Grafologi, Ilmu Membaca Karakter yang Ilmiah

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Minggu, 10/01/2016 12:38 WIB
Ahli grafologi Deborah Dewi mengatakan, grafologi (ilmu yang memelajari tulisan tangan) sangat berbeda dengan ramalan, kendati kerap disamakan. Ilustrasi menulis. (annazuc/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Metode ini kerap dianggap sebagai sebuah cabang peramalan. Keakuratan hasil yang didapat membuat banyak orang penasaran dan menjadikannya salah satu pilihan ketika menemui kegalauan. Metode yang sudah dipakai sejak abad ke-19 ini bernama grafologi, atau ilmu yang memelajari tulisan tangan.

Grafologi pertama kali disebut pada 1830 oleh Jean-Hippolyte Michon, seorang arkeolog dan pendeta dari Perancis. Ia tertarik dengan analisis tulisan tangan dan mengemukakan idenya tentang 'tafsir tulisan tangan' itu dengan menganalisis coretan tangan Abbe Flandrin.

"Sebenarnya orang mengatakan grafologi sebagai ramalan karena merasa hasil analisis grafologi akurat dengan kondisi sebenarnya. Padahal, grafologi sangat berbeda dengan ramalan," kata Deborah Dewi ketika berbincang dengan CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.


"Perbedaan dengan ramalan adalah ramalan itu tidak dapat dipertanggung jawabkan hasilnya, tidak dapat ditanya lebih dalam mengapa dapat hasil tersebut. Kalau grafologi, bila dikerjakan sesuai metode, hasilnya akan akurat karena jelas indikatornya. Kalau satu saja indikator diganti atau salah, maka akan salah hasilnya," kata Deborah.

Praktisi grafologi Indonesia satu-satunya yang memiliki afiliasi dengan American Handwriting Analysis Foundation atau AHAF ini mengatakan, memang bukti validitas akan grafologi dari hasil riset ilmiah masih terbit teratas hanya pada kalangan akademisi dan praktisi grafologi.

Deborah menyebutkan bahwa grafologi adalah salah satu cabang ilmu yang memiliki metode ilmiah dalam pengerjaannya. Bahkan, grafologi telah menjadi mata ajaran di Amerika Serikat dan Eropa. Pun sekolah grafologi terbaik berada di Italia.

Meski di Amerika Serikat dan Eropa telah lama menggunakan grafologi, tapi negara-negara Asia juga telah mulai 'dibaca' oleh grafologi. Deborah menyebutkan beberapa negara Asia seperti Arab Saudi, Indonesia, Jepang, Malaysia, dan Jepang telah memiliki perkumpulan grafolognya masing-masing.

Masalah karier sampai rumah tangga

Di era modern, grafologi semakin berkembang mengikuti kebutuhan dalam berbagai aspek. Deborah pun mengakui bahwa 70 persen kliennya adalah korporat yang membutuhkan ilmu grafologi dalam menyeleksi calon karyawan mereka. Bukan hanya masalah seleksi calon karyawan, namun grafologi juga dapat digunakan untuk resolusi konflik hingga mencari pelaku pemalsuan.

"Grafologi memang lebih berkembang di Barat. Di sana, grafologi banyak digunakan oleh HRD, Polisi, dan sebagai pendamping psikolog untuk menggali profil klien," kata Deborah.

Selain untuk korporat, Deborah juga menerima berbagai permintaan analisis dari personal klien yang datang kepadanya. Berbagai kasus telah dianalisis oleh ahli grafologi yang juga punya latar psikologi ini, mulai dari kegalauan dalam karier hingga masalah rumah tangga.

Kemampuan 'canggih' yang dimiliki Deborah tak lepas dari usahanya belajar dari 2008 hingga kini. Berawal dari hobi menyelisik grafologi, Deborah mengejar 10 ribu jam praktik latihan analisis grafologi untuk dapat memahami ilmu tersebut dengan baik. Namun 10 ribu jam tersebut bukanlah yang pertama dilakukan Deborah. Sebelumnya, ia belajar mengenai grafologi selama setahun.

"Untuk belajar konsepnya hanya dengan membaca, perlu waktu setahun. Ada 440 indikator dasar grafologi yang harus dipelajari," kata Deborah. "Itu belum saling berkait, kalau sudah berkait antar-indikator, ibarat warna, dari 12 warna dasar kini sudah ada berapa warna yang ada?" kata Deborah. "Setiap orang memiliki tulisan tangannya masing-masing dan itu menceritakan semuanya.

Keunikan yang ada di dalam masing-masing manusia disebutkan Deborah dapat menjadi gambaran karakter individu karena pengaruh diri pribadi dan faktor lingkungan pembentuk insan tersebut. Karakter itulah yang akan menggambarkan pola tindakan seseorang bila berada dalam suatu kondisi.

Ketika menganalisis sebuah tulisan, Deborah mengecek keberadaan 440 indikator yang sudah dipatenkan pada tulisan. Deborah mengecek mulai dari margin tulisan, arah penulisan, spasi, bentuk huruf, pergerakan, hingga kecepatan dan menulis. Semua aspek terebut memiliki kriteria-kriterianya lagi yang harus disadari oleh ahli grafologi saat menganalisis.

"Grafologi berbeda dengan psikologi. Grafologi hanya dapat mendeteksi karakter dan menganalisisnya secara umum sesuai dengan indikator. Untuk implementasi lebih dalam itu ranah dari psikologi. Namun grafologi dan psikologi tak dapat dipisahkan, karena untuk memahami grafologi harus memahami psikologi dasarnya terlebih dahulu," lanjutnya.

"Makanya saya heran kalau ada orang yang mengaku bisa grafologi hanya dengan satu atau dua hari. Mereka belajarnya bagaimana? Karena selain belajar teori selama setahun, juga harus ditambah latihan eye screening untuk menyadari keberadaan 440 indikator tersebut dalam sebuah tulisan," kata Deborah.

Ilustrasi menulis. (Unsplash/Pixabay)
Dapat dipelajari siapapun

Dalam sebuah ujicoba dengan CNNIndonesia.com, Deborah berhasil menyelesaikan pembacaan karakter melalui tulisan tangan hanya dalam waktu tujuh hingga sepuluh detik. Namun Deborah mengakui, semakin abstrak dan dalam pertanyaan yang diajukan maka akan membutuhkan waktu lebih lama karena menggunakan indikator lebih banyak.

Meski terkesan hanya bermodalkan sebuah tulisan tangan, namun Deborah mengatakan tak sembarang tulisan tangan dapat digunakan untuk analisis grafologi. Syarat tulisan tangan yang dapat digunakan adalah penulis harus nyaman ketika menulisnya, menggunakan alas yang layak, kertas tanpa bergaris, serta alat tulis dengan kondisi baik.

"Biasanya ada yang merasa tulisannya berubah-ubah, padahal sebenarnya setiap orang memiliki pola tulisannya masing-masing dan akan terlihat ketika menulis sesuai standar grafologi. Kalaupun ternyata ditemukan berbeda-beda, bisa berarti orang tersebut memiliki kondisi klinis tertentu seperti bipolar, namun kasus itu sangat sedikit," kata Deborah.

Walau terkesannya sulit, namun Deborah meyakinkan bahwa grafologi dapat dipelajari oleh siapapun, meski membutuhkan waktu dan latihan yang sangat intensif. Pembelajaran yang memakan waktu bermanfaat mencegah seseorang menjadi sekadar 'sok tahu' dengan grafologi dan menyalahgunakan ilmu itu.

"Semua orang bisa mempelajarinya karena ada ilmunya. Itulah bedanya dengan ramalan, grafologi bisa dipelajari secara ilmiah," kata Deborah.

"Ketika seseorang menulis, sebenarnya ia menggambarkan bagaimana ia menempatkan diri dalam lingkungannya. Grafologi ini ibarat kata seperti pisau, manfaatnya tergantung siapa yang menggunakan. Grafologi pun membutuhkan kedewasaan sikap serta kebijaksanaan dalam menggunakannya."

(win/win)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK