Kebiasaan Makan di Luar Rumah Memicu Darah Tinggi

Utami Widowati, CNN Indonesia | Rabu, 15/04/2015 05:34 WIB
Kebiasaan Makan di Luar Rumah Memicu Darah Tinggi Ilustrasi makan di restoran. (Thinkstock/monkeybusinessimages)
Jakarta, CNN Indonesia -- Berwisata kuliner memang asyik. Apalagi jika dilakukan bersama teman-teman. Namun bagi pecinta makanan luar rumah, cara ini tampaknya harus diwaspadai pula.  

Sebuah penelitian di Singapura membuktikan ada hubungan langsung antara konsumsi makanan restoran dengan risiko tekanan darah tinggi.

Masalah pre-hipertensi lebih sering menyerang pria dibanding wanita.


Penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa dibawah pengawasan para ilmuwan dari Dune-NUS Graduate Medical School Singapore (Duke NUS) membuktikan hal ini.

Prinsipnya sederhana saja, makanan di luar rumah seperti di restoran biasanya punya kadar garam yang lebih tinggi. Demikian juga kadar kalori dan lemak jenuhnya dibanding dengan makanan rumahan.

Penelitian dilakukan terhadap mereka yang awalnya tidak mengidap hipertensi dan para dewasa muda yang mengidap pre-hipertensi  hingga mereka yang punya risiko sangat tinggi mengidap hipertensi.

Dr. Jafar, dari Layanan Kesehatan dan Program Sistem di Duke-NUS, mengatakan, “Meski sebelumnya sudah ada penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat dan Jepang untuk menemukan perilaku yang berhubungan dengan hipertensi, tapi sangat sedikit yang dilakukan di populasi Asia Tenggara.”

“Penelitian kami akan mengisi celah itu dan menjelaskah hubungan antara gaya hidup dengan risiko pra-hipertensi dan hipertensi. Semua itu sebenarnya berpotensi untuk diubah dan bisa diterapkan pada anak muda seluruh dunia, terutama pada mereka yang keturunan Asia,” kata Jafar melanjutkan seperti dikutip dari Independent

Lalu para peneliti menganalisa data dari sampel sebanyak 500 orang berusia 18-40 tahun. Peneliti menemukan 27,4 persen dari mereka yang diteliti mengalami pra-hipertensi dengan 38 persen diantara mereka 12 kali
makan bukan dari masakan rumahan per minggu.

Laporan penelitian menunjukkan juga bahwa pre-hipertensi juga lebih sering terjadi pada pria (49 persen ) dibanding pada wanita (9 persen).

Untuk mencapai kesimpulan dari penelitian mereka, para peneliti mengumpulkan data tekanan darah, indeks massa tubuh dan gaya hidup, termasuk tingkat aktifitas fisik.

Makan di luar, merokok,  kelebihan berat badan dan sedikitnya aktifitas fisik selama ini jadi variabel menuju ke kondisi itu. Tim dari Dr. Jafar, berniat akan melanjutkan penelitian untuk mencegah serangan hipertensi pada orang dewasa di Singapura.  

Penelitian ini dipublikasikan di American Journal of Hypertension dan didukung oleo Duke-NUS Signature Research Programme, dengan dana dari Kementrian Kesehatan Singapura.

(utw/utw)