Taruna Ikrar Jadikan BPOM Motor Hilirisasi Riset Nasional Lewat ABG

CNN Indonesia
Kamis, 05 Nov 2026 22:49 WIB
Kerja sama Indonesia dan India di sektor farmasi memiliki peluang lebih besar selain memperluas perdagangan obat-obatan. Di balik hubungan bisnis kedua negara, terdapat agenda strategis yang menentukan masa depan industri kesehatan: membangun sistem
Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan komitmennya untuk menjembatani hasil riset akademisi agar tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah.dok. istimewa
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terus memperkuat perannya sebagai penggerak inovasi nasional melalui kolaborasi antara dunia akademik, industri, dan pemerintah.

Dalam dua tahun penguatan program Academia, Business, and Government (ABG), BPOM telah menerbitkan 25 Nomor Izin Edar (NIE) bagi produk hasil hilirisasi inovasi perguruan tinggi.

Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan komitmennya untuk menjembatani hasil riset akademisi agar tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi berkembang menjadi produk inovatif yang aman, bermutu, memiliki nilai ekonomi, serta memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Taruna Ikrar menegaskan bahwa Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas, sumber daya manusia unggul, serta ribuan hasil penelitian dari berbagai perguruan tinggi. Namun, potensi besar tersebut harus didukung ekosistem hilirisasi yang kuat agar dapat menghasilkan produk bernilai tambah dan berdaya saing global.

Menurutnya, salah satu tantangan terbesar inovasi nasional adalah kesenjangan antara hasil penelitian, kesiapan industri, kebutuhan pasar, pembiayaan, dan pemenuhan persyaratan regulasi.

"Perguruan tinggi memiliki kekuatan riset dan inovasi, dunia usaha mempunyai kemampuan investasi serta produksi, sementara pemerintah hadir memastikan kebijakan dan regulasi mampu mendukung percepatan hilirisasi tanpa mengabaikan keamanan, khasiat, manfaat, dan mutu produk," ujar Taruna Ikrar di acara Gebyar ACB, Tangerang, Kamis (5/11).

Ia menjelaskan bahwa BPOM tidak lagi hanya hadir pada tahap akhir untuk menerbitkan izin edar, tetapi juga berperan sejak tahap perencanaan riset melalui pendampingan ilmiah, pengembangan produk, pengujian, kesiapan fasilitas produksi, hingga pemenuhan persyaratan registrasi.

Langkah tersebut merupakan transformasi BPOM sebagai regulatory enabler, yakni regulator yang tidak hanya menjalankan fungsi pengawasan, tetapi juga memfasilitasi inovasi dan pertumbuhan industri nasional dengan tetap menjamin perlindungan kesehatan masyarakat.

Dalam mempercepat pengembangan inovasi berbasis sumber daya alam Indonesia, BPOM juga menjalankan program BRIDGE atau Bersinergi Dalam Riset Inovatif, Berdaya Saing Global, dan Ekspansi Pasar.

Melalui program tersebut, BPOM telah menjaring 24 penelitian yang melibatkan 18 lembaga penelitian untuk didorong menuju proses hilirisasi menjadi produk obat bahan alam, obat kuasi, suplemen kesehatan, kosmetik, dan pangan olahan.

Program BRIDGE sekaligus menjadi sarana mempertemukan inovator kampus dengan mitra industri, investor, serta jaringan pemasaran sehingga hasil penelitian memiliki peluang lebih besar untuk memasuki pasar nasional maupun internasional.

Taruna Ikrar mengungkapkan bahwa hingga saat ini BPOM juga telah menjalin kerja sama dengan lebih dari 190 perguruan tinggi di berbagai wilayah Indonesia.

Kemitraan tersebut diarahkan untuk memperkuat implementasi tridarma perguruan tinggi, meningkatkan kualitas riset, mendorong transfer teknologi, memperluas literasi keamanan obat dan makanan, serta mendukung pengawasan hingga ke pelosok negeri.

"BPOM tidak dapat bekerja sendiri. Dibutuhkan sinergi seluruh pemangku kepentingan agar inovasi yang lahir dari perguruan tinggi mampu berkembang menjadi kekuatan industri nasional dan memberikan manfaat bagi masyarakat," tegasnya.

Lebih lanjut, Taruna Ikrar menekankan bahwa penguatan kolaborasi ABG merupakan bagian dari kontribusi konkret BPOM dalam mendukung dua tahun pelaksanaan Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Melalui Asta Cita kedua, BPOM berkontribusi memperkuat kemandirian bangsa dalam sektor obat dan pangan. Pada Asta Cita ketiga, BPOM mendorong kewirausahaan, pertumbuhan industri kreatif, peningkatan produktivitas, serta perluasan akses pasar bagi pelaku UMKM.

Sementara itu, pada Asta Cita keempat dan kelima, BPOM mengambil peran strategis dalam penguatan sumber daya manusia, pengembangan sains dan teknologi, serta percepatan hilirisasi dan industrialisasi untuk meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri.

Adapun dukungan terhadap Asta Cita keenam diwujudkan melalui program Desa Pangan Aman, penguatan usaha lokal, dan pendampingan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) agar mampu berkembang dengan tetap memenuhi standar keamanan dan mutu.

Taruna Ikrar juga menegaskan pentingnya transformasi digital layanan BPOM dalam menciptakan sistem regulasi yang semakin cepat, transparan, terintegrasi, dan berbasis risiko.

Menurutnya, percepatan pelayanan harus berjalan beriringan dengan penguatan pengawasan sebelum dan selama produk beredar, termasuk ketertelusuran produk, pemantauan efek samping, pengawasan digital, serta penindakan terhadap pelanggaran.

Dengan demikian, upaya meningkatkan kemudahan berusaha tetap sejalan dengan tanggung jawab negara untuk melindungi masyarakat dari produk obat dan makanan yang tidak memenuhi persyaratan.

Taruna Ikrar optimistis bahwa sinergi ABG yang semakin kuat dapat menjadi salah satu fondasi penting dalam mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen serta mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

"Besar harapan kami kolaborasi ABG dapat terus menghasilkan inovasi yang bermanfaat nyata, meningkatkan daya saing produk Indonesia, memperkuat kemandirian nasional, dan menjadi bagian dari upaya bersama mewujudkan Indonesia Emas 2045," pungkas Taruna Ikrar.

(tim/dal)
placeholder
LIHAT SELENGKAPNYA