Penelitian yang dilakukan oleh Northwestern University ini menunjukkan bahwa remaja pria yang tak peduli akan urusan seks lebih mungkin menjadi ayah yang tidak tinggal bersama anaknya, atau ayah nonresiden.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
20 tahun kemudian para peneliti mewawancarai kembali partisipan tersebut mengenai kehidupan terbaru mereka, seperti jumlah anak, status tinggal bersama anak, dan usia ketika menjadi ayah. Kemudian tim peneliti membandingkan dengan hasil wawancara sebelumnya.
Dari hasil penelitian tersebut terungkap bawah pria yang semasa mudanya memiliki risiko besar dalam aktivitas seksual, secara nyata terlihat menjadi sosok ayah nonresiden. Status ini terjadi terutama pada kehamilan tidak direncanakan.
Lebih khusus lagi, para peneliti menemukan pria yang kurang peduli terhadap risiko dari aktivitas seks yang mereka lakukan, 30 persen menjadi sosok ayah yang kurang bertanggung jawab.
Para peneliti juga menemukan bahwa remaja pria yang memahami penggunaan alat kontrasepsi dan kesadaran akan seks memiliki peluang 28 persen lebih kecil menjadi ayah nonresiden. Ini berkorelasi dengan pendidikan seks sebagai aksi pencegahan kehamilan dini.
Menurut penelitian yang dilaksanakan the Sexuality Information and Educational Council of the United States pada 2008 silam, diketahui bahwa remaja yang mendapatkan pengenalan serta pendidikan seks secara komprehensif memiliki peluang 50 persen lebih kecil hamil di luar nikah atau menghamili seseorang. Ini juga secara nyata berpengaruh pada tindakan mencegah sebuah kehamilan dan merencanakan kehamilan.
Namun Garfield mengatakan bahwa penting mengubah pandangan remaja akan kehamilan. Tindakan ini ia yakini dapat mengurangi jumlah remaja yang kelak menjadi ayah di luar pernikahan.
"Ini peran sistem sekolah dan semua yang bergerak di bidang kesehatan untuk membantu para pria muda lebih memikirkan masa depan mereka." (les)