Suntik Botox pada Remaja di Bawah 20 Tahun Terus Meningkat

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Rabu, 24/06/2015 10:49 WIB
Suntik botox dikenal untuk mengencangkan kulit wajah. Namun, kini remaja di bawah usia 20 tahun juga mulai getol menggunakan perawatan tersebut. Ilustrasi (Win McNamee/Getty Images)
Jakarta, CNN Indonesia -- Suntik botoks atau filler dikenal untuk mengencangkan kulit wajah. Namun, kini remaja di bawah usia 20 tahun juga mulai getol menggunakan perawatan tersebut. Bahkan, jumlah anak muda itu meningkat setiap tahunnya.

Merujuk pada data American Society of Aesthetic Plastic Surgeons, secara umum pengguna botox dan filler wajah pada 2013 mencapai sekitar 9,5 juta. Angka tersebut melonjak 16 persen dari 2012 yang hanya 8,4 juta pasien.

Dari keseluruhan data tersebut, pasien pria meningkat dua kali lipat setiap tahunnya. Sementara itu, penerima suntikan botox wajah pada rentang usia belasan hingga 25 tahun meningkat sekitar 25 persen.


Peningkatan ini juga dialami oleh dokter kecantikan, Olivia Ong. "Pasien saya ada 3.300 dan pasien botox usia remaja dari 16 tahun sampai 20 tahun meningkat sekitar 30 persen," ujarnya sesaat setelah menggelar jumpa pers di Jakarta, Selasa (23/6).

Menurut Olivia, kebanyakan pasien remaja tidak puas dengan bentuk hidung dan pipi tembam yang mereka miliki. "Ya, tipe wajah Asia memang begitu biasanya. Saya coba beri edukasi di titik mana yang perlu diinjeksi. Enggak bisa sembarangan. Setiap orang beda," tutur Olivia.

Selain itu, suntik ini juga dapat menjadi salah satu solusi untuk menyeimbangkan struktur muka. "Misalnya pipinya ada yang tidak simetris, bisa dikasih filler di bagian tertentu. Bisa juga buat cari ilusi figur yang baik untuk wajah tertentu," kata Olivia memaparkan.

Untuk hasil maksimal, Olivia biasanya menyuruh pasien kembali konsultasi dan suntik kurang lebih enam bulan setelah perawatan pertama. Setelah beberapa kali, jangka penyuntikkan dapat diperpanjang, misalnya sembilan bulan, bahkan setahun sekali.

Suntik botoks atau filler, kata Olivia, sebenarnya hampir tidak memiliki efek samping. Namun, pasien disarankan hati-hati memilih dokter.

"Kalau kena pembuluh darah bisa lebam. Oleh karena itu, harus sangat diperhatikan tekniknya," ucap Olivia.


(mer)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK