Kisah Perempuan Berjenggot Lebat yang Jadi Korban Bullying

Merry Wahyuningsih, CNN Indonesia | Jumat, 20/03/2015 09:12 WIB
Perempuan asal Slough di Berkshire ini sering menjadi korban bullying sejak wajahnya ditumbuhi jenggot lebat di usia 16 tahun. Harnaam Kaur, perempuan yang memiliki jenggot karena penyakit PCOS (Dok. Instagram/harnaamkaur)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mulai dari Twitter, komentar menghina meluas melalui Facebook, Reddit, Path, dan media sosial lainnya. Intimidasi online terus berkembang menjadi bullying yang menyiksa korbannya.

Sekarang sebuah survei baru mengungkapkan bahwa perilaku tidak menyenangkan dan menyakitkan menjadi semakin umum dalam kehidupan dunia maya, bahkan juga terbawa hingga kehidupan nyata.

Seorang perempuan bernama Harnaam Kaur (23) tahu persis rasanya menjadi korban intimidasi. Perempuan asal Slough di Berkshire ini sering menjadi korban bullying sejak wajahnya ditumbuhi jenggot lebat di usia 16 tahun.


Dia adalah salah satu dari jutaan orang dewasa di Inggris yang mengalami intimidasi di beberapa titik kehidupan mereka, dengan sebagian besar penyebabnya adalah penampilan tubuh yang dipandang tidak wajar di masyarakat.

Kaur, yang kini menjadi juru kampanye anti-bullying, muncul di sebuah program televisi di Inggris baru-baru ini dan bercerita tentang pengalaman hidupnya menjadi korban bullying.

Masalahnya dimulai setelah ia didiagnosis polycystic ovary syndrome (PCOS), suatu kondisi yang menyebabkan pertumbuhan rambut berlebih.

Akibatnya, perempuan yang bekerja sebagai asisten pengajar ini mengalami tahun-tahun bullying yang kejam karena penampilannya, dan telah menghabiskan ribuan pound sterling berusaha keras untuk menyingkirkan jenggot di wajahnya.

“Ketika saya pertama kali mulai tumbuh jenggot, saya membiarkannya tumbuh karena alasan agama. Tetapi setelah beberapa tahun, saya membiarkannya karena alasan lebih pribadi,” katanya dalam sebuah wawancara yang dilakukan setelah fotonya muncul dalam sebuah pameran untuk merayakan wajah terbaik di dunia rambut, seperti dilansir dari laman Daily Mail.

“Itu membuat saya merasa seperti seorang perempuan percaya diri, pemberani, yang tidak takut untuk melanggar norma-norma di masyarakat.”

Harnaam Kaur, sebelum dan sesudah tumbuh jenggot (Dok. Instagram/harnaamkaur)

Dikutip dari Mayo Clinic, polycystic ovary syndrome (PCOS) atau sindrom ovarium polikistik merupakan gangguan hormonal yang terjadi karena adanya resistensi insulin dalam tubuh. Tingginya insulin dalam tubuh menyebabkan perempuan mengalami hiperandrogen — kelebihan hormon androgen, hormon yang biasanya dominan di tubuh laki-laki.

Perempuan dengan PCOS memiliki banyak kista kecil yang terletak di sepanjang tepi luar dari masing-masing ovarium (indung telur). Hal ini menyebabkan tidak adanya ovulasi, sehingga menyulitkan perempuan untuk mendapatkan keturunan.

Periode menstruasi yang tidak teratur atau berkepanjangan, pertumbuhan rambut berlebih, jerawat, dan kelebihan berat badan, adalah gejala yang umumnya dialami perempuan dengan PCOS. Kondisi ini juga menjadi penyulit hamil yang paling banyak dialami perempuan.

Kegemukan adalah gejala yang paling umum, karena dapat memicu terjadinya resistensi insulin dan menyebabkan tingkat insulin tinggi di dalam tubuh. Insulin yang tinggi akhirnya membuat sel telur tidak dapat berkembang dan gagal mengalami ovulasi, yakni pelepasan sel telur matang atau dikenal dengan masa subur.

Diagnosis dan pengobatan dini pada penderita PCOS dapat mengurangi risiko komplikasi jangka panjang, seperti diabetes tipe 2 dan penyakit jantung.

(Baca juga: Para Perempuan yang Wajahnya Ditumbuhi Kumis & Jenggot Lebat)

(mer/mer)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK