KEDOKTERAN FORENSIK

Mengenal Ante Mortem Pada Proses Identifikasi Korban Bencana

Christina Andhika Setyanti, CNN Indonesia | Rabu, 31/12/2014 12:43 WIB
Dalam kondisi bencana atau insiden yang menimbulkan korban jiwa, pengambilan data ante mortem sangatlah penting untuk identifikasi korban yang ditemukan. Suasana Posko DVI tempat pengumpulan data ante mortem guna identifikasi jenasah, Bandara Juanda, Surabaya, 31 Desember 2014 (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kasus hilangnya pesawat AirAsia QZ 8501 beberapa waktu lalu sudah menemukan titik terang. Jenazah korban yang sudah dievakuasi dari lokasi jatuhnya pesawat segera diidentifikasi.

Untuk mengidentifikasi para korban, Ketua DVI (Disaster Victim Identification) Polda Jatim, Budiyono menyatakan pihaknya telah melakukan proses pengambilan data ante mortem, sejak korban pesawat AirAsia QZ8501 mulai ditemukan pada Selasa (31/12) kemarin.

Dalam kondisi bencana atau insiden yang menimbulkan korban jiwa, pengambilan data ante mortem sangatlah penting. Ante mortem diperlukan untuk membantu mengidentifikasi korban yang ditemukan.


Ante mortem sendiri adalah data diri korban sebelum meninggal dunia. Data-data sebelum korban meninggal atau ante mortem ini didapatkan dari keluarga terdekatnya.

Pengumpulan data ante mortem biasanya dilakukan lewat dua metode, yaitu metode sederhana dan metode ilmiah. Metode sederhana dilakukan dengan mengidentifikasi fisik, perhiasan dan pakaian yang dipakai sebelumnya, serta foto dokumentasi.

Metode lainnya adalah metode ilmiah yang menyangkut sidik jari, rekam medis, serologi (pemeriksaan cairan tubuh seperti darah, air mani, air liur, keringat, dan kotoran di tempat kejadian perkara), odontologi (gigi), antropologi, biologi (termasuk tanda lahir atau cacat).

Untuk mendapatkan sidik jari ante mortem, sidik jari ini didapatkan dari data pribadi sebelumnya misalnya, ijazah, SIM, akta kelahiran dan lainnya. Sedangkan untuk data perhiasan dan pakaian yang digunakan saat kejadian bisa didapatkan dengan foto-foto yang mungkin sebelumnya dikirim korban kepada keluarga. Di zaman sekarang, kebanyakan orang sekarang ini sering berfoto selfie dan mengunggahnya ke media sosial.

Keterangan lain yang dibutuhkan tim medis adalah ciri-ciri fisik dari para penumpang. Di antaranya berupa umur, tinggi badan, jenis kelamin, rambut, bentuk wajah, tanda lahir, tahi lalat jika ada, dan penjelasan mengenai rekam medis sebelum terbang.

Jika identifikasi ante mortem tak bisa dilakukan dengan metode sederhana, maka metode ilmiah bisa dilakukan. Misalnya dengan pengambilan DNA. DNA ante mortem bisa diambil dari keluarga kandung terdekat, misalnya ayah, ibu, adik atau kakak.

Salah satu metode ante mortem yang dilakukan oleh DVI Jatim adalah dengan identifikasi ortodontologi atau gigi geligi. Identifikasi bisa dilakukan dengan menggunakan foto-foto korban yang sedang tersenyum sehingga terlihat gigi geliginya. Pemeriksaan ordontologi yang lebih mendalam bisa dilakukan dengan catatan data atau rekam medis gigi. Sayang, belum semua orang memiliki data medis catatan gigi lengkap.

Padahal, proses identifikasi lewat pengenalan gigi ini adalah cara yang paling mungkin dilakukan, terutama jika korban meninggal sudah tak bisa lagi dikenali secara fisik. Gigi memegang peranan penting dalam setiap identifikasi karena dibanding seluruh bagian tubuh manusia, gigi adalah bagian terkeras dan tak mudah hancur.

Setelah pengumpulan data anti mortem ini lengkap, maka data ini kemudian akan dicocokkan dengan data tubuh asli korban yang ditemukan. Proses ini dikenal dengan nama post mortem (data setelah korban meninggal). Proses pencocokan data ante mortem dan post mortem yang sudah cocok ini berguna untuk mengenali data diri korban.

(chs/mer)
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK