Hikayat Kawasan Petak Sembilan

Tri Wahyuni, CNN Indonesia | Kamis, 19/02/2015 15:37 WIB
Hikayat Kawasan Petak Sembilan Kelenteng Dharma Bhakti di Petak Sembilan (Tri Wahyuni/CNN Indonesia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kawasan Petak Sembilan Jakarta sudah tersohor sebagai kawasan yang kental dengan budaya etnis Tionghoa. Bagaimana tidak, mayoritas penduduk di sini memang warga keturunan Tionghoa.

Jika berkunjung ke kawasan Glodok dan bertanya di mana Petak Sembilan berada, semua orang pasti menunjuk ke satu tempat, yaitu Gang Pancoran. Gang yang tepat berada di belakang Pasar Glodok ini, memang cukup lebar. Tapi, gang ini selalu di padati para pedagang karena sehari-harinya Gang Pancoran dijadikan sebuah pasar.

Seperti kebanyakan pasar lainnya, di sini di jual berbagai bahan makanan, mulai dari sayuran sampai bahan lauk pauk. Ada pula beberapa toko yang menjajakkan kue-kue kering, warung makan, dan toko yang menjual kebutuhan sehari-hari.


Pasar di kawasan Petak Sembilan ini memulai aktivitasnya sejak subuh. Para pedagang akan menutup lapaknya saat senja mulai menyapa. Ada juga beberapa pedagang yang menutup dagangannya pada malam hari, pukul 8 malam.

Di ujung Gang Pancoran juga terdapat salah satu kelenteng tertua di Jakarta, bernama Kelenteng Jin De Yuan atau dikenal juga dengan Vihara Dharma Bhakti. Bangunan ini telah berdiri sejak tahun 1650.

Dari vihara inilah nama kelenteng dipopulerkan. Pengurus Vihara Dharma Bhakti, Suherman, mengatakan, nama kelenteng hanya ada di Indonesia. "Asal mula kata kelenteng dulu sebenarnya dari sini. Ini dulu namanya Kwan Im Teng, artinya paviliun Kwan Im," kata Suherman bercerita.

Penyebutan kelenteng tercetus dari mulut warga pribumi yang sulit menyebutkan kata Kwan Im Teng. "Mereka kan susah mengucapkannya, akhirnya jadilah kelenteng," ujar Suherman.

[Gambas:Video CNN]

Meski mayoritas warga di Petak Sembilan merupakan etnis Tionghoa, tapi ada juga warga pribumi yang hidup berdampingan secara harmonis.
Mereka tinggal di beberapa jalan yang terhubung dengan Gang Pancoran yang terkenal dengan nama Petak Sembilan.

Lantas, dari mana nama Petak Sembilan berasal?

Ketika CNN Indonesia berbincang dengan warga di kawasan ini, mereka mengaku tidak ada yang tahu pasti tentang awal mula kawasan ini disebut Petak Sembilan. Kabar yang beredar selama ini, penamaan Petak Sembilan diambil karena dulu, di kawasan ini ada rumah petak yang berjumlah sembilan buah.

"Dulu di depan rumah petak itu, ada warung kopi. Nah, kalau orang mau minum kopi, ditanya mau ke mana, mereka jawabnya ke Petak Sembilan," kata Tjoen Hauw, warga Gang Pancoran.

Tapi, menurutnya, ada juga sejarah yang mengatakan kawasan ini dulunya disebut Tanah Lapang. "Nama aslinya tanah lapang karena lokasinya luas dan tanah semua," ucapnya.

Seiring berjalannya waktu, terjadilah pembangunan di sana sini. Kawasan ini pun sontak berubah menjadi kawasan perumahan padat penduduk. "Mulai tahun 60-an sudah jadi pemukiman," tutur Tjoen Hauw. Sampai saat ini, jumlah penduduk di kawasan ini mencapai 18 ribu sampai 20 ribu jiwa.

Tjoen Hauw mengaku sudah tinggal di kawasan ini selama seumur hidupnya, yang berarti sudah terhitung selama 54 tahun.

Ia mengatakan, sebenarnya sejarah Petak Sembilan ini sudah pernah dibukukan. Namun, sampai saat ini buku tersebut belum diketahui keberadaannya dan masih dalam pencarian. Tapi, beberapa warga mengaku pernah membaca buku itu.

Bahasanya yang masih menggunakan ejaan kuno membuat mereka sulit untuk memahaminya. Akibatnya, sejarah kawasan ini pun masih simpang siur.

Satu hal yang mereka tahu pasti adalah asal usul nama gang ini, yaitu Gang Pancoran. "Dulu di depan gang ada pancuran air dari talang air di atas. Mau menyebut pancuran kan susah, akhirnya disebut pancoran. Sekarang pancurannya sudah enggak ada, tinggal riwayat," pungkas lelaki paruh baya ini.






(utw/utw)