Menurut hasil penelitian tersebut, permasalahan yang paling banyak dikeluhkan adalah nyeri otot, sakit kepala, pikun, dan depresi. Di beberapa kasus, pasien bahkan merasakan keinginan bunuh diri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dokter juga menemukan para penyintas ebola umumnya mengalami pergerakan mata yang abnormal, serta tremor.
Studi tersebut akan dipresentasikan di pertemuan tahunan American Academy of Neurology, yang akan memngupas secara tuntas efek jangka panjang dari virus ebola.
Lebih dari 17 ribu orang selamat dari wabah yang menyerang Afrika Barat. Kendati demikian, ebola menyebabkan 11.300 orang meninggal.
Dr Lauren Brown, penulis studi menyebut, “Kendati wabah sudah bisa dikendalikan, para penyintas masih mengalami efek jangka panjang. Oleh karena itu, sangat penting mengetahui bagaimana virus ini memengaruhi kesehatan, terutama otak, dalam jangka panjang.”
Melansir laman Independent, Dr Brown menambahkan, kerusakan otak bisa menyebabkan kerugian karena bisa memengaruhi rutinitas para penyintas sehari-hari.
“Bagi para penyintas ini, bahaya ebola belum berlalu,” kata Dr Brown.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) mendeklarasikan epidemi ebola telah terkontrol pada 2015. Namun ada dua kasus baru yang terindentifikasi di Sierra Leone pada Januari 2016, yang menimbulkan kewaspadaan baru. (les)