Barry Kusuma dan Kisah Idealisme Fotografer Travel

Tri Wahyuni, CNN Indonesia | Rabu, 04/02/2015 12:27 WIB
“Bagiku fotografi salah satu cara mengekspresikan diriku, idealisme yang kupunya dan akhirnya itu bisa menyebarkan keindahan lewat foto.” Barry Kusuma, Travel Photo Blogger asal Indonesia (Dok. Pribadi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketika melihat sebuah foto pemandangan yang begitu indah, seperti keindahan panorama laut atau kemegahan sebuah gunung, pernahkah terlintas dibenak Anda siapa gerangan orang yang mengabadikan foto tersebut? Tentunya seorang fotografer handal.

Kemudian terlintas kembali di pikiran, begitu menyenangkan pastinya menjadi fotografer yang bisa mengabadikan tempat-tempat indah di dunia. Betapa beruntungnya para fotografer itu bisa menikmati keindahan secara langsung bahkan mereka pun bisa mengabadikannya dengan indah.

Kini profesi sebagai fotografer travel memang banyak membuat orang lain iri. Mereka bisa bekerja sambil berwisata dan jalan-jalan. Tidak harus datang ke kantor pagi-pagi, bergumul di tengah kemacetan jalan raya, dan tidak harus pulang dengan kondisi yang sama. Belum lagi semua aktivitas menyenangkannya itu bisa menghasilkan pundi-pundi uang, bahkan terkadang angkanya pun fantastis.


Namun, ternyata menjadi fotografer travel tidak seindah kelihatannya. Meski memang istilahnya mereka selalu mendapatkan bonus pengalaman yang baru dan tempat yang indah untuk dikunjungi, menekuni profesi sebagai fotografer pun tak mudah. Menjadi forografer travel pun butuh persiapan yang matang setiap harinya.

Barry Kusuma, seorang travel photo blogger ternama, pun mengatakan menjadi fotografer travel tidak seindah yang terlihat di mata orang lain. “Orang kan ngeliatnya kita enak aja. Padahal sebelum pergi, persiapan yang harus dilakukan itu riset. Ada apa aja di sana. Harus update teknologi terbaru juga, smartphone, kamera yang sudah bisa langsung transfer wi-fi, kita juga harus nyiapin sim card yang langsung bisa membuat tetap terkoneksi,” kata Barry, saat berkunjung ke kantor CNN Indonesia beberapa waktu lalu.

Fotografer pun kerap dikejar deadline. Bahkan ketika deadline itu tiba dan koneksi internet untuk mengunggah foto-foto mereka ke blog atau ke klien tidak baik, mereka pun kerap dilanda stres. Belum lagi jika ada kepentingan untuk mengedit foto agar hasilnya lebih maksimal, itu tentu butuh proses yang panjang.

Itulah yang dirasakan Barry. Pengalamannya di bidang fotografi travel tak usah diragukan lagi. Sejak tahun 2004 predikat fotografer travel sudah melekat di dirinya.

Mulanya ia hanya terkenal di kalangan fotografer saja, namun semenjak dunia pariwisata dan blog dikenal secara luas, Barry Kusuma pun semakin terkenal. Dan kini ia menyebut dirinya sebagai travel photo blogger, yang berarti seorang fotograver travel yang menuliskan pengalaman atau pendapatnya mengenai tempat yang ada di dalam foto yang ia abadikan.

Jika melihat karyanya, pasti Anda tidak akan pernah menyangka kalau Barry ternyata seorang sarjana ekonomi. Jebolan Universitas Trisaksi jurusan Ekonomi Pembangunan itu pun belajar fotografi secara otodidak.

Barry belajar dari ayahnya, yang juga seorang fotografer pernikahan, tentang teknik-teknik dalam fotografi. Ia pun tak segan belajar dari temannya yang lebih mengerti tentang fotografi. Untuk lebih mempertajam kemampuannya, ia pun sering membolak-balik halaman buku atau majalah maupun browsing di internet untuk belajar tentang konsep fotografi.

“Jadi waktu awal-awal dulu belajar tuh kita bingung, mau motret tuh harus berkonsep. Apa sih konsep? Gimana sih bikin foto berkonsep? Gitu kan. Dan ternyata foto berkonsep itu harus dipikirkan dahulu sebelum kita menjepret,” ujarnya.

Awal kecintaannya terhadap fotografi sebenarnya muncul karena hobinya yang suka travelling. “Tahun 2000, zaman itu, travelling kemana-mana mahal banget kan. Daripada aku travelling cuma ngabisin duit doang, akhirnya belajar motret juga deh. Sambil travelling sambil motret. Gitu. Jadi pas pulang, dapet hasil enggak cuma hilang begitu saja,” ucap pria berumur 33 tahun itu.

Pertama kali Barry belajar memotret ia menggunakan kamera film milik ayahnya. Seiring berjalannya waktu Barry pun beralih menggunakan kamera saku. Harga kamera saku yang tergolong masih sangat mahal saat itu, mengharuskan Barry untuk menabung demi membeli sebuah kamera. Bahkan untuk membeli sebuah kamera DLSR pun, Barry rela menjual motornya dan menggantinya dengan motor yang lebih murah demi menambah modal untuk membeli kamera.

Meski travelling masih tergolong mahal saat itu, Barry tak kehilangan akal untuk tetap bisa menyalurkan hobinya tanpa harus menghambur-hamburkan uang. Ia selalu mencari akal untuk bisa travelling gratis.

“Waktu aku masih kuliah, itu bisa dapeti travelling gratis dari ikut ke pers kampus. Terus ikut organisasi mahasiswa yang mereka biasa studi banding ke Bali, atau ke mana gitu. Nah, itu aku jadi fotografernya, jadi panitia, terus travelling gratis. Sambil mereka jalan-jalan, kita juga motret,” tuturnya.

Selain itu, Barry pun ikut bergabung dalam berbagai komunitas untuk memperluas jaringan sehingga bisa menghemat biaya perjalannya. “Join komunitas buat ngirit travelling juga. Misalkan ikut komunitas, nanti mau ke mana, dianterin, atau nginep di rumahnya. Ya, backpacker banget sih, tapi sambil motret,” tambahnya.

Sejak saat itu pula, Barry mulai belajar menulis cerita perjalanannya. Agar karyanya tetap menghasilkan, Barry pun mulai mengirim tulisan-tulisannya ke media. Dari sinilah jalan menuju profesi sebagai fotografer travel mulai terbuka lebar untuk Barry.

Awal karier Barry Kusuma

Selama masa kuliah, Barry memang rajin mengirimkan karya-karyanya baik berupa foto maupun tulisan ke beberapa majalah. Sampai akhirnya ia dipercaya menjadi kontributor di Majalah Tamasya. Setelah lulus kuliah Barry pun didaulat untuk bekerja di majalah tersebut.

“Karena keseringan jadi kontributor waktu itu dibilang, ‘Udah Mas, kerja di sini aja.’ Ya sudah aku kerja di situ selama dua tahunan kurang lebih,” tukasnya.

Setelah dua tahun bekerja di Majalah Tamasya, Barry pun memberanikan diri untuk keluar dan mencoba peruntungannya dengan tangan dan kakinya sendiri. Ia mencoba bekerja secara mandiri. Mulai dari fotografer pernikahan, fotografer untuk profil perusahaan atau produk iklan, bahkan sampai fotografer komersil pun ia lakoni.

Walaupun menggeluti segala bidang, profesi sebagai fotografer travel pun masih ia lakoni. Bahkan dalam waktu lima tahun terakhir ia hanya fokus pada bidang tersebut. “Jadi istilahnya satu sisi aku cari duitnya komersil, idealisku adalah travel photography,” ucap pemilik situs alambudaya.com itu.

Kontributor Getty Image

Meski belajar fotografi secara otodidak, pencapaian Barry yang satu ini pasti cukup untuk membuktikan kemampuannya pada semua orang. Barry merupakan salah satu kontributor Getty Image dari Indonesia. Sebenarnya, Indonesia memiliki tiga fotografer yang sudah terdaftar dalam salah satu agensi stok foto terbesar di dunia itu. Dua orang fotografer dari bidang foto jurnalistik, dan satu fotografer dari bidang fotografi travel.

Tiga tahun sudah Barry menjadi kontributor fotografer di sana. Hasilnya pun sudah bisa ia nikmati. Saat ini foto Barry sudah mencapai 3.200 foto yang kebanyakan tentang Indonesia. Ia bertekad untuk melengkapi fotonya tentang Indonesia dulu baru kemudian ia pergi berburu foto ke luar negeri lebih banyak lagi karena sampai saat ini ia hanya fokus pada kawasan Indonesia dan Asia.

Untuk setiap foto yang ‘terjual’, ia akan mendapat royalti. “Satu foto mereka jualnya 150 sampai ribuan dolar sih. Royaltinya antara 30 sampai 40 persen per foto. Nanti mereka kan report-nya per bulan, dari situ royaltinya kita dikasih,” paparnya. “Kalau dari getty doang setahun ya bisa buat beli mobil.”

Perjuangan Barry untuk menembus ketatnya persyaratan Getty Image memang tidak mudah. Bahkan ia sudah mendaftar sejak lima tahun lalu. “Waktu itu kebetulan daftar sendiri. Prosesnya emang cukup panjang banget. Ketat banget. Jadi kita apply ke getty itu, terus setelah apply, kita di-review sama mereka. Kita harus masukin portofolio website kita, blog kita, social media kita ke mereka. Itu pun enggak langsung di terima. Jadi selama satu tahun paling cepet atau dua tahun, mereka me-review,” cerita Barry.

Barry pun mengamati, setiap bulan dalam waktu dua tahun pihak Getty Image selalu memantau websitenya. “Jadi kayaknya mereka ini nih enggak pengen yang masuk situ sekadar orang hobi, tapi orang yang konsisten. Setiap minggu, portofolionya harus berubah, harus update terus,” ujarnya.

Setalah mengamati Barry selama dua tahun, pihak Getty Image pun akhirnya memintanya mengirimkan 100 foto terbaik dari berbagai daerah dengan berbagai konsep yang berbeda. “Kalau kita 90 foto diterima, itu lewat. Maksudnya lulus. Tapi kalau dari seratus foto, sebelas aja enggak diterima, nah itu kita harus ngulang lagi,” jelasnya.

Fotografer Indonesia Travel

Selain sibuk menjadi kontributor Getty Image, Barry pun disibukkan dengan menjadi fotografer Indonesia Travel, sebuah akun pariwisata digital milik Kementerian Pariwisata. Ia didaulat untuk mempromosikan pariwisata Indonesia dengan menggunakan foto-foto yang ia abadikan dan dipublikasikan di semua akun Indonesia Travel, mulai dari blog, sampai akun media sosial.

“Jadi lebih ke fotografer yang ditunjuk untuk mempromosikan Indonesia. Kita posting juga di social medianya mereka. Terus kalau kita kemana-mana, ya mereka pasti bayarin juga,” ungkap laki-laki bertubuh tambun itu.

Berbeda dengan fotografer pihak kementerian yang selalu mengikuti agenda kementerian, Barry bisa menentukan lokasi memotretnya sendiri dan tetap dibiayai. Tapi tentunya hasil fotonya harus bisa ‘menjual’ tempat wisata tersebut ke khalayak ramai.

Meski sudah terbilang sukses menggeluti profesi sebagai travel photo blogger, sebenarnya Barry tidak pernah membayangkan akan menjadikan fotografer sebagai profesinya. “Sejujurnya, waktu pas awal-awal, aku enggak pernah kepikiran untuk jadi seorang fotografer, aku cuma ngelakuin yang kusuka. Dan enggak pernah kepikiran gimana sih caranya dapetin duit,” tuturnya.

Berbekal idealisme yang tinggi, awal mula Barry bergelut di bidang ini sebenarnya ingin menyelamatkan pariwisata Indonesia yang ketika itu seperti tak bernyawa. “Pariwisata Indonesia parah banget waktu itu, enggak banyak orang tahu. Ya sudah, aku bisa nulis bisa motret, aku share biar orang tuh ke situ. Kepuasannya adalah ketika kita share foto, share tulisan, orang lihat, terus jadi pengen ke situ, terus jadi ke situ, itu tuh udah jadi satu kepuasan tersendiri,” kata laki-laki yang masih aktif mengurus blognya itu.

“Kita memberikan sesuatu ke orang lain, pasti akan balik ke kita lebih besar. Aku enggak punya banyak duit, yang bisa kulakuin adalah share informasi, share pengetahuan, dan ternyata dari situ, balik ke akunya juga lebih besar, baik dalam bentuk dapat assignment duit, dapat penghasilan dari foto, ada yang sewa foto, buat pakai majalah, seperti itu dan duitnya kupakai buat travelling lagi,” imbuhnya.

Bahkan profesinya sebagai fotografer saat itu baru bisa dikatakan sanggup untuk menghidupinya pada tahun 2009 sampai 2010 lalu.

Demi mengejar idealismenya itulah Barry meninggalkan jalan hidupnya yang kebanyakan membuat teman-temannya menjadi banker. “Memang jadi bankir duitnya banyak, tapi karena aku enggak suka dengan rutinitas yang monoton, pekerjaan seperti itu, aku jadi ngga tertarik. Dan sekarang, mungkin aku sudah jauh dari mereka, mungkin ngelebihin ya karena pencapaian yang bisa ku dapet dari sini bener-bener yang enggak aku sangka-sangka,” pungkasnya.

Bagi Barry, fotografi adalah hidupnya. Semua hal yang ia lakukan pasti tidak pernah lepas dari fotografi. “Bagiku fotografi salah satu cara mengekspresikan diriku, idealisme yang kupunya dan akhirnya itu bisa menyebarkan keindahan lewat foto.”



(mer/mer)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK