Merujuk pada penelitian oleh Universitas Indonesia, sekitar 57,8 persen pasien di rumah sakit Jakarta mengalami penyakit komplikasi pernapasan. Dari keseluruhan pasien, sekitar 1,2 juta atau 12,6 persen di antaranya memiliki keluhan asma atau bronkitis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dengan perkiraan biaya Rp 25 ribu sampai Rp 92 ribu, berarti biaya yang dikeluarkan total bisa Rp 225 miliar sampai Rp 11 triliun," ujar peneliti perubahan iklim dan kesehatan lingkungan dari Universitas Indonesia, Budi Haryanto, dalam jumpa pers di Belly Clan, Jakarta, Kamis (21/5).
Belum lagi penyakit gangguan pernapasan lainnya yang juga memakan biaya triliunan.
Melihat data ini, Budi mempertanyakan kemampuan pemerintah untuk mengatasi penyakit akibat penyakit pernapasan di Jakarta.
"Pada 2010, Kementerian Kesehatan mendapat dana dari APBN hanya Rp 20 triliun. Hanya orang Jakarta akibat gangguan pernapasan saja hampir dua kali lipat biaya itu," kata Budi.
Penyebab utama dari gangguan pernapasan orang di Jakarta, kata Budi, adalah polusi udara. Tak hanya di jalan, bahkan di dalam ruangan pun potensi masih ada.
"Orang yang masuk ke dalam ruangan kantor misalnya, partikel-partikel debu kecil bisa sampai 2 mikron itu menempel di baju dan tubuh. Itu akan menyebar ke seluruh ruangan dan bisa masuk ke organ pernapasan," tutur Budi.
Oleh karena itu, Budi mengatakan bahwa salah satu tantangan pemerintah yang besar saat ini adalah mengurangi polusi dan kemacetan.
(mer/mer)