Hermes Birkin adalah lambang dan simbol kekayaan dan gaya terkini para perempuan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setelah mendapatkan informasi terhadap praktik-praktik kejam yang dilakukan untuk mendapatkan kulit buaya yang akan dibuat tas Hermes dengan menggunakan nama saya, saya sudah meminta Hermes untuk menghapus nama Birkin Croco sampai ada praktik yang lebih baik dan sesuai dengan norma internasional," kata Birkin dalam pernyataan, dikutip dari Guardian.
Birkin sendiri baru menyadari kejamnya proses pengulitan buaya karena kelompok hak asasi hewan, PETA, menerbitkan sebuah uraian di peternakan buaya dari Texas sampai Zimbabwe yang dibantai dan dikuliti. Dalam prosesnya digambarkan bahwa buaya tersebut hidup diletakkan berdesakan dalam sebuah lubang beton kering sebelum dibunuh dengan kejam.
Dalam uraian tersebut, PETA mengatakan bahwa untuk membuat satu tas ada 2-3 buaya yang dibunuh.
"Di usia satu tahun, buaya ditembak dengan menggunakan captive bolt gun atau dipotong dengan kejam saat mereka masih hidup sehingga mereka pasti kesakitan," tulis PETA dalam uraiannya.
"Penyidik melihat buaya terus menggerakan kaki dan ekor mereka di rak yang penuh darah dan wadah es yang berdarah, beberapa menit setelah mereka dibantai."
Pihak Hermes mengaku prihatin dan kaget dengan gambar mengenai proses pengulitan buaya.
"Hermes menghormati dan prihatin serta terkejut dengan gambar yang baru-baru ini muncul," kata Hermes dalam pernyataan kepada Daily Mail.
"Sebuah penyelidikan sedang berlangsung di peternakan di Texas yang terlibat dalam video. Setiap pelanggaran aturan akan diperbaiki."
Namun Hermes menegaskan bahwa peternakan tersebut bukanlah milik mereka. Dan kulit buaya dari tempat itu tidak digunakan untuk pembuatan tas Birkin. Hermes mengklaim kalau mereka memberikan standar tinggi dalam pemilihan kulit buaya yang dipakainya.
(chs/mer)