Alasannya, selain warga Korea Selatan yang terinfeksi MERS pertama kali setelah mengunjungi Timur Tengah, seluruh pasien yang positif MERS terinfeksi virus tersebut saat berada di dalam fasilitas kesehatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Adalah keputusan yang wajar jika WHO tidak merekomendasikan pembatasan perjalanan ke Korea. Sebenarnya, tidak ada kasus di mana wisatawan asing terinfeksi MERS pada saat berwisata di Korea,” ujar Direktur Korea Tourism Organization (KTO) Jakarta Office, OH Hyonjae, dalam keterangan tertulis yang diterima CNN Indonesia, Selasa (16/6).
“Dengan demikian, saya dapat mengatakan bahwa Korea sangat aman, tidak seperti yang diberitakan oleh media.”
Menurut Hyonjae, dengan terjadinya MERS di Korea Selatan, mulai 29 Mei lalu, KTO sudah mengoperasikan ‘tim inspeksi kondisi pasar pariwisata Korea’ untuk melakukan inspeksi terhadap dampak dan progres MERS yang berpengaruh pada pasar utama pariwisata Korea.
Dalam kondisi ini, sudah dipersiapkan pelaksanaan langkah-langkah untuk mengantisipasi penyebaran MERS.
Pertama-tama, untuk menciptakan lingkungan yang aman untuk berwisata bagi wisatawan asing, KTO mendistribusikan safety supplies (hand sanitizer) secara gratis kepada perusahaan-perusahaan (sebanyak 2.268 perusahaan), yang dijamin oleh KTO, seperti fasilitas akomodasi, pertokoan, restoran dan lainnya.
Selain itu, KTO juga melengkapi bus-bus pariwisata, yang digunakan oleh grup tur, dengan safety supplies (hand sanitizer, masker, termometer) agar dapat digunakan oleh wisatawan asing.
Jika terjadi kondisi darurat seperti dicurigai terinfeksi MERS atau memperlihatkan gejala MERS selama berkunjung ke Korea, maka wisatawan atau travel agent dapat menghubungi Hotline yang dioperasikan oleh KTO (telepon 1330, aktif 24 jam, tersedia dalam 4 bahasa) agar segera mendapatkan tindakan dari rumah sakit dan pusat kesehatan terdekat yang menyediakan layanan bahasa asing.
(mer)