Tren Pamer Tubuh Spornoseksual dan Seks Terselubung

Windratie, CNN Indonesia | Kamis, 13/08/2015 19:10 WIB
Spornoseksual di satu sisi bisa mengarah kepada keindahan, tapi bisa juga menjadi penyimpangan. Spornoseksual di satu sisi bisa mengarah kepada keindahan, tapi bisa juga menjadi penyimpangan. (Getty images/ Thinsktock/wrangel)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketika istilah metroseksual ditasbihkan pada era 90-an, saat itu budaya konsumerisme pada masyarakat pasca-industri mendorong para lelaki gemar berdandan. Mereka menaruh perhatian sangat besar untuk penampilan. Perawatan rambut, kuku, kulit, bukan lagi dominasi kaum hawa. Pasar potensial produk-produk gaya hidup justru dalam genggaman kaum lelaki.

Seperempat abad kemudian zaman memang bergeser, tapi tingkah laki-laki tetap jadi sorotan. Kali ini, ada lagi istilah baru untuk kebiasaan baru laki-laki yang gemar menampilkan diri, yaitu spornoseksual. Sport, porn, metrosexual, demikian seorang jurnalis Mark Simpson mengistilahkannya. Tidak lagi berfokus pada baju atau aksesori lain yang melekat di tubuh, tubuh mereka lah yang kini mereka puja.

Pemuja tubuh, ini bukan fenomena yang aneh. Menurut J.F Warouw, sosiolog perkotaan dari Universitas Indonesia, para pemuja tubuh bisa disebut semacam gejala di era perkotaan. Fenomena ini mengarah kepada budaya narsistik.


“Budaya narsis adalah budaya orang yang menampilkan diri. Jika narsistik menjadi berlebihan maka bisa menjadi sebuah patologi (penyimpangan),” kata Warouw saat berbincang dengan CNN Indonesia pada Kamis (13/8).

Spornoseksual adalah wilayah yang dapat dibahas dalam kajian psikologi sosial. Dalam laman Mayo Clinic dijelaskan, bahwa gangguan kepribadian narsistik adalah gangguan mental di mana seseorang merasa penting secara berlebihan, ada kebutuhan mendalam untuk dikagumi, sehingga kurang empati terhadap orang lain.

Sejak dahulu, laki-laki berbadan tegap kerap digambarkan sebagai sosok lelaki sejati. Warouw mencontohkan bagaimana kisah pewayangan seperti Mahabharata menampilkan sosok Arjuna yang dianggap sebagai kesatria. “Bagaimana kisah pewayangan amat menonjolkan fisik Arjuna.” Para kesatria pewayangan digambarkan sebagai laki-laki bertubuh terbuka.   

Konsep lelaki kesatria yang tanpa disadari sudah mengakar kuat tersebut lalu terus diwariskan sampai era milenium, berlanjut terus sampai sekarang. Modernitas mendukung lahirnya pusat-pusat kebugaran. “Pusat-pusat kebugaran berkembang pesat, di mana-mana ada gym.” Bentuk pengagungan fisik yang menunjukkan otot berlebihan kian menemukan tempatnya.

Sebetulnya, laki-laki membesarkan tubuh bukan gelagat baru. Sejak tahun 1970-an, laki-laki sudah mengekspos otot-otot hasil olah tubuh mereka yang keras. Warouw mengatakan, salah satu bentuk laki-laki mencintai tubuh mereka bisa dilihat pada para binaragawan.

“Binaragawan adalah orang-orang yang mencintai tubuh mereka. Tubuh mereka dibuat sedemikian rupa untuk dipamerkan sehingga menciptakan konsep kelaki-lakian yang diinginkan, yaitu budaya macho,” kata Warouw.

Tidak semua orang rupanya sepaham untuk menyukai tubuh seperti Hercules ini, kata Warouw. “Sebagian perempuan malah ada yang merasa jijik melihat laki-laki berotot seperti itu,” ujar Warouw tertawa. Ada juga yang menganggap sifat narsis sebagai kebanci-bancian.

Di zaman modern seperti ini, sifat narsistik didukung pula dengan banyak pusat-pusat kebugaran. “Gym menjadi tren di kalangan para pencinta badan yang ingin memperlihatkan bentuk tubuh mereka. Di kalangan anak muda mereka ingin memiliki tubuh yang atletis.”

Spornoseksual dan seks terselubung

Saat membentuk tubuh dan hasrat untuk memamerkannya sebatas estetika semata, itu tak jadi soal. Yang menjadi masalah jika sudah masuk ke wilayah physical sexually expose, kata Warouw menjelaskan. “Dengan bermodal fisik mereka menjual seksualitasnya. Jadi sekarang ini tidak hanya perempuan yang jadi pelacur, tapi juga laki-laki.”

Warouw melihat adanya fenomena kaum jetset yang menjadi pasar wilayah tersebut. “Banyak ibu-ibu muda kaya yang didampingi oleh bodyguard, tapi di luar itu bisa saja menjadi bodyguard seksual.” Spornoseksual di satu sisi bisa mengarah kepada keindahan, tapi bisa juga menjadi penyimpangan.

“Sudah jadi bagian dari gaya hidup, para perempuan akan merasa bangga jika punya laki-laki bertubuh macho,” ujarnya. Ada seks terselubung yang mengintai, yang masuk ke wilayah prostitusi. “Laki-laki mencari perempuan dengan modal (fisik) tersebut. Tidak punya uang tapi punya tampang tampaknya menjadi tren.” Dan pasar untuk laki-laki 'punya tampang', bertubuh macho, ini pun terbuka, tidak cuma di Indonesia tapi sampai ke luar negeri.

Tubuh sixpack bagi laki-laki tipe penjaja tubuh ini adalah modal mereka mencari uang. “Sebagian besar dari mereka hidup dari kafe ke kafe, tidak seperti para olahragawan yang mementingkan prestasi,” ujar Warouw. Uang, pesta, dan seks, sudah ada sejak lama, tapi kehadirannya jarang terungkap.

Orang dengan kecintaan tubuh yang berlebihan bisa mengarah kepada eksploitasi seks. Warouw mengungkap di daerah bahkan ada sebuah budaya tradisional Warok dan Gemblakan di Jawa Timur. “Laki-laki naksir kepada laki-laki lain karena ketertarikan fisik.”

Spornoseksual bisa berkembang ke arah-arah yang menghasilkan (profitable) untuk diri laki-laki itu sendiri. Eksistensi para lelaki macho bisa jadi counter negative seperti halnya para olahragawan yang mengejar prestasi, atau untuk estetika seperti halnya orang-orang yang bergelut di dunia hiburan, atau untuk kesehatan semata.

Namun, di lain pihak bisa juga menjadi counter productive di mana keindahan tubuh dieksploitasi secara seksual, seperti para laki-laki penjaja seks.


(win/mer)