Dikutip dari Reuters, studi mereka menyelidiki 252 perempuan yang memiliki tekanan darah tinggi selama kehamilan, dan juga saudara perempuan dan laki-laki mereka yang tidak pernah memiliki tekanan darah tinggi.
“Kami ingin memisahkan kehamilan perempuan dari sejarah keluarganya,” kata pemimpin penelitian Tracey Weissgerber, yang juga peneliti dari Mayo Clinic di Rochester, Minnesota, Amerika Serikat, tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekitar 72 persen perempuan yang memiliki tekanan darah tinggi selama kehamilan berakhir dengan mengembangkan kondisi itu kembali sebelum usia 60 tahun, dibandingkan dengan sekitar 62 persen perempuan yang belum pernah mengalami hipertensi.
Namun, bagi saudara laki-laki dan perempuan yang tidak memiliki riwayat hipertensi, memiliki saudara perempuan dengan hipertensi saat hamil berarti adalah risiko hipertensi lebih tinggi di kemudian hari untuk saudara kandungnya. Bagi saudara laki-laki juga ada peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.
Selain itu, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan secara pasti mengapa perempuan memiliki risiko hipertensi yang lebih tinggi, ujar Weissgerber dan rekannya, Vesna Garovic, peneliti di Mayo Clinic, Rochestes, Minnesota.
(win/mer)