Eks Wamenlu Dino Wanti-wanti Status RI di MSCI: Siasati, Bukan Dilawan

CNN Indonesia
Sabtu, 24 Okt 2026 11:40 WIB
Eks Wamenlu Dino Patti Djalal memenuhi undangan Presiden RI Prabowo Subianto ke Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (4/2).
Dino Patti Djalal mewanti-wanti pemerintah soal penurunan status pasar modal RI oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI). (CNN Indonesia/Muhammad Naufal)

Solusi Dino Patti Djalal soal MSCI

Dino menawarkan sejumlah solusi yang bisa dipertimbangkan pemerintah Indonesia untuk mengatasi situasi ini.

"Jalankan diskusi intensif dan tertutup dengan MSCI dengan target bulan Juni 2027 skor Indonesia bisa kembali membaik insya Allah mengarah ke satu persen sama dengan Malaysia yang skornya 0,92 persen atau juga Thailand yang skornya 0,97 persen," kata Dino.

Ia meminta agar diskusi tersebut dijalankan serius sebagaimana "nasabah meyakinkan kreditor".

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Yakinkan MSCI dengan kesungguhan dan niat baik kita dan hindari sikap yang terkesan denial, defensif, atau arogan," tuturnya.

Dino melanjutkan bahwa Indonesia juga bisa mencoba untuk memenuhi standar yang diterapkan MSCI selayaknya Indonesia berusaha memenuhi standar yang diterapkan OECD.

"Semua syarat ini akan menjamin transparansi dan akuntabilitas serta ekonomi Indonesia yang sehat," ucapnya.

Lebih lanjut, Dino menyarankan agar pemerintah membentuk Satgas Khusus untuk fokus menangani isu MSCI yang terdiri dari Menko Ekonomi, Menteri Keuangan, Bursa Efek Indonesia, dan OJK.

"Jangan banyak bicara dulu, karena pasar sangat sensitif terhadap celetukan pejabat yang asal bunyi," sarannya.

"Terapkan kebijakan satu pintu, misalnya hanya Ketua OJK atau Menteri Keuangan atau Ketua Bursa Efek Indonesia yang boleh berbicara mewakili pemerintah mengenai MSCI," ucap Dino.

Selain itu, Dino mengimbau agar mobilisasi buzzer dihentikan. Menurutnya, penggunaan buzzer untuk menyerang MSCI tidak berguna karena organisasi tersebut sama sekali tidak akan terpengaruh.

"Terapkan disiplin dan kepekaan yang tinggi terhadap sentimen pasar dalam transaksi saham. Jangan korbankan kepentingan sistemik jangka panjang hanya untuk kepentingan transaksional sesaat," kata Dino.

"Justru jadikan momentum ini sebagai peluang Indonesia untuk membenahi sistem dari dalam, memulihkan kepercayaan investor global, dan membuat pasar modal kita lebih atraktif," pungkasnya.

(blq/chri)

HALAMAN:
1 2