Untung Rugi Bekerja 'Multitasking'

Dina Agustina, CNN Indonesia | Jumat, 13/11/2015 14:29 WIB
Meski dianggap bisa menghemat waktu ternyata hasil pekerjaan multitasking tidak sesempurna pekerjaan yang dilakukan secara satu per satu. Ilustrasi multitasking. (Fuse)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pekerjaan multitasking, dianggap bisa menghemat waktu. Namun kadang-kadang tidak semudah itu. Karena nyatanya tak ada yang bisa melakukan pekerjaan dengan hasil sempurna jika dilakukan sambil menyambi dengan pekerjaan lain. Semakin banyak pekerjaan, semakin tidak efektif pekerjaan itu dilakukan.

Beberapa penelitian sempat ada yang menyebutkan bahwa secara genetis perempuan lebih ‘pandai’ melakukan multitasking dibanding pria. Mudah saja melihatnya, simak saat perempuan beraksi dengan pekerjaan-pekerjaan domestiknya di rumah.

Mengerjakan sesuatu secara multitasking kini juga sering didorong bahkan kadang dipaksa dilakukan di kantor. Dianggap sangat tidak efisien dan memakan waktu jika hanya melakukan satu hal dalam satu waktu. Pertanyaannya benarkan otak manusia memang didesain untuk melakukan dua tugas kognitif dalam waktu bersamaan?


“Ternyata ketika seseorang berusaha melakukan dua tugas atau lebih secara bersamaan, hal itu membawa mereka pada waktu yang dua kali jauh lebih lama untuk menyelesaikan tugas tersebut,” kata Profesor David Meyer dari Universitas Michingan yang meneliti masalah ini kepada Telegraph.

Meyer percaya bahwa ketika kita melakukan pekerjaan secara multitasking, kemungkinan terjadinya kesalahan akan meningkat.

Pekerjaan yang dilakukan secara multitasking akan membuat seseorang cepat merasa stres karena fokus pemikiran nya terbagi dalam beberapa cabang. Pekerjaan multitasking sama saja dengan melepas hormon stres dan adrenalin lebih banyak, tak heran jika para pekerja multitasking sering kehilangan memori jangka pendek.

Sebaiknya, apabila ingin melakukan suatu pekerjaan, kerjakanlah satu per satu. Jika seseorang merasa diganggu oleh alat elektronik, cek sebentar kemudian kembali pada pekerjaan awal.

Hasil penelitian menunjukan bahwa setiap kali seseorang terganggu oleh perangkat elektronik mereka, hal itu membuat mereka membutuhkan setidaknya 15 menit untuk kembali pada pekerjaan awalnya.

Karin Feorde dan rekan-rekannya di Universitas California menemukan bahwa ketika seseorang ingin mempelajari materi baru tanpa menghindari materi yang lama, pengetahuan yang diperoleh tidak akan maksimal, tidak terorganisir, dan tidak bisa di aplikasikan pada materi baru.

Tentu saja seseorang tidak selalu harus bekerja secara berurutan. Kita harus menyadari bahwa suatu tugas memiliki tanggung jawab yang besar. Untuk mendapatkan efisiensi waktu, sebaiknya fokus pada satu pekerjaan, apabila telah selesai baru melanjutkan pekerjaan yang lain.

(utw/utw)