"Ada konsensus yang menyatakan bahwa jenggot dan berewok meningkatkan persepsi maskulin, usia, dominasi sosial, dan agresivitas. Daya tarik dari jenggot ini pun dirasakan berbeda oleh masing-masing perempuan," kata tim penulis dalam penelitiannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tim peneliti menggunakan data survei secara daring dengan variabel demografi, kadar seksisme, dan taraf brewok yang dimiliki.
Masalah antara wanita dan laki-laki kerap kali bersinggungan masalah dominasi dan patriarki dalam kehidupan sosial. Seksisme, sebagai ungkapan bahwa salah satu gender dianggap lebih unggul dibandingkan gender lainnya, menjadi sebuah masalah di negara-negara dengan tingkat feminisme yang tinggi.
Namun, para peneliti mengelompokkan seksis dalam penelitian ini menjadi dua kelompok, yaitu seksis baik dan seksis buruk. Seksis baik berarti bahwa laki-laki menganggap dirinya lebih unggul namun dalam tindakan yang menyanjung wanita, seperti membukakan pintu ataupun membayar makanan. Sedangkan seksis buruk didefinisikan sebagai tindakan yang merendahkan kaum hawa.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa laki-laki yang memiliki berewok seringkali dianggap lebih seksis buruk ketimbang pria yang sering mencukur jenggot ataupun rambut di wajahnya. Hanya sepertiga dari responden yang tidak mengutarakan pernyataan bernada seksis.
Julian Oldmeadow, salah satu peneliti dari Swinbourne University of Technology menganggap bahwa jenggot dan berewok tetap dipelihara bagi sebagian pria karena dianggap simbol maskulinitas dan dominasi dibanding lainnya.
"Pria yang memegang pandangan lebih patriarkal cenderung memperkuat maskulinitas dan dominasi mereka dengan menumbuhkan rambut pada wajahnya," kata Oldmeadow. (end/les)