Kreasi Busana Syar'i dengan Bubuhan Swarovski Si.Se.Sa

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Kamis, 11/02/2016 12:43 WIB
Kreasi Busana Syar'i dengan Bubuhan Swarovski Si.Se.Sa Show tunggal yang diadakan di The Dharmawangsa Hotel, merupakan pagelaran tunggal pertama yang dilangsungkan oleh label kedua Merry Pramono yang berdiri sejak 2011. Koleksi terbarunya lebih eksklusif karena bekerjasama dengan Swarovski Elements. Rabu, 10 Februari 2016. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Berbagai macam gaya busana muslim dengan hijab yang muncul beberapa tahun belakangan ini ternyata tidak begitu saja dapat diterima oleh sebagian kaum wanita. Meski menawarkan banyak gaya, namun perkembangan hijab saat ini dirasakan oleh desainer Merry Pramono malah menimbulkan kegundahan.

Alasannya, banyak pelanggan yang bercerita kepadanya dan mengaku kesulitan menemukan busana yang dapat memenuhi syarat berpakaian bagi wanita sesuai dengan aturan Islam. Bersama ketiga anak perempuannya, yakni Siriz, Senaz dan Sansa, Merry pun berusaha menuangkan harapan pelanggannya itu dengan mengeluarkan koleksi busana dari Si.Se.Sa.

"Kami sering ngobrol dengan pelanggan, banyak yang mengeluhkan ingin tampil syar'i tapi tetap cantik. Kegiatan mereka kan mulai dari pagi antar anak ke sekolah, arisan atau pengajian, hingga memenuhi undangan pernikahan," kata Senaz dalam jumpa media di pagelaran tunggal perdana Si.Se.Sa. di Hotel Dharmawangsa, Rabu (10/9).


Awalnya, Si.Se.Sa. merupakan proyek buatan Merry Pramono dengan menggandeng ketiga anaknya yang telah berhenti bekerja sejak menikah.

Show tunggal perdana busana syar'i 'Si.Se.Sa' karya desainer Merry Pramono yang dirintis bersama ketiga putrinya, Siriz, Senaz, dan Sansa, Rabu, 10 Februari 2016. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Dengan kemampuan yang berbeda-beda dari anaknya seperti Siriz yang memiliki koneksi cukup luas, Senaz yang pernah bekerja di finansial, dan Sansa yang meneruskan jejak Merry sebagai desainer, maka Merry memutuskan membuat lini baru itu pada 2011 lalu.

Si.Se.Sa. semula menghasilkan pakaian muslim konvensional pada umumnya dengan kekhasan dari masing-masing anak Merry. Siriz dikenal senang dengan gayanya yang formal, Senaz yang girly, dan Sansa yang sporty.
Dalam koleksi pertama mereka di Indonesia Fashion Week 2013, Si.Se.Sa pun mendapat sambutan meriah. Selepas gelaran pameran busana mereka, banjir pesanan pun seakan tak terhalau.

Sejak saat itulah, mereka berfokus pada pakaian yang sesuai syariat Islam yang mengharuskan muslimah menggunakan pakaian yang tertutup, tidak menerawang, dan tidak membentuk lekuk tubuh

"Sesuai syariat itu, di sini kami tidak menggunakan bahan yang tembus pandang, tidak menampilkan siluet-siluet tubuh, dan kerudungnya panjang hingga menutup dada juga menutup bagian belakang," kata Senaz. "Kami juga sudah tidak memproduksi celana lagi," imbuhnya.

Sejak diperkenalkan pada 2013, baru tahun ini Si.Se.Sa. menyelenggarakan pagelaran tunggal. Dalam pagelaran yang dilangsungkan dengan mengundang para sosialita pelanggan setia mereka, Si.Se.Sa memamerkan seluruh koleksinya mulai dari awal hingga yang terbaru bekerja sama dengan label perhiasan dunia, Swarovski.

Sentuhan Berbeda Pada Khimar

Walau tetap mengutamakan aturan Islam sebagai garis merah busana-busana yang mereka desain, namun Si.Se.Sa. mencoba menampilkan nuansa berbeda dari penggunaan pakaian syari yang identik dengan kaku itu.

Mengusung tema Syar'i for Urban, Si.Se.Sa. mencoba menawarkan ide berpakaian sesuai tuntunan Islam namun tetap dapat dikenakan dalam aktivitas masyarakat urban yang padat.

Dalam koleksinya, Si.Se.Sa. memang keseluruhan menggunakan warna pastel yang membuat kesan lembut, chic, serta 'adem'. Si.Se.Sa menggunakan pilihan warna seperti merah muda, jingga, kuning, hijau, biru, krem, nila, hingga ungu.

Penggunaan warna pastel ini memang bertolak belakang dengan imej Merry Pramono yang dahulu kerap menggunakan warna solid yang terang. Merry tampaknya benar-benar 'berhijrah' dari koleksinya terdahulu.

Meski bentuk khimar tetap sama, yaitu lebar dan panjang, tetapi Si.Se.Sa coba menawarkan alternatif lipatan ujung khimar agar terlihat berbeda. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Keseluruhan koleksi Si.Se.Sa. kali ini menggunakan bahan sifon yang jatuh. Penggunaan bahan ini agar dapat menampilkan busana yang anggun ketika wanita bergerak. Selain sifon, Si.Se.Sa juga menggunakan bahan scuba atau neoprene yang punya keunggulan antikusut.

Secara sekilas memang tidak ada beda bentuk dan desain potongan pakaian koleksi Si.Se.Sa. satu dengan yang lainnya.

Tapi kolaborasi ibu dan anak itu tetap bermain dengan kreasi pada bagian motif bordir di khimar, hiasan pernak-pernik di bagian kepala, lipatan kain dan juga model lipat dari khimar. Meski bentuk khimar tetap sama, yaitu lebar dan panjang, tetapi Si.Se.Sa coba menawarkan alternatif lipatan ujung khimar agar terlihat berbeda.

Motif bunga menjadi pilihan yang digunakan Si.Se.Sa. dalam koleksinya, baik dalam ukuran yang kecil pada abaya, hingga cukup jelas terlihat pada khimar. Bagi yang tidak ingin terlalu bermain motif dan sederhana, pilihan yang ditawarkan Si.Se.Sa akan sangat cocok.

Si.Se.Sa juga memperlihatkan satu gaun pengantin putih dengan tetap menggunakan khimar. Dengan sedikit memodifikasi bentuk dari abaya, Si.Se.Sa menambah taraf keanggunan model pakaian itu dengan lapisan-lapisan kain pada bagian bawah dan taburan kristal yang tersusun berbaris yang ketika terkena cahaya akan berkilau.

Bubuhan Glamor Swarovski

Kali ini, Si.Se.Sa juga mengenalkan penggunaan kristal Swarovski dalam koleksinya. Namun bukan kristal yang besar dan glamor, Si.Se.Sa menyempilkan kristal mungil itu pada beberapa titik di karyanya. Seperti pada motif di kepala, beberapa titik di tepi khimar, serta pada simpul lipatan khimar.

Meski sedikit, efek 'bling-bling' Swarovski memang terlihat menaikkan derajat harga dan galmor dari khimar Si.Se.Sa. yang sering digunakan oleh para sosialita ibu kota.

"Pertama kami buat khimar pakai payet dan bordir dan sangat diminati pelanggan, tapi terus mendapat permintaan. Dan kebetulan Swarovski menawarkan kerja sama dengan warna pastel yang Si.Se.Sa banget kepada kami," kata Senaz saat ditemui CNNIndonesia.com sebelum pagelaran.

Efek 'bling-bling' Swarovski memang terlihat menaikkan derajat harga dan galmor dari khimar Si.Se.Sa. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
"Itu kristal asli dan dengan metode yang dipunya Swarovski, sampai 99 kali pencucian tidak akan copot, sudah digaransi," lanjutnya.

"Pelanggan kalau terlalu mahal juga tidak mau, jadi Swarovski kita gunakan hanya sebagai pemanis. Swarovski memang menambah value dari harga jualnya," kata Senaz.

Penggunaan kristal pada kerudung diakui Senaz sempat mendapat pertanyaan dari beberapa pihak karena dikhawatirkan menimbulkan kesan mahal dan glamor yang berlebihan, sekaligus bertolak belakang dengan konsep syar'i yang coba diusung Si.Se.Sa.

"Tapi yang saya pahami, orang tidak boleh mahal-mahal kalau ia tidak mampu. Selama orang itu mampu, maka tidak akan mahal. Yang tidak benar itu misalkan beli khimar sampai hutang. Makanya kami tidak akan memaksakan orang yang tidak mampu beli untuk beli, dan saya pikir yang bling-bling itu hanya akan dipakai untuk acara formal, bukan ketika ke pasar, berarti dia yang berlebihan." kata Senaz.

Si.Se.Sa sendiri melabeli koleksinya dengan harga Rp500 ribu hingga Rp1,5 juta. Dia pun memutuskan tidak menempatkan khimar ini di departemen store atau di mana pun kecuali di butiknya yang terletak Jalan Prapanca Raya No 113B, Jakarta Selatan. Alasannya, kedekatan dengan pelanggan lebih terjalin jika mereka bertemu langsung di butik. (meg/meg)