Dilansir dari laman Daily Meal, siswa menggabungkan sereal, yang telah mengandung gula dan sorgum, dengan ragi dan gula merah kemudian memfermentasi campuran tersebut di bawah sinar matahari. Hasilnya adalah alkohol yang yang sangat ampuh.
Orang tua di sekolah menengah atas Tennyson Hlabangana diberitahu oleh sebuah kiriman pesan teks tentang adanya larangan tersebut. “Bahaya melakukan hal tersebut adalah tidak ada metode untuk mengendalikan kandungan alkohol,” kata seorang ahli kimia Michael Dube kepada The Zimbabwe Chronicle.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika Eropa menguasai Afrika di masa berikutnya, banyak minuman fermentasi dilarang di saat bersamaan ketika minuman suling impor diperkenalkan pertama kalinya, seperti dilansir dari laman Independent.
Para pemukim baru kulit putih di Afrika tak suka dengan minuman penduduk lokal, kendati begitu minuman keras tradisional waragi, sejenis sopi dari buah pisang, mendapat namanya dari 'war gin', diberikan oleh orang-orang kolonial.
Semenjak kemerdekaan, larangan kolonial atas minuman tradisional berlakohol ditinggalkan, tak ada lagi pajak untuk mengekang konsumsi minuman keras. Namun, banyak argumen mengatakan, legalisasi minuman keras tradisional bisa memperburuk kesehatan masyarakat.
(win/mer)