Modal Sejarah Tak Cukup Bangkitkan VOC Galangan

Lesthia Kertopati, CNN Indonesia | Kamis, 07/04/2016 08:52 WIB
Modal Sejarah Tak Cukup Bangkitkan VOC Galangan Kafe VOC Galangan yang kini semakin tergerus waktu. Padahal punya kisah sejarah yang bisa dirunut hingga tahun 1628. (CNN Indonesia/Lesthia Kertopati)
Jakarta, CNN Indonesia -- Di ujung jalan Kakap, Penjaringan, Jakarta Utara (dulu Werfstraat), terdapat sebuah bangunan besar yang berusia nyaris 400 tahun. Dari luar, gedung tersebut terlihat rapuh dan lapuk dimakan usia.

Ada tulisan dan simbol tertera di temboknya, berbunyi VOC Galangan.

Kisah VOC Galangan, jika dirunut dari asal mulanya, berkaitan erat dengan perkembangan Kota Batavia yang kini menjadi Jakarta.


Galangan Kapal Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) didirikan pada 1628 di Batavia. Pada waktu itu, 388 tahun lalu, Galangan kapal VOC adalah bangunan penting yang menyokong jaringan niaga di Hindia Belanda. Kapal-kapal, baik besar maupun kecil, bongkar muat di galangan, mengantarkan barang dagangan. Mulai dari rempah hingga kain yang merupakan komoditi berharga mahal.

Tercatat, dari Galangan Kapal VOC, banyak kapal yang kemudian berlayar mengarungi lautan Pasifik, Hindia serta Atlantik dan singgah di berbagai pelabuhan antara Amsterdam dan Nagasaki, antara Hormuz (Persia) dan Pulau Banda.

Bangunan besar tersebut, aslinya didirikan di muara Kali Ciliwung, tidak jauh dari Pelabuhan Sunda Kelapa, pelabuhan utama Batavia, tiga abad lalu.

“Sebelum jadi restoran, gedung ini punya banyak wajah. Pernah jadi galangan kapal, kantor, gudang, dan bengkel pembuat peta, kompas serta jam pasir,” kata Cahyadi, Manajer VOC Galangan kepada CNNIndonesia.com, akhir pekan lalu.
Suasana bar di Kafe VOC Galangan, Jakarta Utara. Kafe legendaris yang dulunya berasal dari galangan kapal ini, sekarang terlihat tidak terurus, padahal punya potensi besar jadi destinasi wisata kuliner di Jakarta. (CNN Indonesia/Lesthia Kertopati)
Dia menambahkan, bangunan asli VOC Galangan seharusnya lebih besar lagi dari luasan totalnya sekarang yang mencapai lima ribu meter persegi.

“Dulunya lebih luas lagi. Tapi karena pernah kebakaran pada 1721, sebagian rusak,” terangnya.

Kini, galangan kapal VOC yang tersisa hanyalah dua bangunan utama, yakni gedung selatan dan gedung utara yang terdiri dari dua lantai, serta taman belakang. Itupun banyak area yang terbengkalai.

Dari "bengkel" perbaikan kapal dan kompleks perkantoran penting, sekarang VOC Galangan berfungsi sebagai kafe dan restoran China. Tak jarang, ada yang menggunakan tamannya yang luas dan hijau, sebagai lokasi resepsi, baik untuk pesta pernikahan, ulang tahun, ataupun acara reuni.

Selain kafe, di gedung tua itu juga ada sekolah musik Hua dan komunitas kaligrafi yang jadi penyewa tetap.

Sayangnya, lokasi kafenya hanya di teras bawah. Sementara area bar serta restoran di lantai satu dan dua, tidak lagi digunakan. Hanya menumpuk debu.
Kusen jendela dengan jeruji dari besi tuang adalah bagian asli dari gedung yang dipertahankan. (CNN Indonesia/Lesthia Kertopati)
Hal tersebut diakui Cahyadi karena VOC Galangan, yang kini singkatan namanya berubah menjadi Very Old Cafe, kekurangan karyawan.

“Hanya ada tiga orang yang bekerja di kafe ini sehari-harinya. Saya dan dua orang karyawan lain. Satu orang bertugas di dapur dan dua orang melayani di kafe,” ujar Cahyadi.

Dia mengaku, tidak mudah menjalankan kafe hanya dengan tenaga tiga orang. Namun, dia juga tidak bisa berbuat banyak, mengingat semua keputusan berada di tangan pemilik.

“Bos maunya ya begini saja. Jadi kafe ini hanya bertahan dari bulan ke bulan. Pemasukan utama dari pengunjung kafe dan sewa ruangan dan sewa taman. Itu juga tidak sering,” katanya.

Soal pengunjung, Cahyadi mengaku tidak banyak orang yang datang ke kafe. Kebanyakan hanya turis mancanegara yang penasaran dengan kisah kafe di bangunan berusia nyaris 400 tahun itu.

Sisanya, beberapa warga lokal. Umumnya mereka mencari tempat yang sepi untuk sejenak kabur dari penatnya Jakarta. Ada juga beberapa turis domestik yang sengaja datang karena penasaran dengan kisah VOC Galangan. Tapi, kunjungan pelanggan pun terbilang jarang. 

"Ada saja sih yang datang, satu atau dua orang, kadang rombongan," tutur Cahyadi, yang sudah bekerja di kafe tua itu selama lebih dari 17 tahun.

Itulah yang jadi alasan kenapa kafe seperti terabaikan. Di bar yang kini jadi ruangan utama, aroma apak khas bangunan tua tercium tajam. Tembok bangunan sepertinya sengaja dibiarkan tidak selesai, dengan batu bata telanjang, tanpa plester, sementara meja bar penuh dengan debu.

Di dinding bar, terdapat beberapa foto lama yang menggambarkan bangunan asli gedung tersebut. Di teras bagian ujung, terdapat tumpukan guci-guci besar. Hal itu, kata Cahyadi, karena dulu, di awal pembukaannya, VOC Galangan juga berfungsi sebagai galeri seni, selain restoran dan kafe.
Taman di belakang Kafe VOC Galangan merupakan bagian terbaik dari kafe, selain kisah sejarahnya. (CNN Indonesia/Lesthia Kertopati)
Mesin Waktu di Tengah Kota

Satu hal yang jadi pengalaman seru saat mengunjungi VOC Galangan. Rasanya seperti masuk dalam mesin waktu. Begitu kaki melangkah masuk dari gerbang depan, era berganti. Tak lagi di tahun 2016, melainkan berpindah ke zaman Kolonial.

Cahyadi menyebut sewaktu pemilik VOC Galangan, Susilawati (Then Tjuk Lan), membeli bangunan tersebut pada 1997, banyak bagian yang rusak. Bangunan tersebut hanya tinggal menunggu ambruk, kendati masih ada bagian-bagian yang bertahan.

Melansir catatan dari Ensiklopedia Jakarta, kendati kondisinya tidak terawat, bangunan utama VOC Galangan, yakni gedung utara dan selatan tetap tegak. Padahal usianya sudah ratusan tahun.

Pengarsip Belanda F. de Haan menulis pada 1923 tentang galangan kapal VOC, “..kami mencatat proporsi bagus dari pilar-pilar kayu serambi yang bertingkat dua, seperti pula pembuatan balok dan lis kayu yang dipakai untuk membuat balustrade (langkam).”

Tahun 1998, Susilawati melakukan renovasi terhadap VOC Galangan dan kemudian mengubah peruntukkannya menjadi galeri seni, restoran, serta kafe.
Bangunan asli VOC Galangan yang dipajang di dinding restoran. Bangunan ini telah berdiri sejak 1628. (CNN Indonesia/Lesthia Kertopati)
Pemugaran selesai pada tahun 1999. Perbaikan dilakukan pada tempat yang rusak dan mempertahankan bahan bangunan asli seperti tiang kayu penyangga di tengah ruangan lantai dasar dan lantai kedua, yang merupakan elemen khas bangunan tua tersebut. Begitu juga dengan jendela jeruji yang terbuat dari besi tuang.

Bagian bangunan asli yang juga dipertahankan adalah atap. Pada salah satu balok kayu atap terdapat guratan bertuliskan angka 1628.

Adapun perbaikan yang dilakukan mencakup pembuatan pondasi dan kolom baru dari beton bertulang sebagai pengganti pondasi batu bata dan tiang kayu jati, yang tidak bisa dipertahankan lagi. Sebagian besar lantai papan pun dilepas supaya dapat diperbaiki satu per satu.

Saat pertama kali dibuka sebagai restoran, VOC Galangan sempat ramai. Bahkan menjadi destinasi utama warga Jakarta. Waktu itu, Susilawati ingin berbagi cerita bangunan yang kaya sejarah pada masyarakat luas.

Sayang, kejayaan itu tak lama. Tahun 2002 saat suami Susilawati meninggal, pamor VOC Galangan ikut meredup. Awalnya sanggup mempekerjakan ratusan karyawan, kini bisa dihitung jari.

“Dulu karyawan disini ada 130 orang, sekarang hanya tiga,” ujar Cahyadi.

Tenaga yang terbatas membuat Cahyadi dan dua orang karyawan VOC Galangan lainnya, harus rela bekerja serabutan demi mempertahankan restoran. Hal itu terlihat dari Cahyadi dan dua rekannya yang terus tergopoh-gopoh melayani pesanan. Sering kali pelayanan terlambat dan harus diulang. Variasi makanan dan minuman pun sedikit. Soal rasa, hanya lumayan. Padahal dari segi harga, untuk kafe sekelas VOC Galangan, kisaran harganya cukup murah. 
Rumah Joglo yang menjadi aksen tersendiri di Kafe VOC Galangan. Taman ini kerap disewa untuk resepsi dan pesta pribadi. (CNN Indonesia/Lesthia Kertopati)
Hal terbaik dari VOC Galangan, selain kisah sejarahnya, adalah bagian taman. Rumput menghijau dengan barisan bambu dan pohon kelapa, membuat area taman terlihat asri dan menyejukkan mata. Teras kafe yang luas menjadikan angin sepoi leluasa bertiup, menambah nyaman suasana. Tidak terdengar hiruk-pikuk lalu lintas di luar restoran. Sejenak, rasanya seperti bukan di Jakarta. 

Dia menuturkan kekayaan sejarah dan kisah-kisah masa lampau lah yang membuat kafe itu bertahan. Sayangnya itu saja tidak cukup.

Jika tak diimbangi strategi marketing, promosi serta manajemen modern, bukan tidak mungkin VOC Galangan akhirnya tergulung waktu.

(les)