Penelitian Kedokteran

Ibu Pengganti Tidak Tertekan Menyerahkan Anak yang Dilahirkan

Windratie, CNN Indonesia | Senin, 12/01/2015 08:35 WIB
Ibu Pengganti Tidak Tertekan Menyerahkan Anak yang Dilahirkan Ilustrasi: (Getty Images/Cameron Whitman/thinkstockphotos.com)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebuah penelitian melihat dampak kesehatan mental ibu pengganti (surrogate mother) yang telah memberikan bayi mereka. Satu dekade setelah melahirkan, menurut penelitian tersebut, ibu pengganti tampak tidak mengalami masalah kesehatan mental.

Sebelumnya pernah dilakukan penelitian yang mengatakan, depresi dan masalah psikologis dapat muncul pada minggu-minggu pertama dan beberapa bulan setelah kelahiran. Namun, sedikit yang diketahui mengenai dampak jangka panjang ibu pengganti.

Tim peneliti menyurvei 20 ibu pengganti satu tahun setelah kelahiran bayinya. Survei dilakukan kembali 10 tahun kemudian untuk menilai perubahan kesehatan mental mereka dari waktu ke waktu.


“Temuan dari penelitian ini menunjukkan, dalam jangka panjang ibu pengganti tidak mengalami masalah psikologis akibat menjadi seorang pengganti,” kata Vasanti Jadva, penulis utama penelitian dan peneliti senior di Pusat Penelitian Keluarga Universitas Cambridge, Inggris, seperti dilansir dari laman Reuters.

“Mengingat mayoritas ibu masih merasa positif dengan menjadi ibu pengganti tidak mengherankan jika tidak ditemui masalah psikologis,” kata Vasanti.

Karena masalah etika, praktek ibu pengganti di beberapa negara termasuk di beberapa negara bagian Amerika Serikat dianggap sebagai ilegal. Namun minat terhadap opsi ibu pengganti terus berkembang. Sebab, lebih banyak perempuan menunda kehamilan sampai nanti ketika kesuburan mereka berkurang.

Vasanti menyurvei  34 ibu pengganti pada 2003. Dia ingin melihat bagaimana perasaan para ibu itu setelah satu tahun melahirkan. Satu dekade kemudian, 20 perempuan yaang berpartisipasi pada survei tersebut berpartisipasi dalam penelitian lanjutan.

Seperti dilaporkan dalam jurnal Human Reproduction, para ibu pengganti diwawancarai di rumah, secara mendetail tentang hubungan dengan anak dan orang tua yang menyewa rahimnya, serta kesejahteraan psikologis mereka. Mereka diminta menyelesaikan kuesioner untuk menilai kesehatan mental mereka.

Setelah satu dekade, semua ibu pengganti dalam studi tindak lanjut memiliki kepercayaan diri normal atau di atas rata-rata. Tidak ada yang menunjukkan tanda-tanda depresi. Meski begitu, tiga ibu pengganti pengganti harus mengonsumsi obat penenang pada beberapa periode sejak dievaluasi pada 2003. Ketiga perempuan tersebut mendapat pengobatan saat wawancara lanjutan.

Mayoritas para ibu pengganti terus mempertahankan kontak dengan anak demikian halnya dengan ibu dan ayah yang membesarkan mereka.

(win/vga)