Haji Samsudin Andi Arsyad alias Haji Isam, menyiapkan aksi korporasi jumbo berupa rights issue atau Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) II senilai maksimal US$463 juta atau sekitar Rp8,19 triliun.

Dana tersebut akan digunakan antara lain untuk mengakuisisi dua perusahaan di sektor nikel, yakni PT Bukit Makmur Istindo Nikeltama (Bumanik) dan Denway Development Limited (DDL).

Berdasarkan Keterbukaan Informasi perseroan yang diterbitkan Rabu (22/10), PACK berencana menerbitkan maksimal 100 miliar saham baru dengan nilai nominal Rp10 per saham. Nilai maksimal rights issue tersebut setara Rp8,196 triliun dengan asumsi kurs Rp17.703 per dolar AS per Agustus 2026.

"Perseroan berencana untuk menerbitkan sebanyak-banyaknya 100.000.000.000 (seratus miliar) saham baru yang akan ditawarkan melalui mekanisme PMHMETD," tulis manajemen PACK dalam keterbukaan informasi tersebut.

Pelaksanaan rights issue masih membutuhkan persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 30 November 2026. Selain itu, pelaksanaan aksi korporasi harus menunggu pernyataan pendaftaran PMHMETD dinyatakan efektif oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Salah satu penggunaan dana rights issue akan diarahkan untuk mengambil alih Bumanik. PACK melalui anak usahanya, PT Daya Unggul Raya dan PT Gemilang Padma Raya, berencana membeli 100 persen saham Bumanik dengan nilai transaksi US$79 juta atau sekitar Rp1,40 triliun.

Bumanik merupakan perusahaan pertambangan bijih nikel yang memiliki wilayah konsesi seluas 4.778 hektare di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.

"Melalui Transaksi Bumanik, Perseroan berencana untuk mengembangkan kegiatan usahanya di wilayah Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah," tulis perseroan.

Transaksi Bumanik dinilai sebagai transaksi material karena nilainya mencapai 26,40 persen dari ekuitas konsolidasi PACK per 31 Agustus 2026.

Menariknya, nilai pasar saham Bumanik berdasarkan penilaian KJPP Kusnanto & Rekan mencapai Rp1,439 triliun. KJPP K&R juga memberikan pendapat bahwa transaksi pembelian Bumanik tersebut wajar.

Sementara itu, akuisisi kedua menyasar DDL. PACK berencana membeli 100 persen saham DDL dengan nilai transaksi US$324 juta atau sekitar Rp5,74 triliun.

DDL dibeli dari Hanking (Indonesia) Mining Limited. Dalam keterbukaan informasi, transaksi ini disebut sebagai transaksi material sekaligus transaksi afiliasi karena pada saat RUPSLB nanti terdapat kesamaan pengendali akhir antara pihak penjual dan perseroan.

"Objek transaksi: 10.000 saham DDL yang dimiliki Penjual, yang merupakan 100 persen kepemilikan saham DDL," tulis PACK.

Untuk memastikan rights issue terserap, pemegang saham pengendali PACK, PT Eco Energi Perkasa, menyatakan akan melaksanakan haknya sekaligus bertindak sebagai pembeli siaga atau standby buyer.

Eco Energi Perkasa akan menjamin pembelian saham baru yang tidak diambil oleh pemegang saham lainnya dengan nilai maksimal US$418 juta atau sekitar Rp7,40 triliun.

"PT Eco Energi Perkasa akan melaksanakan HMETD yang akan diterimanya dan menjadi pembeli siaga untuk menjamin pembelian saham yang tidak dilaksanakan oleh pemegang saham Perseroan," tulis manajemen.

Berdasarkan daftar pemegang saham per 30 September 2026, Eco Energi Perkasa menguasai 38,51 persen saham PACK. Sementara H Isam tercatat memiliki 20,05 persen saham PACK atau setara 6.836.867.700 lembar saham per September 2026. Adapun posisinya saat ini adalah pemegang saham minoritas signifikan dan bukan pengendali.

Sementara itu, masyarakat serta pemegang saham dengan kepemilikan di bawah 5 persen menguasai 41,44 persen.

Di sisi lain, aksi korporasi ini membawa risiko dilusi cukup besar bagi pemegang saham yang tidak menggunakan haknya.

PACK memperkirakan persentase kepemilikan pemegang saham yang tidak melaksanakan HMETD dapat terdilusi hingga sekitar 74,6 persen.

"Dalam hal pemegang saham tidak melaksanakan HMETD yang akan diperoleh, maka persentase kepemilikan sahamnya terhadap saham-saham Perseroan akan terdilusi hingga sebanyak-banyaknya sekitar 74,6 persen," tulis perseroan.

Selain membiayai akuisisi, dana hasil rights issue setelah dikurangi biaya emisi juga akan digunakan untuk pelunasan pinjaman dan modal kerja perseroan maupun entitas anak.

PACK memperkirakan aksi tersebut akan memperkuat struktur permodalan melalui peningkatan ekuitas. Akuisisi DDL juga diharapkan meningkatkan kapasitas perseroan di bidang pertambangan mineral.

Sejalan dengan ekspansi ke bisnis pertambangan mineral, khususnya nikel, PACK juga berencana menambah kegiatan usaha penunjang.

Perseroan mengusulkan penambahan KBLI 46721 untuk Perdagangan Besar Bijih dan Konsentrat Logam serta KBLI 70209 untuk Aktivitas Konsultasi Manajemen dan Bisnis Lainnya.

Melalui KBLI 46721, PACK dapat melakukan pembelian dan penjualan bijih nikel serta konsentrat logam lainnya. Sementara KBLI 70209 memungkinkan perseroan memberikan jasa manajemen dan konsultasi kepada anak usaha, termasuk dalam perencanaan strategis, keuangan, perencanaan tambang, kepatuhan, dan pengadaan.

"Pengelolaan dapat dilakukan secara terpusat sehingga diharapkan pengelolaannya dapat lebih efisien," tulis perseroan terkait penambahan kegiatan usaha tersebut.

Seluruh rencana tersebut akan dimintakan persetujuan pemegang saham dalam RUPSLB pada 30 November 2026. Agenda rapat mencakup perubahan kegiatan usaha, akuisisi Bumanik, penerbitan HMETD, serta pembelian saham DDL yang merupakan transaksi material dan terafiliasi.

(lau/ins)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK