Seorang perawat paliatif, Rina Wahyuni, mengatakan profesinya memberikan kepuasan batin yang tidak ditawarkan oleh jenis pekerjaan lain. "Sukanya adalah, ketika kita bisa melihat senyuman dari para penderita yang kembali percaya diri serta tidak takut menghadapi hidup kedepannya," kata Rina saat ditemui di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (13/10).
Hal itu menjadi sebuah kepuasan yang tidak dapat tergantikan oleh apapun. Apalagi, hubungan yang dibangun ketika sang perawat dan penderita sedang berkomunikasi, hal itu menjadi sebuah kesenangan tersendiri bagi para perawat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi Rina, pihak terdekat pasien juga harus diberikan edukasi tentang bagaimana cara memberi dukungan kepada pasien agar kondisi hidupnya membaik. Perawatan paliatif itu sendiri tidak melulu mengedapankan dokter sebagai juru tolong, namun juga keluarga dan kerabat terdekat pasien juga menjadi perawat utama dalam meningkatkan kualitas hidup penderita.
Tidak hanya suka, perawat paliatif juga profesi yang banyak bergelut dengan duka. Ada kalanya mereka harus bersedih karena ditinggalkan pasien mereka yang sudah menemui ajalnya.
"Ketika kita melakukan perawatan, hubungan saya dan penderita menjadi sangat dekat, bahkan dengan keluarganya. Kita saling kenal, sering bercerita satu dengan yang lain, tapi kita tahu bahwa ia akan meninggalkan kita, itu menjadi hal yang sangat menyedihkan buat saya," dia menceritakan.
Hal sedih lainnya adalah ketika sang perawat harus mendengar pesan terakhir dari pasien. "Kita kan mendengar kata-kata atau wasiat terakhir dari pasien, hal itu sangat membuat saya sedih, namun sebisa mungkin permintaan terakhir itu akan dikabulkan," ucapnya.
Rina menjelaskan, dengan dikabulkannya permintaan atau wasiat terakhir para pasien, hal itu dilihat sebagai kepuasaan para perawat yang telah memberikan bantuan psikologis kepada mereka selama menjalani perawatan.
Rina, yang sebelumnya sempat menjadi perawat umum di rumah sakit swasta, sekarang sudah tujuh tahun menjalani hidupnya sebagai perawat paliatif. Selama tujuh tahun melakoni pekerjaannya itu, ia mengaku terdapat beberapa hambatan yang memberatkan pekerjaannya. "Kita kan melayani di rumah pasien, biasanya pasien berasal dari kalangan bawah, hal itu membuat kita kesulitan mencari rumah mereka," ucap Rina.
Selain itu, karena adanya keterbatasan biaya dari pihak keluarga, tempat tinggal mereka jadi sulit dijangkau oleh pihak perawat paliatif. Hambatan yang paling utama adalah, ketika mereka, para perawat paliatif, harus menanamkan persepsi paliatif di masyarakat. Banyak masyarakat yang masih menganggap bahwa paliatif bukan suatu cara penting dalam meningkatkan kualitas hidup para penderita penyakit kronis.
Mereka beranggapan bahwa dengan menghentikan pengobatan di rumah sakit, hal itu hanya akan menambah penderitaan pasien. "Ketika pasien berhenti melakukan pengobatan di rumah sakit, bukan berarti mereka menghentikan hubungan mereka dengan dokter di rumah sakit itu. Pasien tetap dianjurkan melakukan konsultasi dengan dokter, dan kami sebagai perawat paliatif akan berusaha meningkatkan kualitas hidup mereka dengan aspek psikososial serta spiritual," kata dia. (les/les)