Bahkan dari jarak yang mengaburkan wajah sekalipun, alis menggerakkan kulit di atas mata yang bergerak dinamis, dan otot-otot yang menghubungkan alis dan dahi. Alis menyoroti kemampuan luar biasa dari otot-otot tersebut, mentransmisikan sesuatu yang tak kekal dari peristiwa mental ke dalam bentuk fisik yang terlihat.
Kebingungan, perselisihan, kejutan, permusuhan, ketertarikan, kejenakaan, dan banyak lagi yang bisa terlihat dari wajah melalui liukan elastis dan terjemahan liar sepasang alis. Jadi jelas sudah, alis sangat penting untuk mengungkapkan ekspresi emosional, kata Sadr. Tidak percaya, coba bayangkan ekspresi sangat terkejut atau marah dengan alis netral tak bergerak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yang lebih mengejutkan lagi, alis mungkin terlibat tidak hanya dalam ekspresi emosional tapi juga dalam persepsi emosi. Bersama dengan wajah dan tubuh, alis secara spontan akan menirukan mimik orang-orang yang berinteraksi dengan Anda dalam situasi sosial, semacam bentuk gema antarpribadi.
Alis adalah ahli komunikasi nonverbal yang jauh melampaui sinyal emosi dan sikap. Ketika Anda berbicara, seperti dua bendera semaphore mereka akan sibuk memberikan isyarat, seperti yang dilakukan tangan, sehingga memberikan kontribusi penuh terhadap kata-kata yang Anda ucapkan, bahkan memaknai keheningan.
Mereka bergerak dengan penuh arti di wajah lawan bicara Anda juga, atau bisa juga bergeming, tidak tertarik, atau tidak senang. Dalam bahasa isyarat, alis akan naik untuk mengubah pernyataan pertanyaan.
Sama halnya dengan intonasi naik yang menandai pertanyaan dalam bahasa lisan, dan dari jarak kejauhan, gerakan alis bisa menjadi salam universal. Sementara, gerakan cepat dan saling begerak kadang dijabarkan sebagai dengan merayu atau wajah komedi.
(win/mer)