"Persoalan yang paling banyak itu masalah mikrobiologi. Dari hasil kajian kami yang paling bermasalah adalah es," kata Direktur Pengawasan Produk dan Bahan Berbahaya BPOM Mustofa saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta, Kamis (17/9).
Mustofa menjelaskan, es-es yang beredar di masyarakat tidak sepenuhnya sehat, apalagi es balok. Bukan karena ada bahan berbahaya yang dikandung es, tapi justru air yang digunakan untuk membuat es tidak higienis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang bermasalah itu sumber air untuk membuat esnya. Kalau tidak air mentah ya air sungai," ujarnya.
Menurut Mustofa, penggunaan es balok untuk minuman atau jajanan jenis es sebenarnya salah besar. Es balok sebenarnya diperuntukkan untuk mendinginkan ikan agar segarnya tahan lama.
"Tapi kalau bentuknya tidak beraturan, saya tidak berani minum," kata Mustofa.
Sementara itu, jajanan bermasalah lainnya yang ditemukan BPOM adalah sirop. Mustofa mengatakan sirop yang beredar di pasaran kadang mengandung pewarna yang berlebihan atau bahkan pewarna yang tidak diperbolehkan untuk makanan.
Selain itu, ada juga jelly dan bakso yang mengandung bahan berbahaya. Sayangnya, anak-anak sangat menyukai kedua jenis makanan tersebut.
"Kalau dari segi keamanan mikrobiologi, empat makanan inilah yang paling banyak bermasalah di jajanan anak sekolah. Kalau empat ini dibereskan sudah bagus kondisi jajanannya," ujar Mustofa. (win/mer)