Kisah Hidup Tuty Adib, Perancang Baju Pengantin Anak Presiden

Windratie, CNN Indonesia | Kamis, 16/04/2015 16:45 WIB
Kisah Hidup Tuty Adib, Perancang Baju Pengantin Anak Presiden Ibu Negara Iriana Joko Widodo (kiri) didampingi perancang busana, Tuty Adib (kanan) menunjukkan busana calon menantunya Selvi Ananda Putri untuk sesi foto prewedding dengan Gibran Rakabuming Raka di Butik Tenun Lurik Solo Gaiya di Jalan Pakel, Laweyan, Solo, Jawa Tengah, Selasa (14/4). (ANTARA FOTO/Maulana Surya)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dalam ranah fesyen tanah air, nama Tuty Adib (46) memang bukan sosok baru lagi. Sejak tahun 2000, Tuty telah menggeluti dunia merancang busana khususnya pakaian muslimah.  

Tuty mengangkat busana muslim dengan lini fesyen high end wear dan wedding brides. Untuk lini wedding brides ada dua kategori rancangannya, dalam bentuk gaun pengantin dan dalam bentuk kebaya pengantin.

“Kalau di Indonesia, walaupun tidak berhijab tapi kalau menikah pasti pakai kebaya, makanya busana pengantin yang saya buat bentuknya adalah kebaya pengantin dan gaun pengantin,” kata Tuty saat berbincang dengang CNN Indonesia pada Rabu (15/4).


“Semua berawal dari diri saya sendiri,” kata Tuty tentang mengapa dia memutuskan mengambil jalur fesyen muslimah. Pada 1996, ketika Tuty memutuskan untuk menikah, saat itu juga dia mantapkan hatinya untuk berhijab.

Di masa itu, fesyen muslimah memang tidak sebesar sekarang, desainer muslimah bisa dihitung dengan jari. Namun, kondisi itu tak mengurungkan niat Tuty untuk berhijab.

Tuty akhirnya merancang sendiri hijab dan baju muslimnya. Tak dinyana, banyak orang tertarik pada rancangannya.

Peluang tersebut dimanfaatkannya untuk mulai menggeluti bisnis fesyen muslimah.

“Zaman dulu masih sedikit desainer (muslim), belum banyak pilihan busana muslimah, kemudian saya menggeluti dunia fesyen busana muslim sesuai dengan karakter saya,” kata Ketua Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia tersebut.

Karakter kuat feminin elegan

Di tangannya, busana muslimah yang dulu terkesan kaku dan kuno menjadi busana yang elegan dan feminin. Feminin elegan diakui Tuty sebagai look atau karakter khas yang ingin ditampilkan dari karya-karyanya.

Pada tahun 2000, Bilqis by Tuty Adib resmi dibuka. Busana muslimah dengan jilbab dan baju longgarnya tidak lagi ketinggalan zaman. Bilqis bahkan telah menetapkan tren busana muslim dengan desain feminin klasik.

“Kalau ciri khas saya ke detail, garis cutting lebih banyak permainan lipatan-lipatannya, cutting simple, dan lean,” kata Tuty.  Look feminin dan elegan tersebut terus dipertahankannya sampai sekarang. Beberapa pelanggan, diakui Tuty, bahkan ikut melebarkan ke daerahnya masing-masing untuk dijual.

Koridor syariah

Saat ini, sudah tersebar tiga butik Bilqis. Dua di Jakarta, di daerah Kebayoran Baru dan Kelapa Gading, dan satu di Solo, Surakarta. Sementara, rumah produksinya ada di Jalan Pakel, Kerten, Surakarta, Jawa Tengah.

Malang-melintang di panggung fesyen selama lima belas tahun, Tuty Adib rajin membawa karya-karyanya pada berbagai pergelaran fesyen di dalam dan luar negeri. Di antara, Jakarta Fashion Week, Indonesai Fashion Week, serta pameran bersama Kementerian Pariwisata di Melbourne, Australia dan Auckland, Selandia Baru, dan London.

Belum lagi pameran-pameran di luar negeri yang cukup banyak, di Dubai, Hongkong, Malaysia, Turki, dan Pakistan.

Sebagai perempuan yang memakai busana muslim dia tahu koridor syariah busan muslim. “Saya merasa tidak ada kesulitan. Tapi perlu diperhatikan koridor syariah saat orang membuat busana muslim dalam koridor syariah,” tuturnya menjelaskan.

“Yang harus diperhatikan tidak boleh tembus pandang, tidak boleh melekuk di tubuh, tidak boleh kelaki-lakian,” ujar Tuty tentang busana muslimah high end wear-nya dengan kisaran harga mulai Rp 1.5 juta ke atas tersebut.


(win/mer)