Psikopat sendiri tidak muncul secara tiba-tiba. “Jika Anda melihat ke belakang, ke masa kecil pelaku kejahatan Anda akan menemukan sejarah yang sangat panjang,” kata Robert Hare yang mempelajari masalah psikopat selama lebih dari 40 tahun.
Kejahatan yang dilakukan biasanya melampaui pertengkaran dan adu argumen yang biasa terjadi antar teman atau saudara yang wajar terjadi saat mereka masih kanak-kanak. “Tindakan mereka biasanya jauh di luar norma,” kata Hare seperti dikutip CNN.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Termasuk di dalamnya kurangnya rasa bersalah, kurangnya empati, kurangnya kepedulian terhadap performa di mata orang lain hingga rendah atau tidak jujurnya emosi mereka.
Seiring waktu, perilaku mereka akan menunjukkan seberapa parah kondisi psikopati mereka, lebih dari sekadar keegoisan kanak-kanak. Bahkan ketika dibandingkan dengan anak-anak pengidap kelainan perilaku dan masalah psikologi lain, anak-anak yang punya kecenderungan menjadi psikopat lebih ‘berani’ melawan orang tua, guru dan teman-teman sebayanya.
Namun dengan menggunakan Magnetic Resonance Imaging (MRI) para ahli bisa meneliti fungsi otak pengidap psikopat. Terutama fungsi pada area frontal cortex dan sistem limbiknya.
Ini adalah area otak manusia yang mengolah empati, alasan moral, proses emosi sosial seperti rasa bersalah dan rasa malu, dan fungsi belajar tentang hadiah dan ganjaran.
Psikopati juga diduga mengandung kondisi diturunkan. “Semakin pariah tingkat psikopatinya, semakin besar kelainan ini akan diturunkan,” kata J. Reid Meloy, psikolog dan penulis buku The Psychopathic Mind.
“Memang ada faktor genetik yang terlibat didalamnya. Ada banyak bukti yang mengindikasikan psikopati adalah interaksi antara genetik dan faktor lingkungan,” kata Hare sepakat dengan Meloy.
(utw/utw)