'Cacingan' Bukan Lagi Penyakit Orang Kampung

Dina Agustina, CNN Indonesia | Kamis, 05/11/2015 19:46 WIB
Dulu, cacingan dianggap sebagai ‘penyakit kampung’, namun pada kenyataannya, kalangan menengah ke atas juga tak bebas dari ancaman cacingan. Gerakan waspadai cacingan di TMII pada Kamis 5 November 2015. (Detikcom/Firdaus Anwar)
Jakarta, CNN Indonesia -- Cacingan. Penyakit yang diakibatkan beberapa jenis cacing seperti cacing gelang, cacing kremi, tambang, ataupun pita ini kerap disepelekan. Banyak yang menganggap cacingan sebagai penyakitnya ‘orang kampung’, akibat banyaknya warga perkampungan padat penduduk yang terkena penyakit tersebut.  

Padahal, prevalensi penyakit cacingan di Indonesia termasuk tinggi dan tidak hanya terjadi di kampung-kampung saja. Masyarakat kelas menengah dan atas juga tidak bebas dari ancaman cacingan.  

Berdasarkan data terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 1,5 miliar orang atau sekitar 24% dari total populasi dunia menderita infeksi cacingan, dan pada umumnya menyerang anak-anak usia sekolah. 


Sementara di Indonesia, kasus cacingan menyebar di seluruh wilayah.  

"Rata-rata prevalensi cacingan di Indonesia mencapai lebih dari 28% dengan tingkat yang berbeda-beda di tiap daerahnya. Tingginya prevalensi cacingan di Indonesia tidak terlepas dari iklim tropis yang memungkinkan beberapa jenis cacing tumbuh dan berkembang," ujar Vensya Sitohang, Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang (P2B2), saat di temui pada pers conference di Gedung Sasana Kriya TMII Jakarta Timur, Kamis (5/11). 

Lalu apa penyebab tingginya infeksi cacing di Indonesia?

Ketua Umum PKK dr. Erni Guntarti Tjahjo Kumolo mengatakan masyarakat kerap mengabaikan bahaya cacingan.
“Gejala yang ditimbulkan akibat cacingan pun selalu disepelekan dan dianggap sebagai kondisi lumrah. Padahal, apabila terus dibiarkan, cacing yang terus berkembang biak di dalam tubuh akan berpengaruh pada pertumbuhan dan kesehatan, terutama pada anak-anak,” ujar dia.  

Cacing, umumnya menginfeksi melalui tanah, air dan makanan yang tercemar. Penularan infeksi bisa terjadi penetrasi kulit atau saluran pencernaan, bisa juga melalui telur cacing yang terbawa dalam kuku. Setelah cacing masuk ke dalam usus, kemudian menggigit dinding usus untuk ‘membajak’ nutrisi.  

Pada anak, kurangnya nutrisi akan menghambat perkembangan kognitif dan membuat potensi IQ mereka berkurang. 

"Cacingan sangat berbahaya bagi anak terutama dibawah 4 tahun, karena mereka akan kehilangan golden period. Cacing yang berkoloni di dalam usus akan mengambil nutrisi dan zat penting lain nya untuk pertumbuhan fisik dan perkembangan otak anak. Tindakan pencegahan perlu dilakukan," kata dr. Sri Kusumo Amdani, Dokter Spesialis Anak. 

Oleh karena itu, pemerintah Indonesia melalui Kementrian Kesehatan mengimbau orangtua untuk terus memeringatkan anak-anak mengenai pentingnya menggunakan alas kaki, serta membiasakan anak untuk hidup bersih. Selain itu, pencegahan infeksi cacingan ini juga didukung dengan lingkungan yang bersih.

Mirisnya, penyakit cacingan tidak bisa dideteksi secara kasat mata, karena tidak adanya gejala yang begitu signifikan. Oleh karena itu, para orang tua harus memahami bagaimana cara perkembangbiakan cacing di dalam tubuh. Selain secara aktif melakukan pencegahan dengan meminum obat cacing.

Organisasi Kesehatan Dunia WHO menyarankan agar masyarakat mengonsumsi obat cacing sekali setahun untuk mereka yang tinggal di lingkungan dengan tingkat prevalensi cacingan lebih dari 20% dan dua kali setahun untuk yang lebih dari 50%.
  (les/les)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK