Harga Minyak Dunia Mereda ke Level US$111,84 Berkat Perundingan Damai

CNN Indonesia
Senin, 02 Nov 2026 10:26 WIB
The Rig, taman hiburan di kilang minyak Arab Saudi
Sementara itu, harga minyak dunia jenis West Texas Intermediate (WTI) AS melemah US$1,56 atau 1,50 persen menjadi US$102,56 per barel. (FOTO:Tangkapan layar twitter @@PIF_en).
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak dunia turun lebih dari 1 persen pada perdagangan Senin (2/11), setelah pejabat Iran dan Qatar melanjutkan perundingan untuk mendorong kesepakatan mengakhiri perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah jenis Brent turun US$1,59 atau 1,40 persen menjadi US$111,84 per barel pada pukul 00.11 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah US$1,56 atau 1,50 persen menjadi US$102,56 per barel.

Penurunan harga tersebut terjadi setelah pejabat Iran dan Qatar menggelar pembicaraan selama tiga hari berturut-turut. Perundingan tersebut bertujuan mendorong kesepakatan untuk mengakhiri perang AS-Israel dengan Iran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski demikian, Brent mengakhiri perdagangan Oktober di level tertinggi dalam enam bulan. Kondisi tersebut terjadi di tengah kekhawatiran bahwa konflik AS-Iran dapat kembali meningkat setelah pemilihan paruh waktu AS pada Selasa mendatang.


Kemudian, Kepala Analis Pasar KCM Trade Tim Waterer juga mengatakan penurunan harga minyak pada Senin (2/11) merupakan koreksi teknis setelah penguatan tajam pada pekan sebelumnya.

"Harga minyak mengalami koreksi teknis pagi ini setelah mencatat kenaikan kuat pekan lalu," kata Waterer.

[Gambas:Youtube]

Ia juga menambahkan harapan terhadap kemajuan diplomatik dan tidak adanya eskalasi militer signifikan selama akhir pekan telah meredakan tekanan terhadap harga minyak untuk sementara waktu.

Namun, pasar masih mewaspadai kemungkinan meningkatnya ketegangan terkait Iran. Kondisi tersebut berpotensi mendorong harga Brent mendekati US$120 per barel setelah pemilihan paruh waktu AS.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi pada Minggu (1/11) mengatakan tujuan pembicaraan yang sedang berlangsung adalah untuk melanjutkan konsultasi dengan mediator Qatar. Ia juga menegaskan Teheran siap menghadapi jalur pertahanan maupun diplomasi.

Perundingan tersebut berlangsung di tengah serangan terhadap kapal-kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz. Serangan itu turut meningkatkan biaya energi dan pengiriman global.

Di sisi lain, Arab Saudi meningkatkan ekspor minyak mentah pada Oktober dibandingkan September meskipun infrastruktur energinya mendapat serangan dari kelompok Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran. Informasi tersebut disampaikan oleh dua dari tiga perusahaan pelacakan kapal dan perdagangan.

Sementara itu, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) pada Minggu memutuskan mempertahankan target produksi minyak untuk Desember.

Keputusan tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar bahwa tidak akan ada penyesuaian kebijakan produksi lebih lanjut hingga tahun depan. OPEC+ masih menghadapi gangguan ekspor akibat perang Iran.

(lil/ins)
placeholder
LIHAT SELENGKAPNYA