Asyiknya Melesat bersama Motor Gede

Tri Wahyuni, CNN Indonesia | Jumat, 12/02/2016 09:05 WIB
Selain melesat nyaman dalam kecepatan tinggi, pemilik motor gede juga memiliki kebanggaan tersendiri . Ilustrasi tur motor gede (CNN Indonesia Internet/skeeze/pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ada rasa yang tidak bisa terungkapkan ketika Varuna Thema menunggangi motor besarnya, Harley-Davidson. Motor pabrikan Amerika Serikat itu sudah menjadi bagian penting dalam hidupnya.

Bagi Varuna, memiliki dan mengendarai Harley-Davidson bukan semata hobi, melainkan bagian hidupnya.

"Only Harley. Harley is my life," kata Varuna kepada CNNIndonesia.com di kawasan Ciputat, Jakarta, pada Rabu (10/2).


Sudah 42 tahun laki-laki yang akrab disapa Jiun itu mengendarai Harley. Motor pertama yang dimilikinya produksi pada 1960-an.

Waktu itu umurnya masih 16 tahun. Jiun sering melihat sepupunya main motor gede. Tiba-tiba saja sang ibu bertanya apakah Jiun juga ingin punya motor gede. Tanpa ragu, Jiun menjawab, "Ya."

"Ya sudah, aku cicil, aku kredit," Jiung menirukan perkataan ibundanya.

Saat itu harga Harley-Davidson sekitar Rp300 ribu. Sangat terjangkau untuk masa sekarang, tapi kala era 1960-an, kata Jiun, harga itu sudah bisa digunakan untuk membeli tanah yang sangat luas.

Sejak saat itulah kecintaan ayah empat anak itu terhadap Harley-Davidson mulai terbangun. Hingga saat ini ia mempunyai empat motor Harley. Ada motor buatan tahun '60-an, '80-an, 2002, dan 2003. Tak hanya itu, Jiun juga memiliki bengkel Harley di bilangan Cipete yang hasilnya sudah bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai sarjana.

Lain lagi pengakuan pemilik motor gede bernama Toto. Baginya, Harley adalah ukuran kesuksesan. Memiliki Harley merupakan pencapaian tertinggi untuk si "anak motor" Toto.

"Kalau cowok hobi motor besar, [dianggap] belum punya motor besar kalau belum punya Harley," kata Toto. "Sebelumnya, saya punya motor besar juga Honda Gold Wing 1800 cc, tapi rasanya belum lengkap kalau belum punya Harley."

Untuk mendapatkan motor idamannya itu, Toto mengaku harus menabung hampir sepuluh tahun. Hal itu juga yang menyebabkan ia menganggap Harley sebagai ukuran kesuksesan.

"Ukuran kesuksesan itu maksudnya kita biaa menyisihkan [uang], mengorbankan segalanya, sukses untuk mewujudkan cita-cita. Kalau pengen motor besar, ya nabung," kata Toto.

Namun hal itu tak berlaku bagi Sahat Manalu. Tidak butuh waktu lama bagi pria ini untuk mengoleksi Harley. Dalam waktu 10 tahun, ia sanggup memilii 11 Harley.

Bagi Sahat, mempunyai Harley bukanlah wujud pencapaian. Ia menyukai motor besar itu lebih berdasarkan hobi semata. Lebih dari itu, Sahat juga menganggap Harley-Davidson tidak ada duanya.

"Harley itu legenda. Tidak bisa dibandingkan dengan motor yang lain karena Harley, ya memang Harley. Orang mau punya motor apa saja kalau bukan Harley, bukan bikers," kata Sahat.

Harley Davidson di ruang pamer PT Mabua Motor Indonesia. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Di luar hobi, Sahat mengaku memilih Harley karena ukuran tubuhnya yang besar. Ia merasa tidak pantas menaiki motor pabrikan Jepang yang ukurannya lebih kecil.

Ketika menunggangi Harley, Sahat merasa bisa mengeluarkan tenaganya yang besar sehingga motornya berlari lebih cepat.

"Itu yang saya suka. Dibandingkan suaranya, tarikannya juga kuat. Hanya Harley yang menurut saya aman lari 200 kilometer per jam," ujar dia.

Di sisi lain, Agni Ijul punya pendapat yang berbeda lagi tentang motor gede. Buat dia, motor gede tidak memiliki keiistimewaan. Bedanya hanya cc-nya saja yang lebih besar.

Meski motor besar merupakan hobi buat Agni, punya motor besar tidak lantas menjadi kebanggaan tersendiri. Rupanya pola pikirnya tersebut berasal dari visi komunitas tempat ia bergabung sejak 2007.

Ia mengaku komunitas membentuk pola pikirnya lebih membumi karena kebanggaan yang ditekankan bukanlah pada motor yang dimiliki.

"Memang beberapa orang di kelas tertentu yang mungkin berbahagia dan terlalu gembira memiliki tunggangan yang dianggap mewakili kelas dia," kata Agni.

"Tapi mungkin buat kami karena kami yang dibesarkan dengan attitude dan klub yang grassroot, kami punya visi yang tidak hanya arahnya ke kebanggaan dan kebendaan. Kami lebih punya kebanggaan merasa ramai-ramai dan tidak sendiri. Komunitas kami banyak ada dari Asia, Amerika, Australia, sampai ke Eropa."

(vga/vga)